Potret Sahabat Nabi di Ramadhan Suci.

580

Perang BadarRamadhan adalah bulan berkah, demikian sabda nabi. Keberkahan ini tak sebatas pada kenimatan ibadah pribadi tapi keberkahan yang berbuah kejayaan dan kemenangan Islam dan kaum muslimin. Karena pada bulan ini telah terjadi beberapa peperangan yang ikuti oleh para sahabt nabi dan meraih kemenangan pada pihak kaum muslimin sekaligus sebagai titik tolak kebangkitan Islam. Tentu masih banyak peristiwa yang bisa direkam dari perjalanan para sahabat nabi di bulan Ramadhan tapi setidaknya peristiwa peperangan mereka di bulan tersebut menjadi hal yang menonjol dari sekian banyak kejadian yang mereka lalui.

Ahmad bin Abdullah As Sulamiy dalam bukunya Akhta’ Syaa’iah wa’ taqadat baathilah bi syahri ramadhan wa zakatil fitri wal ‘idain merangkum peperangan atau peristiwa besar yang pernah terjadi di bulan Ramadhan :

  • Perang badar kubra pada tahun kedua hijriyah. Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfuri menjelaskan dalam buku Sirah Nabi-nya, bahwa jumlah kaum muslimin pada waktu itu hanya 314 orang dan kaum musyrikin berjumlah 1000 pasukan.
  • Perang Uhud pada tahun ketiga hijriyah. Pasukan kaum muslimin berjumlah 1000 orang, 100 orang mengenakan baju perang dan 50 orang pasukan berkuda. Namun dipertengahan jalan tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin Salul kembali bersama 300 orang yang lainnya karena keengganan untuk ikut dalam perang dengan memberikan berbagai macama alasan sehingga jumlah yang ada menjadi 700 pasukan. Sedangkan kaum musyrikin berhasil mengumpulkan 3000 pasukan dari suku Quraisy dan sekutu-sekutunya, sementara itu hewan tunggangan yang tersedia berjumlah 3000 unta dan 200 kuda ditambah 700 baju besi. Dalam perang Uhud ini di antara sahabat yang syahid adalah Mush’ab bin Umair dan Hamzah bin Abdulmuthalib.
  • Perang Khandaq atau Ahzab pada tahun kelima hijriyah. Pasukan Qurasiy berjumlah 4000 pasukan, belum terhitung jumlah pasukan dari suku Ghatafan dan sekutu-sekutunya dari arah yang berlainan sedangkan pasukan kaum muslimin berjumlah 3000 pasukan.
  • Fathu Makkah pada tahun kedelapan hijriyah. Terjadi tepatnya pada tanggal 10 Ramadhan, Rasulullah keluar dari Madinah menuju Mekkah bersama 10.000 orang sahabatnya. Pada saat itu ada 360 berhala di dalam ka’bah yang dihancurkan oleh beliau.
  • Perang tabuk pada tahun kesembilan hijriyah. Perang ini terjadi ketika musim paceklik, hasil pertanian tidak panen. Maka sahabat Utsman bin Affan telah menyiapkan rombongan dagang dengan 100 unta lengkap dengan muatannya dan 200 keping perak ditambah dengan serribu dinar emas diserahkan kepada Nabi. Tapi ia tidak berhenti bershodaqoh sehingga mencapai 900 unta dan 100 kuda selain uang. Tak ketinggalan pula dengan sahabat Abdurrahman bin Auf, ia menginfaqkan sebanyak 200 keping perak. Umar bin Khattab menyerahkan setangah hartanya, bahkan Abu Bakar menginfaqkan seluruh hartanya yang bejumlah 4000 dirham. Demikian juga dengan sahabat yang lainnya seperti Thalhah, Sa’ad bin Ubadah dan Muhammad bin Maslamah semua membawa hartanya, subhanallah…., radhiyallahu anhum ajma’in!  
  • Pada tahun kesepuluh hijriyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Ali bin Abi Thalib dengan pasukan perang ke daerah Yaman.
  • Juga pada bulan Ramadhan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghancurkan berhala terbesar seperti Laata dan ‘Uzza

Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para sahabatnya melewati sembilan kali Ramadhan semasa hidupnya. Mereka sadar bahwa puasa itu bukanlah hanya sekedar sabar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga harus sabar melawan hawa nafsu dan musuh saat berperang.

