Wawancara KH Mohammad Siddik dengan Tempo

448

Berdiri sejak 1967, Dewan Dakwah Islamiyah menjadi tempat berkumpul para ulama. Organisasi Islam yang didirikan oleh mantan Perdana Menteri Mohammad Natsir ini banyak memberikan kontribusi dalam perjalanan politik Indonesia. “Dewan Dakwah ini bukan organisasi politik, tetapi pengurusnya tidak boleh buta politik,” kata Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Mohammad Siddik.

Tahun ini Dewan Dakwah genap berusia setengah abad. Dewan Dakwah berdiri pada 27 Februari tahun 1967. Para pendiri Dewan Dakwah ini adalah aktivis dari organisasi Partai Masyumi yang dilahirkan pada November 1945 melalui Kongres Umat Islam. Sebelumnya ada MIAI, Majelis Islam A’la Indonesia yang mendahului. Setelah kemerdekaan, ada muktamar untuk memperbaruinya. Semua organisasi Islam hadir di situ dan ikut mendirikan Majelis Syura Muslimin Indonesia, Masyumi. Partai Masyumi berkembang sampai awal 1950-an. Ada sejarah panjang. Para pendiri Masyumi ditahan pemerintah setelah Masyumi membubarkan diri pada tahun 1960.

Menyongsong peringatan setengah abad Dewan Dakwah, Sunudyantoro dan Maya Ayu Puspitasari dari  Tempo mewawancarai Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Mohammad Siddik di kantornya di Menara Dakwah Jalan Kramat Raya 45 Jakarta, Kamis 5 Januari 2017 lalu. Mohammad Siddik menceritakan sejarah Dewan Dakwah hingga pandangan-pandangan Dewan Dakwah dalam persoalan umat Islam hari ini. Berikut kutipan wawancaranya:

Sumbangan apa selama setengah abad Dewan Dakwah berikan untuk Indonesia?
Setelah Masyumi bubar, para pendirinya di antaranya Mohammad Natsir ditahan pemerintah Orde Lama. Situasi di luar tidak aman buat para aktivis Masyumi. Setelah mereka keluar dari penjara, sebagai negarawan pendiri bangsa Indonesia, mereke berpikir tentang apa yang bisa mereka konstribusikan kepada umat Islam dan Indonesia. Pak Natsir waktu itu merasa banyak masyarakat yang belum paham betul pandangan Islam untuk kehidupan dunia. Bidang politik, sosial, ekonomi, dan sebagainya tidak bisa dipisahkan dalam ajaran Islam. Kami banyak bergerak di bidang pendidikan dan sosial. Kami memberikan sumbangan pemikiran Islam bagi Indonesia.

Bagaiman Dewan Dakwah memandang demokrasi, yang di Indonesia diakui sebagai sistem yang mengatur negara?
Dalam Islam demokrasi itu ada dua aspek. Aspek kekuasaan atau power dan aspek how to get the power. Kalau aspek kekuasaan, dalam Islam sudah pasti. Dalam Islam, the power is belong to God, the power is belong to Allah. But how you get the power, Allah mengatakan Allah mendelegasikan manusia sebagai khalifatullah, sebagai wakil Allah di bumi yang artinya memelihara bumi ini.  Muslim menjaga alam semesta, menjaga alam lingkungan, tidak boleh membakar sembarangan, tidak boleh membunuh, tidak boleh mencuri. Itu semua untuk kebaikan. Kajian moral agama-agama lain juga sama.

Kelahiran Dewan Dakwah tak lepas dari peran mantan Perdana Menteri Mohammad Natsir. Bagaimana proses kelahirannya?
Pak Natsir dan sebagian temannya mendirikan Dewan Dakwah karena melihat umat Islam ini masih perlu penguatan pemahaman nilai-nilai Islam di samping untuk ibadah kepada Allah juga ibadah kepada manusia. Sebagian teman yang lain waktu itu seperti Pak Mohammad Roem, Pak Prawoto Mangkusasmito menekuni usaha di bidang politik. Waktu itu ada usaha untuk menghidupkan kembali Partai Masyumi. Alasannya pada seminar angkatan 1966 di Bandung, para pemimpin Indonesia memberikan sinyal partai yang dibubarkan secara tidak wajar di zaman Orde Lama yaitu Partai Sosialis Indonesia dan Partai Masyumi bisa hidup kembali. Karena itu mereka berusaha untuk menghidupkan kembali. Mereka membentuk panitia tim. Tapi, jawaban pemerintah tidak jelas apa. Selanjutnya, ada sinyal tidak akan ditoleransi menghidupkan kembali Masyumi, juga PSI. Apalagi pemerintah Soeharto makin kuat.

