Pesan KH M Rusyad Nurdin : “Kaderisasi Kepemimpinan Harus Berjalan Terus”

943

Dalam keadaan bagaimana pun, kaderisasi kepemimpinan harus berjalan terus, paling tidak supaya manusia menjadi pemimpin bagi diri masing-masing

Tausiyah yang disampaikan oleh KH.M. Rusyad Nurdin,  pada sebuah acara Simposium Nasional Gerakan Muda Islam, pada Agustus 1996 lalu tersebut tentu saja layak menjadi perhatian kita hingga kini.

Kita semua merasa betapa pentingnya mempersiapkan Generasi Penerus, yang akan melanjutkan kepemimpinan ummat menuju masyarakat yang aman, adil, makmur dan sentosa di bawah lindungan Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT Pencipta alam semesta.

Menurut beliau sebenarnya pengkaderan sudah berjalan sejak lama di mulai, baik oleh pemerintah maupun swasta dan sekarang masih berjalan dengan dana yang tidak sedikit, tetapi ternyata cita-cita yang mulia ini belum juga kunjung tiba.

Masa Keprihatinan Kita bersyukur kepada Allah SWT, setelah  sekian lamanya mengenyam kemerdekaan telah banyak yang kita capai, tetapi baru bersifat lahiriyah. Dari segi rohaniyah kita sangat jauh ketinggalan, malahan terus menukik turun dengan sangat tajam.

Berikut materi selengkapnya yang disampaikan dalam acara tersebut :

Kita semua merasa betapa pentingnya mempersiapkan Generasi Penerus, yang akan melanjutkan kepemimpinan ummat menuju masyarakat yang aman, adil, makmur dan sentosa di bawah lindungan Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT Pencipta alam semesta.

Sebenarnya pengkaderan sudah berjalan sejak lama di mulai, baik oleh pemerintah maupun swasta dan sekarang masih berjalan dengan dana yang tidak sedikit, tetapi ternyata cita-cita yang mulia ini belum juga kunjung tiba.

Masa Keprihatinan Kita bersyukur kepada Allah SWT, setelah 51 tahun lamanya mengenyam kemerdekaan telah banyak yang kita capai, tetapi baru bersifat lahiriyah. Dari segi rohaniyah kita sangat jauh ketinggalan, malahan terus menukik turun dengan sangat tajam.

Ketua MPR/DPR Wahono menge-mukakan : “Akhir-akhir ini kita menyaksikan ciri nyata dari budaya kemunafikan yang melanda sebagian masyarakat, ter-masuk lapisan kepemimpinannya, yaitu tidak satunya kata dan perbuatan. Gejala primordialisme intelektual juga sudah mulai tampak. Objektivitas dan ketajaman pandangan serta kepekaan rasa kepedulian sosial sudah menipis”.

Ketua MPR/DPR Wahono menge-mukakan : “Akhir-akhir ini kita menyaksikan ciri nyata dari budaya kemunafikan yang melanda sebagian masyarakat, ter-masuk lapisan kepemimpinannya, yaitu tidak satunya kata dan perbuatan. Gejala primordialisme intelektual juga sudah mulai tampak. Objektivitas dan ketajaman pandangan serta kepekaan rasa kepedulian sosial sudah menipis”.

Selanjutnya Wahono menegaskan :
“Perlunya tanggapan sungguh-sungguh dan rasa tanggung jawab terhadap konsolidasi semangat dan wawasan dalam menghadapi kemungkinan situasi yang tidak kondusif untuk pelaksanaan siklus kepemimpinan nasional yang akan datang”. (Kompas, 22/7/96)

Mari kita dengar pula keputusan Seminar Lembaga Pertahanan Nasional yang diadakan oleh Kursus Reguler ke-17 pada akhir tahun 1984, sbb :

1. Bangsa Indonesia sekarang ini mem-perlihatkan kecenderungan mengagungkan harta. Memperhambakan diri kepadanya!
2. Bangsa Indonesia sekarang ini cenderung melakukan manipulasi. Berbuat curang, tidak jujur, menyalah gunakan kekuasaan serta mengkhianati amanat!
3. Bangsa Indonesia sekarang ini cenderung kepada fragmentasi. Manusia tidak dihormati lagi sebagai “pribadi yang utuh”, tetapi hanya karena profesi, pangkat, kekayaan, dlsb!
4. Bangsa Indonesia sekarang ini cenderung kepada individualisasi. Mementingkan diri sendiri sehingga merugikan bangsa dan negara.

