Published On: Tue, Nov 13th, 2012

PROGRAM QURBAN LAZIS DEWAN DA’WAH DI MENTAWAI

Share This
Tags

Dewandakwahjabar.com — ’Jawi (sapi) nya mana,’’ tanya LAZIS Dewan Da’wah setiba di Kampung Sarausau, Desa Kathurei, Kec Siberut Barat Daya, Mentawai, Sumbar, Kamis sore 25 Oktober 2012.

‘’Ada, insya Allah besok sudah siap dipotong,’’ jawab Awal Dzul Islah, da’i muda asal desa setempat. ‘’Mana?’’ ‘’Di pulau seberang.’’

Masya Allah. Ternyata sapi qurban persembahan dari Keluarga Yulian Anwar, warga Perumahan Bukit Pamulang Indah, Tangerang Selatan, itu musti diangkut memakai boat kayu menyeberangi teluk.

Kurang dari limabelas menit naik boat, sampailah di pulau yang dituju. Di sana, si sapi putih tampak dikurung dalam kandang bambu. Di sekitarnya, banyak berkeliaran babi piaraan penduduk non-Muslim Sarausau. Ada bilik-bilik yang dihuni penunggu ternak babi.

Sapi lalu dibetot enam orang, diringkus, diikat, dinaikkan boat, dan dibawa ke desa. Satu jam kemudian, barulah sapi stand by di halaman Masjid Al Hidayah Sarausau.

Esoknya, selepas sholat Idul Adha, jawi itu disembelih di halaman masjid. Dagingnya dibagikan secara merata kepada 48 keluarga muslim setempat.

Selain di Sarausau, Program Qurban Multimanfaat LAZIS Dewan Da’wah juga menjangkau Desa Saliguma (Siberut Tengah) dan Tubeket (Sikakap).

Di Saliguma, sapi baru tertangkap jelang waktu ashar. Pemotongan dilakukan esok harinya, lantaran pantia sudah kelelahan menangkap sapi di hutan selama sepekan terakhir berturut-turut.

Memotong qurban di Mentawai agak rumit. Butuh rencana A, B, dan C. Sebab, jarak Mentawai-Padang sekitar 10 jam perjalanan naik kapal laut (besi atau kayu). Sepekan, kapal hanya 2 kali trip, dari Padang hari Senin dan Kamis.

Kemudian jarak antar-desa di Mentawai berjauhan dan sulit diakses, kecuali lewat sungai atau laut. Di musim hujan seperti saat ini, ombak laut cukup ganas. Biayanya lumayan mahal, karena harga premium Rp 10 ribu/liter sedangkan bensin campur Rp 11.000/liter.

Dan, hanya sebagian kecil (ibukota kecamatan) wilayah Kepulauan Mentawai yang sudah ada listrik dan sinyal ponsel. Selebihnya, gelap gulita dan blank spot.

Entah mengapa, orang Mentawai kurang berselera terhadap daging kambing. Mereka hanya mau memotong qurban jawi. Sedangkan jawi di sini, umumnya jawi liar yang dibiarkan hidup menggelandang di hutan. Tidak seperti babi yang dikandangkan.

Sebagaimana umumnya orang pedalaman, budaya penduduk asli Mentawai penuh ketidakpastian. Misalnya tentang jarak antar lokasi, jam (waktu), dan janji. Buat mereka, hal-hal seperti itu make it easy saja.

Meski ribet dan mahal, kurban di pelosok-pelosok semacam itu sangat penting karena mendukung kerja dakwah para da’i yang ditempatkan Dewan Da’wah di sana.

Selain itu, kurban jawi juga sebagai syiar untuk mengonsumsi daging halal. Sebab, dari 10 desa yang dibina da’i Dewan Da’wah di Mentawai, baru Sarausau yang sudah steril dari babi. Warga di 9 desa lainnya masih beternak babi, dan memakannya saat ada pesta adat.

Misi yang sama juga menjadi pertimbangan distribusi Qurban Multimanfaat ke Pulau Nias, Tanah Karo Sumut, Sulawesi Utara, pelosok NTT, dan lainnya. **bowo/dewandakwah.com

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>