Masyumi tak lahir kembali, lalu berdiri Parmusi…
Nah, akhirnya mereka timbul partai namanya Partai Muslimin Indonesia. Muslimin Indonesia ini menampung unsur-unsur Masyumi. Mereka mengadakan Kongresi tahun 1968 di Malang. Kebetulan saya hadir. Waktu itu muktamar menyepakai unsur Masyumi dipimpin Pak Djarnawi Hadikusumo. Sekjennya Lukman Harun. Di muktamar di Malang itu, hadir tokoh-tokoh Masyumi seperti Pak Rem, Muttaqin dari Gerakan Pemuda Islam Indonesia dan mantan Ketua GPII setelah Anwar Harjono. Muktamar memilih secara bulat Pak Roem sebagai ketua umum. Tapi, ketika mau berakhir datang pesan dari Jakarta. Alamsjah Ratuprawinegara dari sekretariat negara menyatakan tidak setuju. Mereka tidak mau memaksakan.

Dewan Dakwah menampung mantan tokoh Masyumi untuk bergerak di bidang dakwah. Mengapa memilih jalan ini?
Dewan Dakwah ini didirikan untuk memberi pemahaman kepada masyarakat nilai Islam, di samping ibadah yang berkaitan dengan akidah. Al Quran itu hanya sedikit yang membahas soal fiqih, yang banyak soal muamalah, hubungan antarmanusia. Alhamdulillah, Pak Nasir ini punya visi dakwah itu bukan hanya tabligh saja.  Sebagian orang menganggap dakwah itu hanya tabligh, ceramah. Pak Nasir memandang gerakan dakwah ini gerakan mengajak pada kebaikan. Gerakan islah, memperbaiki. Itu tercermin dari kegiatan Pak Natsir, memperbaiki kehidupan beragama, beraqidah. Di samping itu yang juga kuat adalah kegiatan di bidang muamallah. Jadi Pak Nasir mengatakan ada dakwah dengan perkataan dan dengan perbuatan nyata.

Garakan pemberdayaan umat yang digulirkan Dewan Dakwah makin memberi nilai pada kegiatan dakwah umat Islam?
Iya, membantu mendirikan lembaga sosial, pendidikan, kesehatan. Dewan Dakwah tidak ingin mencampuri bidang-bidang yang sudah dikerjakan. Sekolah terpadu waktu itu belum populer. Pak Natsir dari awal punya konsep yang jelas soal pendidikan. Bahwa pendidikan itu dalam Islam tidak ada dikotomi pendidikan umum dan pendidikan agama. Semua harus dijadikan satu karena pendidikan itu komplementer dalam Islam. Pak Nasir berinisiatif mendirikan Yarsi, Yayasan Rumah Sakit Islam di Bukit Tinggi. Sekarang itu termasuk rumah sakit besar. Ada juga di Padang, dan Padangpanjang. Pak Natsir mementingkan pembangunan kesehatan, sosial, dan pendidikan. Beliau mendirikan kader dakwah. Beliau latih ulama di Bogor. Ada pesantren namanya Darul Fallah, para da’i lahir di sana. Mereka dilatih selain ilmu agama, juga persiapan membantu pendampingan desa di pertanian, pembibitan, perikanan, dan peternakan. Ada juga Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir di Tambun yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ketika itu ada bantuan berupa satu kompleks gedung empat tingkat di Tambun dengan areal 5 hektare. Ada sekolah tinggi dakwah, ada buat anak yatim, ada SD, SMP, ada klinik, ada Balai Latihan Kerja.