Apakah ini yang disebut “cinta tanah air dan bangsa”?

Dimana-mana kita lihat suasana yang amat mencemaskan. Dengan tidak ragu-ragu dengan darah dingin, jauh dari kemanusiaan, orang-orang berbuat sewenang-wenang; mengorbankan urusan, milik, nyawa dan kehormatan orang lain untuk kepuasan pribadi, hanya sekedar memenuhi keinginan nafsu rendah, yang tidak pernah puas-puasnya.

Presiden Suharto menganjurkan kita mengentaskan kemiskinan, tetapi kita berbuat sebaliknya. Tindakan kita, perlakuan kita menyebabkan rakyat menjadi bertambah miskin, hidup dalam kesengsaraan dan duka nestapa. Belum lagi kita berbicara tentang kehidupan remaja dlsb.

Semua perbuatan yang tercela itu ber-tentangan dengan UUD 45, bertentangan dengan Pancasila, apalagi dengan Agama.

Apa sebabnya semua itu bisa terjadi?

Pertama, Kelemahan Iman.
Seorang pujangga Rusia yang mempunyai rasa kemanusiaan yang sangat tinggi, yaitu Leo Tolstoy dalam bukunya “The Law of Love and The Law of Violence” berkata : “Pokok utama dari buruknya organisasi sosial kita ialah keimanan yang palsu (kemunafikan)”. (The principal cause of our bad social organization is false belief).

Kita tidak memahami, kita tidak meng-hayati arti Ketuhanan Yang Maha Esa yang tercantum dalam UUD 45. Dan tidak pula berusaha untuk memahami menghayatinya. Maka tenggelamlah kita dalam kehidupan sekuler (Laa Diniyah).

Kedua, Godaan Setan
Dalam sebuah hadits Rasulullah saw menggambarkan bahwa setan mengetahui betul kelemahan kita (manusia), yaitu penyakit : Hubbuddun-ya (terlalu cinta kepada dunia/harta).

Maka dengan mudah setan dapat mem-perdaya manusia dengan jalan ; supaya manusia mendapatkan harta dengan jalan yang tidak halal (korupsi, kolusi, dlsb), supaya manusia membelanjakan hartanya di jalan yang haram, supaya manusia menahan (tidak mengeluarkan) hartanya dengan cara yang tidak benar.

Selanjutnya Rasulullah saw bersabda :
“Semua kejahatan dari sinilah sumbernya”. (HR. Abu Umamah)

Bagaimana pengaruh Hubbuddun-ya terhadap manusia?

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw ber-tanya kepada para sahabat : “Manusia macam mana kalian, kalau Persia dan Romawi dapat kita kalahkan?” Menguasai kedua negara itu artinya akan mendapatkan harta yang tidak terbilang jumlahnya.

Abdurrahman bin Auf menjawab : “Kita akan tetap sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT”. Lalu Rasulullah saw bersabda : “Atau sebaliknya” :

Maksud Rasulullah, kalau ummat Islam telah menguasai kedua negara itu dan harta kekayaan terhampar dihadapan mereka, maka mereka tidak lagi sebagaimana yang diperintahkan Allah, tetapi akan timbul dikalangan mereka, persaingan yang tidak sehat, setelah itu berdengki-dengkian, kemudian meningkat lagi, mereka saling membelakangi dan selanjutnya saling membenci (bermusuhan), lalu disusul oleh tekanan terhadap orang-orang miskin dikalangan Muhajirin dan akhirnya mereka jadikan sebagian menguasai dan menindas bagian yang lainnya. (HR. Muslim).