Peperangan itu pun menjadi bukti yang nyata bahwa para sahabat nabi sangat memiliki kontribusi yang sangat besar pada kejayaan dan kemenangan Islam sehingga agama ini tersebar ke seluruh dunia. Belum lagi jika kita hitung dengan peperangan-peperangan yang dilakukan di luar bulan ramadhan, sungguh menakjubkan. Maka tak heran jika Allah azza wa jalla menempatkan  para sahabat ini pada kedudukan yang mulia, sebagaimana firman-Nya,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”.  QS. At-Taubah, 9: 100

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud”. QS. Al-Fath, 48: 29

Setelah Allah subhanahu wa ta’ala memuliakan para sahabat nabi, beliau kemudian melarang umatnya untuk mencela mereka. Beliau bersabda:


لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

‘Janganlah kalian mencaci maki para sahabatku! Janganlah kalian mencaci maki para sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku ditangan-Nya, seandainya seseorang menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka ia tidak akan dapat menandingi satu mud atau setengahnya dari apa yang telah diinfakkan para sahabatku.’ HR. Muttafaqun ‘Alaih; Al-Bukhari no.3673 dan Muslim no.2541

Namun kehidupan para sahabat yang mulia ini tak lepas dari celaan orang-orang yang memiliki penyakit hati alias nifaq dan para fuqaha (ulama ahli fiqih) menyebutnya dengan istilah zindiq. Bahkan celaan itu tak hanya berbentuk pengungkapan pada sifat-sifat jelek manusiawi mereka tapi sampai pada tahap takfir ailas pengkafiran, wal iyadzubillah. Memang tidak dipungkiri, bahwa mereka juga manusia yang bukan ma’shum, tapi kemudian mengomentari kekurangan mereka dalam beragama bahkan menyudutkannya adalah hal lain yang terlarang dalam syariat, sebagaimana sabda nabi di atas.

Demikian pula para ulama salaf (terdahulu) berijma’ tentang kemulian sahabat nabi dalam Islam, berikut perkataan-perkataan mereka:

Imam Ahmad: “Jika kamu mendapati seseorang yang berkomentar buruk tentang sahabat, maka ragukanlah keislamannya”.

Abu Zur’ah: “Jika kamu melihat seseorang yang mencela salah seorang sahabat Rasulullah, ketahuilah bahwa dia adalah seorang zindiq (munafiq yang terang-terangan menampakan kemunafikannya)”.

Imam Malik: “Barang siapa yang mencela sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia tidak punya nama atau bagian dalam Islam”.

Imam An-Nawawi: “Semua sahabat adalah orang yang adil, baik yang terlibat dalam kancah fitnah ataupun yang tidak. Ini berdasarkan kesepakatan para ulama yang dapat diperhitungkan”

Ibnu Hajar Al-Asqalani: “ Ahlussunnah telah sepakat untuk menyatakan bahwa semua sahabat adalah adil. Tidak ada orang yang menyelisihi dalam hal itu melainkan orang-orang yang menyimpang dari kalangan ahli bid’ah”

Bermula dari firman Allah, sabda nabi lalu perkataan para ulama ada kesimpulan yang mesti menjadi keyakinan kaum muslimin, bahwa mencela sahabat (nabi) menyebabkan seseorang tersesat. Sedangkan mencintai mereka adalah jalan yang selamat. Wallahu a’lam.***

Oleh : Hasan Al-Faruqi