Tatang Kurnia, Da’i Dewan Da’wah Kuningan

698

Dakwah Bil Hal Sama Pentingnya dengan Dakwah Bil Lisan

Menerjuni dunia dakwah, sepertinya hal yang sangat menarik bagi dai yang satu ini. Kendati wilayah Kuningan termasuk daerah yang kurang berkembang pesat kegiatan keislamannya, namun dirinya tak pantang menyerah. Ia sangat meyakini bahwa bila ia menolong agama Allah, tentu Allah akan menolong dirinya.

Tatang Kurnia—demikian nama lengkapnya—mulai mencoba meretas jalan dakwah pada 1980. Saat itu, sebagian masyarakat kampung Muncangeulah, Kecamatan Cipicung, Kabupaten Kuningan, belum memahmai Islam secara baik. Abah, satu-satunya orang yang lulusan pesantren sudah wafat. Hal itu mendorongnya untuk belajar agama Islam secara sungguh-sungguh. Ia memutuskan untuk nyantri di pesantren yang ada di Garut selama lima tahun. Selanjutnya, ia kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah Ciputat, Jakarta.

“Orangtua sudah mewanti-wanti dari awal, apabila kelak sudah selesai nyantri atau kuliah maka semua itu haris diabdikan di kampung halaman,” ujar Ustadz Tatang saat diwawancara disela-sela kegiatan Silaturahmi dan Konsolidasi yang diselenggarakan DDII Jawa Barat beberapa waktu lalu.

     Lebih jauh Tatang menjelaskan, ia tertarik bergabung di DDII karena sewaktu kuliah di Jakarta, ia tinggal di Kramat Pulo yang terkenal dengan “Pasar Geuplak” dan tinggal di belakang Mesjid Al Furqon. Setiap Ahap pagi ia selalu mengikuti kuliah Dhuha di masjid itu.

Tatang menjelaskan pula bahwa dakwah yang dilakukannya bersama DDII di Kuningan banyak suka dukanya. Sebagai seorang Penyuluh Agama Islam di Kemenag Kuningan, ia  tahu persis kondisi masyarakat di sana. Agar masyarakat banyak tertarik dengan dakwah, ia melakukan dakwah bil hal. Ia bersama dengan Ketua DDII Kuningan, dr   Sarjono, M.Kes, yang juga direktur RS Juanda, sering mengadakan bakti sosial memberi santunan atau menyelenggarakan khitanan massal.

“Hal ini dilakukan karena umat Nasrani di sana cukup dominan. Bahkan, di daerah Cibunut, penganut non Muslim  80% dan Muslimnya hanya 20%. Apalagi pengikut Madrais memilih Nasrani,” ungkapnya.

Dia menyadari tantangan dakwah di sana cukup berat, selain daerahnya ada yang sulit dijangkau juga informasi tentang perkembangan Islam terkadang terlambat masuk. Tak mengherankan jika umat Islam di sana sangat lambat dalam mengakses informasi keislaman. Meskipun begitu, Tatang mengakui bahwa sebenarnya hal itu bukanlah hambatan yang berarti dalam berdakwah.

Saat ini, para pegiat dakwah di Kuningan sangat membutuhkan sarana transportasi yang memadai untuk mencapai daerah terpencil. Menurutnya, tidak mungkin kalau harus mengandalkan jalan kaki karena membutuhkan waktu yang relatif lama. Untuk itu, ia mengharapkan para donatur bisa memberikan bantuan alat transportasi untuk menyokong para kader dakwah di Kuningan dalam menggapai daerah terpencil. ***(D.RUSPIYANDY)