Proses Taqarrub Ilallah

3264

DEWANDAKWAHJABAR.COM– Ada kebahagiaan yang tak mampu disandingkan dengan ke mewahan duniawi, yaitu kedekatan kepada Allah. Selalu merasa dekat, merasa diawasi, hingga apapun yang kita lakukan menjadi terkontrol dan memiliki nilai positif di pandangan Allah Ta’alaa. Jika kita terkadang merasa diabaikan manakala sulit mencari telinga yang mampu menampung segala resah dan masalah yang sedang dialami, maka sesungguhnya telinga Allah akan selalu ada dan setia setiap saat mendengar keluh kesah hambaNya. Karena fitrah manusia adalah berkeluh kesah dan sebaik-baik berkeluh kesah hanyalah pada Allah. Allah yang tak akan pernah bosan men- dengarkan hambaNya yang meminta sebanyak apapun. Firman Allah Ta’alaa, “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan” (Q.S Al-Fatihah [1]: 5)

Allah tempat Memohon
Allah adalah tempat meminta segala sesuatu. Allah justru akan benci kepada hamba-Nya yang tak pernah meminta, karena merupakan hamba yang sombong. Karena sejatinya manusia tak mampu berbuat apa-apa melainkan karena kekuatan dari Allah. Jika doa kita kita tak langsung dikabulkan, baiknya adalah selalu berprasangka baik. Bisa jadi doa tersebut tak baik untuk kita atau belum saatnya atau mungkin disimpan untuk di akhirat kelak dan berbuah pahala.
Senantiasa yakinlah akan diterimanya segala permohon- an kita karena Allah begitu dekat dengan kita. Allah U berfirman, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.S Al-Baqarah, [2]: 186)
Ayat di atas menjelaskan kedekatan Allah dengan hamba-Nya merupakan kedekatan yang sinergis, kedekatan yang aplikatif, tidak kedekatan yang hampa dan kosong, karena kedekatan ini terkait erat dengan doa dan amal shalih yang ditunjukkan oleh seorang hamba setiap harinya. Ungkapan lembut Allah “Sesungguhnya Aku dekat” merupakan komitmen Allah untuk senantiasa dekat dengan hamba-Nya, kapanpun dan dimanapun mereka berada. Terlebih hamba-Nya me- lakukan pendekatan yang lebih intens dengan berbagai amal keshalihan yang mendekatkan diri mereka lebih dekat dengan Rabbnya.
Dalam sebuah hadits Qudsi Allah memberikan jaminan bagi hamba-hamba-Nya yang mendekatkan dirinya (Taqarrub) kepada Allah: “Aku berada dalam sangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya bila ia berdoa kepada-Ku. Tidaklah hambaKu mendekat kepada Ku sejengkal melainkan Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Tidaklah hambaKu mendekat kepadaKu sehasta melainkan Aku akan men- dekat kepadanya sedepa. Tidaklah hambaKu mendekat kepadaKu dengan berjalan melainkan Aku akan men dekat kepadanya dengan berlari”. (Muttafaqun alaih)
Hadits ini memotivasi kita untuk selalu bersegera mendekatkan diri kepada Allah Ta’alaa. Bagaimanapun cara kita mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah akan meresponnya dengan cara yang lebih baik yang dilakukan hamba-hamba-Nya. Ketika hamba-Nya berdoa dan bermohon kepada-Nya, maka dengan cara yang tidak disangka-sangka hamba-Nya, doa dan permohonanya dikabulkan oleh Allah.
Begitu pula kasih sayang Allah begitu terasa, walaupun ketika kita dalam keadaan sulit sekalipun. Karena Allah tak inginkan kita lemah jika hanya memberikan kita kesenangan dan kemudahan dan Allah tak inginkan kita terus menerus berurai airmata tanpa diselingi kebahagiaan yang menerbitkan rasa syukur.

Kebahagiaan yang Dekat
Tak perlu jauh-jauh mencari sebuah kebahagiaan, tak perlu risau dengan kesulitan. Tak perlu biaya mahal untuk mendekati-Nya, tak perlu jauh-jauh mencari-Nya. Karena Allah ada di hati orang-orang yang beriman. Asalkan keyakinan tumbuh di dalam hati, keyakinan akan apa yang diberikan Allah adalah yang terbaik dan akan ada hikmah setelahnya, maka apapun yang terjadi bisa disyukuri. Bila sekarang kita mengalami kondisi yang kurang baik atau dengan kata lain sedang dalam ujian, yakinlah bahwa setelah kesulitan ada kemudahan.
Allah tidak semata-mata memberikan kesulitan tanpa adanya pelajaran dan janji peningkatan derajat bagi mereka yang mampu melalui nya dengan sabar dan tawakkal. Sesuai dengan firman Allah Ta’alaa, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan,kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.Dan beritakanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucap kan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (Q.S. Al-Baqarah [2]:155-156)

Proses Taqarrub Ilallah
Kedekatan kita kepada  Allah tidak muncul tiba-tiba, tapi ada prosesnya, seperti sepasang pengantin baru yang saling mencintai. Pada awalnya mereka tak saling mengenal, apalagi timbul sebuah rasa. Namun karena intensitas pertemuan yang makin tinggi dari waktu ke waktu sehingga menimbulkan rasa kasih dan sayang. Pertemuan -pertemuan tersebut me- nimbulkan pemahaman dan pengenalan terhadap diri masing-masing. Rasa kasih sayang yang timbul lambat laun menimbulkan rasa cinta, tatkala kekasihnya meminta sesuatu darinya maka tak akan sanggup dia untuk menolak permintaannya. Begitupun dengan Allah.
Allah tak akan melekat dalam hati jika kita tak ingin mengenalNya. Dengan belajar mengenal Allah, melalui shalat, membaca Al-Qur’an, menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya, maka Allah akan dekat kepada kita. Apapun yang kita minta selama itu baik untuk kita, Allah tak akan segan untuk memberinya. Jikalau Allah memberikan sesuatu yang tidak kita sukai, yakinlah bahwasannya apa yang kita suka belum tentu yang terbaik untuk kita dan apa yang Allah berikan adalah yang terbaik yang kita butuhkan. Jadi, bahagia itu adalah dekatnya kita dengan Sang Pencipta, bukan yang lain. Ketentraman itu akan muncul melebihi segala kenikmatan duniawi. Kesulitan pun menjadi indah tatkala Allah menjadi tumpuannya. Sungguh, hanya dengan mengingat Allah Ta’alaa hati akan menjadi tenang.
Harta kekayaan dan anak keturunan bukanlah jaminan untuk dapat mendekatkan diri kepada Allah Ta’alaa, tapi keimanan dan amal shalehlah yang dapat mendekatkan diri seorang hamba kepada Allah Ta’alaa.Wallahu ‘alam wal musta’an. *** ( Ahmad Royani, MA)

source :  http://ddiijakarta.or.id/index.php/buletin/april2012/251-allah-itu-dekat.html

(AS)