Kejadian yang digambarkan oleh Rasulullah saw ini, itulah yang “meng-hiasi” sejarah ummat manusia sepanjang masa. Berebut kekuasaan dengan segala akibatnya! Sekali pun negaranya berdasarkan demokrasi.

“Kalau 51 orang menguasai 49 yang lain-nya (dan ini hanya secara teori, sebab sebenarnya diantara yang 51 orang itu ada 10 atau 12 orang yang merupakan pe-mimpinnya) dan itulah keadilan dan itulah kemerdekaan!” Leo Tolstoy.
(When fifty-one dominate forty-one (and this only theoritically, for in reality, among these fifty-one there are ten or twelve masters), then it is justise, then it is liberty!)

“Dapatkah orang menggambarkan (memikirkan) sesuatu yang lebih menggelikan dan lebih tidak masuk akal dari pada pemikiran yang demikian itu? Leo Tolstoy. (Could one imagine anything more ridiculous, more absurd than thin reasoning?).

Itulah permainan dunia, permainan manusia, karena tidak memahami dan menghayati Ketuhanan Yang Maha Esa.

Ketiga, Lupa diri.
Allah SWT berfirman :
“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Dia menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri; mereka adalah orang-orang fasik” (QS. Al-Hasyr : 19)

Orang fasik ialah orang yang masih ke-kanak-kanakan, akalnya belum berfungsi untuk yang baik-baik dan pandangannya belum sempurna, sehingga tidak dapat menempatkan diri ditempat yang pantas.

Seorang ahli pendidikan, berkebangsaan Belanda, Jan Lighhart berkata : “Kita adalah anak-anak yang usianya sudah lanjut” (Wij Zijn groot geworden kinderen)

Umur sudah lanjut, bermacam-macam ilmu menumpuk di kepala, tetapi perangai masih seperti anak-anak, mengganggu, merusak, menyakiti hati orang lain. Ini mungkin yang dimaksud Ketua MPR/DPR Wahono dengan : Primordialisme Intelektual !

Jadi yang dimaksud dengan “fasik” dalam Islam ialah orang yang lupa diri, sehingga dapat bertindak di luar batas-batas ke-manusiaan. Dan apabila dia berbuat jahat, dia “tidak kehilangan akal” untuk membela perbuatan jahatnya.

Akal manusia sering menjadi budak nafsu pembangkit maksiat; dia akan berusaha sekuat tenaga untuk membenarkan perbuatan jahatnya” Leo Tolstoy (Reason is frequetly the slave of sin; it strives to justify it”).

Allah SWT berfirman :
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak yakin kepada akhirat, Kami perlihatkan kepada mereka amal-amal jahat mereka itu sebagai amal yang indah; oleh karena itu mereka senantiasa mengembara dalam kesesatan” (QS. An-Naml : 4)

Orang-orang yang demikian itu melihat amal-amalnya yang tidak baik sebagai sesuatu yang indah, seperti melihat kuburan yang megah, tetapi mereka lupa, di dalamnya terdapat sisa-sisa tubuh manusia yang sudah membusuk. Bukankah manusia dinilai dari segi akhlaqnya, dari segi rohaniyahnya?

Ada pepatah dalam bahasa Arab :
“Beri perhatian kepada rohanimu, dan sempurnakan segala keutamaannya. Kamu dinamakan insan karena rohanimu, buka karena jasadmu”.

Dan dalam sebuah hadits Rasulullah saw menyatakan bahwa : “Allah tidak melihat wajah-wajahmu, tetapi melihat hati-hatimu!” (Al-Hadits)

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam),
ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan)
manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu” (QS. Al – Baqarah : 8 – 10)

Kalau kita benar-benar ingin hidup dalam suatu masyarakat, dimana tiap orang mendapat perlakuan yang adil sesuai dengan hak asasinya, maka jalan untuk itu sudah ada.