Natsir adalah tokoh muslim yang sangat berpengalaman dalam hal mengorganisasi partai dan mengumpulkan tokoh-tokoh Islam. Bisa dikatakan Dewan Dakwah merupakan tempat berkumpul ulama pertama sebelum lahir Majelis Ulama Indonesia berdiri tahun 1975?
Dapat dikatakan demikian karena pada saat Dewan Dakwah didirikan, Pak Natsir mengundang banyak ulama yang dulunya Masyumi atau di luar itu. Ulama dari semua organisasi Islam. Ketika Belanda meninggalkan Indonesia tahun 1950, kita berbentuk Republik Indonesia Serikat dan memiliki 17 negara bagian. Bentuk negara kita adalah federal. Pak Natsir melihat ini potensi perpecahan yang luar biasa. Maka, Pak Natsir menghubungi para pemimpin negara bagian yang sebagian besarnya muslim. Kan sultan-sultan, sebagian besar tak ada yang mendukung kemerdekaan. Mereka ragu-ragu apa bisa RI menjalankan. Ketika itu, Sultan Yogya yang tegas-tegas ikut berjuang membantu perjuangan republik ini. Jadi alhamdulillah setelah menghubungi itu semua, dengan seizin Allah Pak Natsir berhasil meyakinkan mereka dan beliau menyampaikan mosi di parlemen yang terkenal dengan Mosi Integral M Natsir pada tahun 1950. Semua setuju membubarkan RIS dan menjadi negara Republik Indonesia.

Itu yang menjelaskan Dewan Dakwah menyatakan Republik Indonesia sebagai bentuk yang tak bisa ditawar?
Saya tekankan bahwa NKRI itu harga mati setelah urusan agama. Buat kita, NKRI tidak ada yang lain. Ini perlu saya sampaikan karena seolah-olah kita itu membahayakan NKRI karena ikut sesuatu kaya kemarin ketika berdemonstrasi pada 4 November dan 2 Desember lalu seolah-olah hendak menggoyang NKRI dan juga menggoyang Bhinneka Tunggal  Ika. Fikrah kami mewarisi garis perjuangan Pak Natsir. Di samping mewarisi fikrah, kita juga harus mengambil jalan demokrasi. Dewan Dakwah ini bukan organisasi politik, tetapi pengurusnya tidak boleh buta politik. Karena islam itu memiliki visi dan pandangan politik. Seperti memilih siapa yang dipilih.

Bagaimana Dewan Dakwah menjaga hubungan dengan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama yang telah lahir sebelumnya?
Dewan Dakwah lahir dari Masyumi dengan unsur Muhammadiyah dan juga NU. Dan di dalam Masyumi itu banyak organisasi seperti NU, Al Washlyiah, Persatuan Umat Islam yang semuanya organisasi dakwah yang cara ibadahnya mengikuti Syafi’i. Jadi di dalam Dewan Dakwah ini ada elemen-elemen yang pro pada NU dalam hal ibadahnya. Saya sering mampir di NU dan sering diajak ke kepanitiaan ICIS (International Conference of Islamic Scholar). Saya pernah silaturahmi di Pondok Pesantren NU di Tebuireng Jombang. Meskipun banyak orang Dewan Dakwah berhimpun di Partai Bulan Bintang, tapi ada juga yang di Partai Amanat Nasional dan Partai Keadilan Sejahtera.

Dulu Dewan Dakwah aktif memberikan rekomendasi untuk mengirim anak-anak muda sekolah ke luar negeri mendapatkan gelar doktor yang tak melulu di bidang agama, tapi juga di bidang lain. Bagaimana dengan sekarang?
Masih, cuma sekarang ini kan banyak yang online. Jadi masing-masing. Tapi kami masih kasih rekomendasi bahwa aplikan ini mempunyai kepentingan untuk masyarakatnya, untuk bangsanya. Kami minta janji pada mereka menjaga kehormatan yang tidak tertulis sebagai garansi. Dulu itu memang sangat intens, cuma ada satu waktu saat mereka harus menyesuaikan diri dengan peraturan mahasiswa itu hanya diterima pada umur tertentu. Jadinya sekarang berkurang.

