Rusyad Nurdin, Natsir dan Dewan Dakwah

331

Oleh: Mursin MK

Putra Minangkabau ternyata banyak yang menjadi tokoh dan teladan di Kota Bandung Jawa Barat. Diantara mereka M. Natsir, Isa Anshari dan Rusyad Nurdin. Yang menarik, ketiganya sama sama dibesarkan di Persatuan Islam (Persis), aktifis Partai Politik Islam Masyumi, dan menjadi Anggota Konstituante.

Natsir di lembaga Pendidikan Islam (Pendis) Bandung. Dia pernah aktif dalam Pemuda Persis. Jika Isa Anshari pernah menjadi Ketua Umum Pusat Pimpinan Persis, Rusyad hanya sebagai wakil ketua PP Persis di zaman sesudah kepemimpinan Isa. Namun karena ada masalah organisasi Rusyad tidak aktif dalam Persis. Hingga akhir hayatnya dia lebih memggeluti Dewan Da’wah perwakilan Jawa Barat di Bandung.

Keterlibatan Rusyad di Dewan Da’wah tidak terlepas dari peran gurunya Natsir. Sebab Natsir salah satu pendiri Dewan Dawah dan sekaligus sebagai Ketua Umumnya yang pertama sejak tahun 1967. Untuk memperluas jaringan Dewan Dawah di daerah Natsir memintanya aktif di dalamnya. Sejak itulah Rusyad memimpin dan menggerakkan Dewan Da’wah di Jawa Barat dan Banten. Setelah Banten pisah, maka wilayah kerjanya hanya Jawa Barat saja.

Kantor Dewan Dawah yang digunakan Rusyad adalah bekas gedung markas Masyuni Jawa Barat. Gedung itu bukan hanya menjadi kantor Dewan Da’wah tapi juga Wanita Islam dan Pelajar Islam Indonesia (PII). Namun karena keterlibatannya di Yayasan Istiqamah maka dia lebih banyak berkantor di Masjid Istiqamah. Dari masjid ini, dibantu sekretarisnya yang enerzik, Daud Gunawan, dia menggerakkan Dewan Da’wah perwakilan Jawa Barat.

Beberapa keberhasilannya dalam memimpin Dewan Da’wah Jabar antara lain: 1. Menerbitkan majalah da’wah dalam Bahasa Sunda “Bina Dawah”. 2. Membentuk Dewan Da’wah di daerah Kabupaten dan Kota se Jawa Barat dan Banten. 3. Menyelenggarakan daurah duaat. 4. Melakukan pembinaan da’wah ke daerah daerah se Jabar. 5. Menempatkan tenaga da’i di daerah daerah terpencil di Jabar. 6. Membantu pembangunan masjid bantuan Dewan Da’wah pusat. 7. Melayani masjid, organisasi, ta’lim, instansi dan kampus kampus dalam pembinaan da’wah. 8. Aktif dalam mengantisipasi aliran sesat dan pemurtadan. 9. Menjalin kerja sama dawah dengan organisasi Islam yang lain. 10. Melakukan kaderisasi da’wah dan kepemimpinan ummat.

Karena keaktifan dan konsistensinya dalam dawah maka Dewan Da’wah disegani kawan dan lawan. Meskipun Dewan Da’wah hanya Yayasan namun organisasi dawah yang lain menghormatinya. Bahkan pejabat sipil dan militer juga menghormatinya. Bukan hanya kaum tua melainkan juga generasi muda dan mahasiswa yang mengagumi dawahnya.

Sikap Rusyad dalam memimpin Dewan Da’wah juga sedemikian bijak dan santun. Siapa saja yang datang dan membutuhkan bantuan Dewan Dawah akan dilayani dengan baik tanpa dibeda bedakan. Itulah sebabnya kader kader muda dawah sedemikian mengidolakan dan menjadikannya mentor. Corps Mubaligh Bandung (CMB) tempat berkumpulnya da’i da’i muda senantiasa berkonsultasi dan meminta binbingannya.

Bila jamaah meminta Rusyad mengisi dawah maka dipenuhinya. Yang penting jadwalnya tidak benturan. Karena itu jadwalnya cukup padat dalam mengisi taklim, kajian dan khutbah. Apalagi jika yang memintanya perwakilan Dewan Da’wah Kabupaten dan Kota di Jabar tidak segan segan memenuhi dan mengunjunginya sekalipun lokasinya jauh.

Pernah satu kali Dewan Da’wah Banten mengundangnya ke Serang. Rusyad yang sudah berusia senja dan bertongkat tetap datang bersama Daud Gunawan dan pengurus lainnya. Dari Dewan Da’wah Pusat diutus Lukman Hakim dan Muhsin MK. Meskipun keadaan fisiknya sudah renta namun semangatnya tetap tinggi. Pesan pesan dawahnya sedemikian menyentuh. Disampaikan dengan suara khas berwibawa dan logika yang menarik. Siapapun menyimak dengan seksama dan serius.

Patah tumbuh hilang berganti. Esa hilang dua terbilang. Setalah Rusyad wafat kepemimpinan dilanjutkan oleh kader kader setianya. Dewan Da’wah Jabar tetap bergerak dan beraktifitas walau semangat dan tantangannya berbeda.*** (MK.26.9.17)

m.natsir-dan-m.rusyad