Imam Malik berkata :
“Tidak akan selamat urusan ummat ini, kecuali dengan apa yang telah me-nyelamatkannya di masa lampau”

Masyarakat jahiliyah, dimana Nabi Muhammad saw dilahirkan, keadaannya lebih buruk jika dibandingkan dengan keadaan kita sekarang ini. Dengan kesungguhan dan kerja keras serta pengorbanan yang luar biasa, beliau berhasil memperbaikinya dan lahirlah manusia-manusia baru yang dikenal :

“Kamu adalah sebaik-baik ummat yang ditampilkan ke tengah-tengah masyarakat; (karena) kamu menyeru manusia berbuat baik dan melarang mereka berbuat jahat, (sebab) kamu beriman kepada Allah” (QS. Ali Imran : 110)

Mereka adalah pribadi-pribadi muslim, orang-orang yang berkualitas tinggi dengan akhlaq luhur. Memang tugas Muhammad saw adalah membina akhlaq sebagaimana sabdanya :

“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia” (Al-Hadits)

Dan yang dimaksud dengan akhlaq itu ialah :
“Sikap hidup seorang mu’min yang mencerminkan ajaran Islam dalam segala aspek kehidupan sebagai tanda bakti (ibadah) dari seorang makhluk terhadap khaliknya”

Waktu ‘Aisyah ditanya tentang akhlaq Rasulullah saw, dijawabnya :
“Akhlaqnya adalah Al-Qur’an” (Al-Hadits)

Seluruh ajaran Al-Qur’an terutama dalam sikap hidup, tercermin dalam dirinya, seolah-olah dia merupakan Al-Qur’an itu sendiri. Hampir demikian pula dengan para sahabatnya dari Abu Bakar, Umar bin Khatab sampai kepada lapisan yang rendah seperti Bilal dan ibunya Hamamah, keluarga Amar bin Yasir. Seluruh pengikut-pengikutnya memperlihatkan keyakinan (’aqidah) yang sangat kuat, sekalipun mereka disiksa dengan cara di luar batas kemanusiaan oleh tuan-tuan mereka selagi masih menjadi budak.

Satu hal yang sangat indah dalam kehidupan Rasulullah saw ialah : Satu kata dan perbuatan.

Waktu ummat Islam menguasai Makkah, ‘Abbas paman Nabi meminta kepadanya supaya diberi jabatan mengurus Ka’bah dan mengurus air untuk para jama’ah. Nabi yakin, bahwa pamannya itu akan men-jalankan tugasnya itu dengan ikhlas tetapi Nabi menolaknya dengan kata : “Kami tidak akan menyerahkan urusan kami (ummat) kepada orang yang memintanya” (Al-Hadits)

Meminta, apalagi memperebutkan soal kepemimpinan adalah sangat tercela dalam Islam, merupakan ‘aib, perbuatan rendah. Dalam Islam tidak ada nepotisme, mendahulukan sanak saudara untuk jabatan-jabatan penting dengan tidak mengindahkan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Sebab sabda Nabi saw, bahwa apabila seseorang diberi tugas yang tidak dikuasainya, maka tunggu kehancurannya.

Ada pepatah dalam bahasa Arab : “Kematian seekor ikan dimulai dari kepalanya”. Pepatah ini mengandung pengertian yang sama dengan pepatah latin : “Corruption optimi pessima” (Korupsi pihak tertinggi adalah yang terburuk). Karenanya untuk menahan kerusakan yang lebih parah, menurut Sayyed Hossein Nasr : “Harus dimulai dari kepala ikan, dari ajaran-ajaran spiritual dan intelektual yang menyimpang” (Mukjizat Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang Iptek hal 19). Jadi segala disiplin dalam bentuk apapun harus dimulai dari atas.

Ada lagi yang sangat indah dalam Islam, yaitu sabda Nabi Muhammad saw yang berbunyi : “Tiap orang dari kalian adalah pemimpin dan akan ditanya nanti (oleh Allah) tentang pimpinannya”

Bunyi hadits inilah yang mendorong ummat Islam di zaman Rasulullah saw ber-lomba untuk membenahi diri menjadi pemimpin. Pemimpin dalam arti yang luas, pemimpin negara, pemimpin rumah tangga seperti suami, isteri, malahan pembantu rumah tangga dlsb. Tiap orang ingin menjadi pemimpin yang terbaik dihadapan Allah SWT. Dengan manusia-manusia yang berkualitas semacam inilah lahir suatu masyarakat yang paling indah, yang diberikan oleh sejarah kepada kita (The best that history can give us).