Menjelang 50 tahun ini, kegiatan apa yang Dewan Dakwah lakukan?
Kami melihat banyak yang ketertinggalan dalam pembangunan. Terutama pada karakter, akhlak yang menurun, ditambah korupsi dan pelaku kejahatan narkoba. Kami memikirkan bagaimana menangani hal ini. Kemampuan kami terbatas. Dewan Dakwah ini organisasi swasta, lembaga swadaya masyarakat yang sudah lama tidak mendapat bantuan dari luar. Kadang-kadang ada bantuan masjid oleh orang-orang yang baik di luar negeri. Setidaknya ada 700 masjid kami bangun. Sekarang ini Alhamdulillah, sudah punya kemampuan untuk membiayai. Kami memiliki dana internal, punya aset wakaf yang menghasilkan. Kami juga mengembangkan pertanian, perkebunan karet, sawit juga, dan wakaf-wakaf yang belum produktif. Banyak kemajuan, termasuk dakwah. Kami juga memiliki banyak tantangan. Kami melihat kami ini sedang berjalan berpacu dengan orang yang berlari. Dalam peringatan setengah abad Dewan Dakwah, ada seminar, peluncuran buku tentang penyebaran gerakan Islam di Asia Tenggara khususnya di Indonesia. Kami tidak perlu membanggakan hal ini tetapi fakta mengatakan bahwa Dewan Dakwah merupakan organisasi Islam terbesar ketiga setelah NU dan Muhammadiyah.

Bagaimana Anda menyikapi isu terorisme yang kerap dikaitkan dengan Islam?
Ini suatu tragedi pemutarbalikan sejarah. Kalau kita lihat terorisme akhir-akhir ini itu kan dimulai dengan WTC, di New York. Siapa di belakang WTC? Mereka, CIA. Karena saya pernah tinggal di New York tahun 2001, saya melihat apa sebab. Ada semacam kecemburuan, umat islam berkembang begitu luar biasa, jadi mereka bagaimana merusak citra umat islam. Yang masuk Islam luar biasa banyak di seluruh Amerika dan Eropa. Bayangkan saya kasih contoh. Tahun 70 saya belajar di New York saya jalan dua jam kurang lebih dari tempat saya belajar di New Jersey, naik bus untuk sampai ke tempat salatnya di Manhattan. Sekarang ada 500-an masjid di New York. Dan begitu juga Eropa. Kalau baca majalah Times, Newsweek, The Economist, dan lain-lain mereview bahwa Islam adalah agama yang berkembang pesat di dunia selama dua dekade terkahir. Artinya mulai 1980-2000. Bertepatan permulaan abad hijrah ke-15.

Sejumlah anak muda Indonesia masuk ISIS, bahkan mereka tidak pernah berjumpa dengan perekrutnya, hanya lewat media sosial. Mengapa ini terjadi?
Dalam Revolusi Iran ada euforia. Itu satu hal. Kemudian yang kedua, adanya perasaaan semacam itu, pembantaian umat islam di Bosnia, dan Palestina. Ini menimbulkan kemarahan. Kemarahan ini dikelola oleh orang barat, oleh CIA sehingga terjadi WTC. Singkatnya asumsi secara pribadi, ada kemarahan generasi muda terhadap kelakuan yang tidak wajar kepada umat Islam sejak tahun 1980-an hingga sekarang. Ini menimbulkan sikap yang sangat marah. Orang Amerika, Inggris juga begitu. Setiap ada pertemuan-pertemuan Amerika, forum di Swiss, ada anak muda demonstrasi karena terjadi ketidakadilan di Eropa dan Amerika.

Apa kritik Anda terhadap pemerintahan sekarang?
Kami ingin melihat perubahan. Perhatian pemerintah terhadap pendidikan karakter bangsa perlu serius. Sekarang kan ada revolusi mental. Tapi tidak bisa dengan hanya suatu pegangan yang tidak jelas. Mesti harus ada pegangan yang jelas yaitu agama. Agama Islam maupun agama lain harus dilibatkan dalam hal ini. Jadi tidak bisa orang menyusun konsep tanpa pegangan. Kita sudah lihat, usaha Orde Baru menciptakan manusia-manusia baru itu gagal. Bung Karno juga mengatakan itu, pembangunan karakter tidak bisa dipisahkan dari bangunan negara. Kita terlalu terbuka, kebudayaan kita terbuka. Dari barat ke timur itu seolah Indonesia ini seperti pintu raksasa. Semua mudah masuk, termasuk semua yang jelek. Dari narkoba hingga ide macam-macam.***

siddiqSumber : https://m.tempo.co/read/news/2017/01/09/078834005/wawancara-ketua-umum-ddii-bicara-islam-negara-demokrasi