Visi Keluarga Muslim Dalam Al-Qur’an

3181

Oleh: Hasan Faruqi S.Pd.I

Visi ini berbasis Al-Qur’an. Pasti. Sebab seorang muslim menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Jika berharap keluarga bisa sakinah tanpa wahyu maka itu hayalan bukan harapan. Mungkin bisa diwujudkan tapi hanya cukup hingga batas kematian. Setelahnya tidak ada lagi kenikmatan. Sedangkan keluarga dalam pandangan seorang muslim tidak hanya menjadi sumber bahagia di dunia tapi mampu mendapatkan kebahagian itu di akhirat. Jika sudah seperti ini, maka mutlak Al-Qur’an mesti jadi tuntunan.

Dalam Al-Qur’an, ada sebuah surat yang menjadi visi keluarga muslim. Surat yang tidak lebih dari 3 ayat, yaitu surat Al-Asr. Al-Asr artinya waktu. Ada apa dengan surat Al-Asr?. Imam Ast-Syafi’i rahimahullah berkata tentang surat ini,

“قال الشافعي رحمه الله :” لوما أنزل الله حجة على خلقه إلا هذه السورة لكفتهم 

“Kalaulah Allah tidak menurunkan kepada hambaNya sebagai hujjah kecuali surat ini maka itu pun sudah cukup.” (Utsuluts Tsalatsah)

Dahsyatnya Waktu

Allah swt bersumpah dengan ‘waktu’. Menurut para ulama mufasir, jika Allah bersumpah dengan makhluknya itu menunjukan bahwa ada keutamaan pada makhluk itu. Termasuk juga ‘waktu’. Dengannya Allah menunjukan bahwa waktu begitu penting dalam kehidupan seorang manusia terlebih lagi seorang muslim. Waktu adalah modal terbesar dan paling utama bagi kehidupan seseorang sebagaimana Hasan Al-Bashri mengatakan, ‘waktu adalah modal seorang mukmin. Kerugiaannya adalah neraka dan keuntungannya adalah syurga.’ Jika dianalogikan ke dunia usaha, maka seorang pengusaha yang beruntung adalah pengusaha yang cerdas menggunakan modalnya bukan seberapa banyak modal yang disediakan. Ada pengusaha yang memiliki modal awal Rp. 200.000 tapi jangka 2 bulan bisa mencapai Rp. 2.000.000. Sebaliknya, ada pengusaha yang memiliki modal awal Rp. 2.000.000 tapi jangka 2 bulan hanya tersisa Rp. 200.000. Demikian pula hidup seseorang. Banyaknya waktu yang tersedia tidak menjadi jaminan menjadi manusia yang sukses, baik dunia maupun akhirat. Karena manusia yang sukses, dan mereka adalah orang yang beriman kepada Allah, adalah yang cerdas menggunakan waktunya untuk sesuatu yang menguntungkan bukan merugikan hidupnya. Semua manusia memiliki jatah waktu yang sama dalam satu hari. Tapi cara menyikapinyalah yang berbeda. Bisa jadi seseorang banyak waktu luang tapi akhirnya terlalaikan dan itulah kebanyakan manusia seperti sabda nabi di bawah ini,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغ.

“dua nikmat yang sering manusia lupa terhadap dua nikmat tersebut; waktu luang dan kesehatan.” (Hadits Riwayat Bukhari no. 6412)

Dalam berkeluarga, waktu menjadi modal yang sangat penting. Membangun rumah tangga atau keluarga yang sehat (harmonis) membutuhkan waktu yang cukup. Baik seorang suami, istri ataupun anggota keluarga lainnya harus punya waktu untuk bisa berkomunikasi yang baik. Sering, keluarga tidak harmonis bahkan akhirnya hancur berantakan di karenakan semuanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing tanpa ada keterikatan yang hangat dengan sesama anggota keluarga. Maka, selain waktu itu modal bagi kemaslahatan pribadi, ia juga menjadi modal yang sangat penting untuk mewujudkan keluarga yang sakinah.

Manusia itu Rugi

Hikmah selanjutnya dalam surat Al-Asr ini adalah bahwa hukum asalnya manusia hidup di dunia merugi. Kerugian ini begitu ditekankan dalam surat Al-Asr ayat ke 2. Hal ini dibuktikan dengan adanya 2 huruf taukid (penguat) dalam ayat tersebut yaitu ‘lam’ dan ‘inna’. Jika ditadaburi (direnungkan), dalam kalimat ‘fii khusrin’ Allah menggunakan secara nakiroh alias umum dan tidak tertentu. Berbeda maknanya jika ‘fil khusri’ yang makrifah. Tambahan alif lam menunjukan pada makna tertentu. Artinya, kerugian manusia itu menimpa pada seluruh aspek kehidupannya tidak ada yang terkecuali. Harta, tenaga, pikiran, profesi, dan semua yang didapatkan di dunia pasti rugi. Wallahu a’lam.

