Umat Islam Harus Punya Bank Wakaf

495

mat Islam sangat mampu dan harus memiliki Bank Wakaf Internasional. Demikian ditandaskan Zainulbahar Noor dalam Seminar ‘’Peluang dan Tantangan Perwakafan di Indonesia” yang diselenggarakan LAZIS (Lembaga Amil Zakat, Infak, Sedekah) Dewan Dakwah di Aula Masjid Al Furqan Dewan Dakwah Jakarta Pusat, Rabu (18/9).

Selain Zainulbahar Noor, seminar juga menghadirkan pembicara Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Mustafa Edwin Nasution, Direktur Tabung Wakaf Indonesia (TWI) Urip Budiarto, dan Direktur Lembaga Wakaf Al-Azhar Muhammad Rofiq.

Seminar dihadiri antara lain Ketua Dewan Pembina Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Prof AM Saefuddin, Ketua Dewan Dakwah KH Syuhada Bahri beserta jajaran pengurusnya, Direktur Eksekutif LAZIS Dewan Dakwah H Ade Salamun, para mitra dan donatur Dewan Dakwah, serta sejumlah amilin dari beberapa lembaga amil zakat.

Zainul memaparkan, potensi wakaf tunai terus bertumbuh seiring dengan perkembangan jumlah dan tingkat kesejahteraan umat Islam. ‘’Wakaf tidak akan berkurang, tapi terus bertambah,’’ katanya. Potensi ini bahkan mengalahkan akumulasi modal perbankan seluruh dunia.

‘’Jika potensi tersebut digali dan dikelola secara berjamaah lewat manajemen Bank Wakaf Internasional, niscaya menjadi kekuatan ekonomi dunia yang dahsyat,’’ ujar Mantan Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia.

Sebagai contoh potensi wakaf tunai di Indonesia. Mustafa Edwin Nasution kembali mengemukakan bahwa negeri ini memiliki tak kurang dari Rp 3 Trilyun/tahun potensi wakaf tunai (cash waqf).


Potensi raksasa tersebut, menurut Prof AM Saefuddin, bukan sekadar hitungan di atas kertas.

Utamanya untuk membidik segmen muslim modern dan terdidik, Muhammad Rofiq menawarkan sosialisasi wakaf dengan menggunakan pendekatan ilmu marketing. Misalnya, variasi program pendayagunaan wakaf yang ditawarkan dikemas dalam produk-produk mirip produk perbankan.

‘’Kami menawarkan produk wakaf pertokoan, wakaf apartemen, wakaf pesawat, dan sebagainya,’’ ungkap Rofiq penuh semangat.

 

Ia menyadari, penawaran itu belum lazim. Tapi, Rofiq mengingatkan, pesawat kenegaraan pertama Republik Indonesia adalah Pesawat Seulawah yang merupakan wakaf dari rakyat Nangroe Aceh Darussalam.

Direktur Eksekutif Badan Wakaf Dewan Dakwah, Ade Salamun, mengungkapkan, saat ini pihaknya tengah menggalakkan Program Wakaf Tunai untuk membangun Gedung Wakaf 5 lantai plus 1 basement di Salemba Jakarta Pusat. Selain itu, wakaf tunai juga diinvestasikan untuk membebaskan tanah seluas 104 hektar di Kabupaten Penajam, Kalimantan Timur. Sebanyak 4 hektar tanah ini sudah ditanami karet.

‘’Insya Allah, aset wakaf berupa gedung dan tanah itu tidak akan berkurang nilainya, malah bertambah. Sedangkan hasil pengusahaannya digunakan untuk membiayai program dakwah,’’ terang Ade Salamun.

Ustadz Syuhada Bahri mengajak masyarakat mendukung program wakaf Dewan Dakwah agar pembiayaan dakwah dapat bersifat mandiri. Nilai wakaf Rp 4 juta/meter persegi untuk gedung dan Rp 5,6 juta per hektar lahan karet. (nurbowo)