TEBARKAN BERKAH RAMADHAN HINGGA KE PELOSOK NEGERI

692

Subhanallah. Kemurahan hati Nabi Muhammad SAW semakin menjadi-jadi pada Bulan Ramadhan. Hal ini diceritakan oleh Ibnu Abbas ra:

“Rasulullah SAW orang paling dermawan. Beliau lebih dermawan lagi di Bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah SAW melebihi angin berhembus” (HR Bukhari no 6).

IMG-20160531-WA0019

Imam Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari menjelaskan, kedermawanan Rasul dilukiskan bagai hembusan (mursalah) angin lantaran sangat mudah dan cepat dalam memberi. Tidak banyak pertimbangan rasa dan rasio.

Bukan tanpa alasan Rasulullah SAW mengajak umatnya untuk jor-joran bersedekah di Bulan Ramadhan.
Disertai shaum dan sholat malam (tarawih), sedekah menjadi password ke surga bagi pelakunya.

“Sungguh di surga terdapat ruangan-ruangan yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar. Allah menganugerahkannya kepada orang yang berkata baik, bersedekah makanan, berpuasa, dan shalat saat kebanyakan manusia tidur” (HR At Tirmidzi no 1984, Ibnu Hibban di Al Majruhin 1/317, dihasankan Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/47, dihasankan Al Albani di Shahih At Targhib, 946).

Selain itu, Ramadhan juga memberi peluang untuk mendapatkan tambahan pahala puasa dari orang lain. Sehingga yang berpuasa pahalanya jadi ganda, sedang yang tidak berpuasa (karena berhalangan syar’i) tetap mendapat pahala puasa. Caranya adalah memberikan hidangan berbuka puasa untuk orang yang berpuasa. Rasulullah SAW berpesan: “Orang yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya” (HR At Tirmidzi no 807).

IMG-20160530-WA0012

Padahal, takjil atau hidangan pembatal puasa, istilahnya cukup berupa tiga butir kurma atau bahkan hanya segelas air. “Rasulullah SAW biasa berbuka puasa dengan beberapa ruthab (kurma basah), jika tidak ada maka dengan beberapa tamr (kurma kering), jika tidak ada maka dengan beberapa teguk air” (HR At Tirmidzi, Ahmad, Abu Daud, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi 696).

Dengan kasih sayang Allah SWT, pada bulan Ramadhan kaum muslimin lebih diringankan hati dan tangannya untuk bersedekah. Bisikan malaikat kebaikan lebih dominan ketimbang bisikan setan. Hal ini dikabarkan oleh Rasulullah SAW:

“Jika datang Bulan Ramadhan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu” (HR Bukhari no 3277, Muslim no 1079).

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku sangat senang melihat orang bertambah semangat mengulurkan tangan membantu orang lain di Bulan Ramadhan karena meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga karena manusia saat puasa sangat-sangat membutuhkan bantuan di mana mereka telah tersibukkan dengan puasa dan shalat sehingga sulit untuk mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan mereka.”

Pemerataan Berkah

Banyak orang ngalap berkah Ramadhan dengan memberikan paket takjil di masjid dan mushola. Alhamdulillah. Namun, tak jarang makanan dan minuman tersisa banyak, sehingga terpaksa ada yang dibuang karena dikhawatirkan basi. Padahal, masih banyak muslim di daerah pedalaman yang membutuhkan takjil. Karena kemiskinan, mereka makan sahur dan berbuka dengan seadanya.

13237578_1138611489545942_8491586550166282333_n

Tapi jangan khawatir. Untuk lebih memeratakan berkah Ramadhan, ada lembaga sosial yang siap membantu menyalurkan zakat dan infak hingga ke warga di pelosok negeri. Misalnya Dewan Dakwah, yang memiliki jaringan berupa ratusan dai di pedalaman Tanah Air.
Ketua Umum Dewan Dakwah, H Mohammad Siddik MA, mengungkapkan, lembaganya telah menempatkan sekitar 600 dai di pedalaman Nusantara.

13000130_1105118339561924_2024897058271577374_n

‘’Para dai itu merupakan juru dakwah kiriman angkatan pertama di era kepemimpinan Dr Mohammad Narsir hingga terbaru di era Kami,’’ kata Siddik. Ia menambahkan, para dai yang tersebar sejak Nangroe Aceh Darussalam hingga Papua dikirim dari Dewan Dakwah Pusat dan Perwakilan (Provinsi).

Kafilah Daiyah di Desa Tanjung Karang Kec Cigalontang Kab Tasikmalaya Jabar

Ratusan da’i tersebut berasal dari Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir dan Akademi Dakwah Indonesia (ADI).
Tahun ini, STID M Natsir Jakarta telah mengirim belasan da’i ke kaki Gunung Sinabung, perbatasan NTT-Timor Leste, Gombong dan Cirebon Jawa Tengah, serta di Tambun Bekasi. Sedangkan STID M Natsir Jawa Timur mengirim puluhan dai ke pelosok Blitar, Malang, Gresik, dan lain-lain.

Kafilah Dai di Desa Sukabitete Kab Belu, NTT

Selain itu, Dewan Dakwah juga mengirim dai khusus Ramadhan-Idul Fitri. Sebanyak 68 da’i mahasiswa STID Mohammad Natsir Jakarta, ditempatkan di delapan titik pedalaman yakni Badui (Banten), Tengger (Jatim), Mentawai (Sumbar), Enggano (Bengkulu), Seruyan (Kalteng), Sintang (Kalbar), Timor Tengah Selatan (NTT), dan Donggala (Sulteng).
Sedangkan hampir 50 mahasiswi STID ditempatkan di Kecamatan Cigalontang, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Kafilah dai di Desa Kletek Kec Betun Kab Malaka NTT

ADI Lampung tahun ini menempatkan puluhan dai mahasiswa di Desa Wawasan, Lampung Selatan. Sedangkan ADI Sambas di perbatasan RI-Malaysia. ADI Kupang menempatkan da’i di perbatasan RI-Timles di Kabupaten Belu dan Malaka. Adapun ADI Aceh mengirim dai mahasiswa ke desa-desa yang rentan pemurtadan akibat kemiskinan.*** LAZIS

ddii lampung