Tapi tidak berhenti sampai di situ. Di ayat terakhir ini Allah berikan istitsna (pengecualian) agar manusia selamat dari kerugian. Ada empat hal yang bisa menyelamatkan dari kerugian. bahkan barang siapa yang bisa mengamalkannya maka dia adalah orang yang beruntung dengan keuntungan yang sangat besar, demikianlah Syaikh Abdul Muhsin Al-Qasim menjelaskan dalam kitabnya Taisirul Wushul ila Tsalatsail Ushul.

Inilah Visi Keluarga Muslim

Apa empat hal itu?. Muhammad At-Tamimi dalam kitabnya Ustuluts Tsalatsah meringkas empat hal tersebut adalah ilmu, amal, dakwah dan sabar. Ini intisari dari ayat ke 3 di surat Al-Asr. Keluarga yang selamat dari kerugian adalah keluarga yang punya visi pada empat hal ini. Semua yang dimilikinya menjadi keuntungan. Bahkan keberkahan keluarga bisa di dapat jika sudah mampu mewujudkan ke-empat visi tersebut. Pertama adalah ilmu. Ilmu menjadi visi yang paling utama. Mencintai ilmu, khususnya ilmu agama, adalah gerbang untuk menjadi keluarga yang sukses. Tak ada sakinah, tak ada berkah tanpa ilmu syari’ah (Islam). Banyak orang hidup berkeluarga untuk bahagia, tapi bahagia tak kunjung tiba. Bahkan terkadang keluarga menjadi sumber masalah dalam hidupnya, maka tak heran orang yang melihatnya dan belum memasuki pintu pernikahan menjadi trauma untuk bisa hidup berumahtangga. Hal ini disebabkab karena menjalaninya tanpa bekal ilmu. Benarlah apa yang dikatakan Umar bin Abdul Aziz, ‘Barangsiapa yang beramal tanpa didasari ilmu, maka ia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.’ (Sirah wa Manaqibu Umar bin Abdul Aziz, oleh Ibnul Jauzi: 250). Tidak heran jika Rasulullah saw menjadikan syurga itu begitu dekat dengan ilmu. Sabdanya,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.”  (Hadits Riwayat Muslim no. 7028)

Keluarga surga adalah keluarga yang menjadikan ilmu sebagai imamnya.

Visi kedua adalah amal. Ilmu tak beramal bagaikan pohon tak berbuah. Ilmu tak beramal seperti buah-buahan yang hanya bisa dikagumi bentuk dan warnanya tapi tak bisa dinikmati rasanya. Maka setiap ilmu harus senantiasa bisa menghasilkan amal. Bukan hanya sampai di rak-rak buku atau di atas meja atau hanya cukup di majlis-majlis taklim tapi bagaimana ilmu tersebut cahayanya bisa sampai di rumah kita. Seperti seseorang telah mengetahui tentang hak dan kewajiban dalam rumah tangganya. Maka jika tidak diamalkan tentu tidak bisa menyelamatkannya dari kerugian, bahkan membuahkan celaan. Tak ubahnya diperjalanan, rambu-rambu sudah diketahui tapi tidak ditaati maka kemungkinan besar bisa menuai kecelakaan.

Visi ketiga adalah dakwah. Dakwah adalah kewajiban seorang muslim baik perempuan ataupun laki-laki. Lapangan dakwah tidak dibatasi oleh mimbar ceramah saja. Tapi hakikat dakwah adalah perubahan ke arah lebih baik di bawah naungan ridla Allah swt. Melalaikan kewajiban ini membuat seseorang terjatuh pada fitnah syahwat dunia. Karena di jalan dakwah seseorang dituntut untuk banyak berkorban baik harta maupun tenaga. Dan semua ini dilakukan untuk mendapat pahala dari Allah. Dakwah bisa dilakukan dalam medan yang kecil seperti di keluarga. Bahkan keberhasilan dakwah seseorang di keluarga menjadi pilar yang paling utama untuk keberhasilan dakwah di ranah yang lainnya. Ismail Razi Faruqi mengatakan, ‘keluarga adalah pilar paling utama untuk tertegaknya kekhilafahan.’ Dakwah di keluarga bisa diwujudkan dengan membinanya secara rutin dan sistematis dengan metode-metode yang variatif. Jadi, jika sebuah keluarga sudah tidak punya orientasi untuk terlibat dalam aktivitas dakwah maka hanya akan menjadi keluarga yang rugi.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِين

‘Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Terj. Qs. Fushilat, 41: 33)

Visi yang keempat adalah sabar. Ini modal utama untuk mendapatkan kemenangan dalam hidup. Kunci segala sesuatu yang tertutup adalah sabar. Jangankan untuk mendapatkan kesuksesan di akhirat, untuk urusan dunia saja perlu kesabaran. Nabi Muhammad saw bersabda; “….Sabar adalah pelita (sinar terang)…” (HR. Muslim, no.223). Maka jika hilang sabar kita hilang pelita. Jika sudah tak ada pelita maka menjadi gelap. Kalau sudah gelap, maka semuanya menjadi kacau karena tidak ada kejelasan. Demikian pula dengan hidup. Hilang sabar hanya membuat macam potensi kebaikan menjadi tak berfaidah. Maka kesabaran mutlak dibutuhkan kehadirannya untuk keluarga yang sakinah.

Wallahu a’lam.!!!

keluargaquran