Rawan Pemurtadan, Warga Surakarta Kembali Tegaskan Tolak RS Siloam

912

Kami warga Surakarta tetap menolak Siloam, walaupun itu ijinnya rumah sakit, tidak ada Hotel, tidak ada pendidikan, kami tetap menolak itu” protes Muhammad Syafei salah satu tokoh ormas Islam, pada audiensi dengan anggota Dewan di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Solo Jl. Adi Sucipto 143A, Karangasem, Laweyan, Solo, jum’at (2/9/2016).

Syafei menilai jika pernyataan Teguh Prakosa, Ketua DPRD akan pasang badan terhadap pembangunan RS Siloam apabila didalamnya ada pembangunan Hotel dan pendidikan, hal ini merupakan jebakan. Menurutnya umat Islam Solo tetap akan menolak Siloam dengan atau tanpa adanya Hotel maupun Pendidikan.

“Jadi jangan sampai salah, kita terjebak, ijinnya nanti rumah sakit tok, tidak ada Hotel, tidak ada Pendidikan. Yang kedua, sudah ada penolakan semacam ini kalau dilanjutkan pasti akan terjadi keresahan. Kalau anggotan Dewan menginginkan keresahan seperti ini silahkan dilanjutkan” ujarnya.

Syafei mengharapkan ada dukungan anggota Dewan untuk ikut bersama umat Islam menolak RS Siloam. Baginya Siloam ada manfaatnya namun madhorotnya jauh lebih besar, Siloam akan melanggengkan pemurtadan dan misi Kristenisasi pada masyarakat Solo.

“Sekali lagi saya pertegas, biar semua mendengar, media elektronik, media cetak  silahkan disikapi dengan seksama. Kalau Surakarta menghendaki aman tertib terkendali, jangan dilanjutkan (Pembangunan Siloam), karena ada penolakan” tegasnya.

Jangan paksa umat Islam Solo untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang justru merugikan kita bersama. Kita semua cinta Surakarta, namun marilah saling menghormati. Jangan dipaksakan kalau memang memaksakan kami juga bisa memaksakan kehendak. Maka kita tolak Siloam apapun yang terjadi.

Dalam aksi tersebut, Sekjen Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) Ustaz Tengku Azhar membacakan Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi dan Walikota Solo. Termasuk pernyataan sikap DSKS dan warga kota Solo Menolak RS Siloam berdiri di kota Solo.
“Setelah mencermati aspirasi warga Kratonan, kami DSKS menolak RS Siloam di kota Solo jalan Honggowongso 137 dan 139 Rt 05/05. Pada tahap sosialisasi, pemerintah mengabaikan semua tokoh masyarakat dibuktikan beberapa ketua RT dan RW keberatan dengan pembangunan RS Siloam” kata Tengku.
Mereka menilai Walikota lebih memproses ijin dan aspirasi investor asing daripada memikirkan aspirasi warga Kratonan. Sedang proyek pembangunan RS Siloam memakan waktu 32 bulan, dipastikan akan mengganggu kegiatan belajar di sekolah terdekat.
“Semoga dengan aksi kami Presiden Jokowi dan Walikota peka terhadap kegelisahan sosial, mengerti perasaan warga, membela nasib wong cilik” ucap dia.
Surat Terbuka tersebut akan ditembuskan pada Panglima TNI, Kapolri, Mentri Kesehatan RI dan Ketua DPRD Solo.
Sementara itu, H.Muhammad Rofi’i warga Kratonan yang berdampak atas pembangunan RS Siloam menyampaikan aspirasinya didepan peserta aksi. “Saya sebagai warga Kratonan, menolak dengan tegas pembangunan RS Siloam” ujarnya.
Selain itu, Ustaz Suro Wijoyo Amir Jama’ah Ansharusy Syari’ah (JAS) Jateng, Ustaz Aris munandar Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) Solo, Ustaz Boni Azwar Ketua Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Klaten, turut berorasi sebelum mereka menemui anggota DPRD Solo, diruang rapat.
Setelah selesai menyampaikan aspirasinya, peserta aksi konvoi menuju tanah kosong Jl. Honggowongso tempat rencana pembangunan RS Siloam untuk memasang spanduk penolakan yang telah dibawa. ***
sumber :panjimas/suara-islam
warga-kratonan-Solo-tolak-Blok-Siloam