Akhirnya masyarakat yang sangat sederhana ini lahirlah satu negara dengan perlengkapan yang sangat sempurna di mana tiap warga mendapat perlakuan dan perlindungan yang sangat manusiawi dengan tidak membeda-bedakan antara satu dengan yang lain.

Dalam hal ini P.J. Nehru, seorang pemimpin India yang sangat terkenal, ia ber-kata : “Agama yang diajarkan oleh Muhammad menarik perhatian orang-orang di negeri tetangganya, kesederhana-an dan ketegasannya, karena keindahan demokrasinya dan rasa persamaannya” (The religion preached by Mohammad by its simplicity and directness and its flavour of masses in the neighbouring countries. – Glimpses of world history).

Satu Ilustrasi :
Waktu Aly bin Abi Thalib menjadi Amirul Mu’minin, dia berurusan dengan seorang warga negara, orang Yahudi, soal baju besi kepunyaan Aly yang dicuri oleh orang Yahudi itu.

Dalam persidangan Aly tidak dapat menunjukkan bukti dan tidak pula dapat mengemukakan dua orang saksi.

Dengan penuh kepercayaan diri, Suraih, hakim yang memeriksa perkara tersebut memukulkan palu sebagai tanda keputusan hakim bahwa baju besi itu tetap menjadi milik orang Yahudi. Tidak seorang pun dapat dijatuhi hukuman kalau tidak dapat dibuktikan kesalahannya. Apa sebab Suraih begitu berani memutuskan perkara itu sehingga Aly berada dipihak yang kalah, padahal dia diangkat oleh Aly untuk tugas tersebut! Inilah ‘aqidah. Tidak ada yang ditakuti kecuali Allah dan inilah kewibawaan seorang hakim.

Dan bagaimana sikap Aly mendengar keputusan tersebut? Dengan tenang Aly berkata : “Sami’na wa atha’na!” Dengan wajah yang tidak berubah sedikitpun. Inilah pemimpin!

Melihat keputusan hakim dan melihat wajah Amirul Mu’minin yang tetap tenang, orang Yahudi itu merasa terharu. Dia tinggal di negara Islam, dibawah kekuasaan Pemerintahan Islam, tetapi dia merasa hak asasinya dihormati, dia merasa betapa indahnya kemerdekaan. Dan “Kemerdekaan tidak akan ada tanpa keadilan”.

Akhirnya orang Yahudi mengakui kesalahannya dan bersedia untuk menerima hukuman betapa pun beratnya.

Sudah tentu Aly bin Abi Thalib merasa bersyukur, karena alangkah besar dosa seseorang yang menuduh orang yang tidak bersalah. Karena gembiranya melihat situasi yang mengharukan itu, baju besi itu dihadiahkan oleh Aly kepada orang Yahudi untuk menyatakan kebersihan hati, agar seorang kepala negara tetap berhubungan baik dengan rakyat dan seorang muslim tetap menganggap orang yang tidak se-agama adalah saudaranya.

“Manusia dan manusia itu adalah saudara, apakah cinta ataukah benci” (Al-Hadits)

Apa yang terjadi selanjutnya lebih mengharukan lagi. Setelah orang Yahudi menerima baju besi sebagai hadiah dari Aly, dia sangat terharu dengan berlinang air mata, lalu memeluk Aly. Suasana hening, tetapi ada sesuatu yang pasti dirasakan oleh tiap orang yang hadir, yaitu : kebenaran dan rasa kasih sayang sangat kuat daya tariknya.

Akhirnya dengan suara yang penuh kepercayaan diri, orang Yahudi itu berkata : “Saksikanlah Tuan Hakim dan semua hadirin : Ashadu alla ilaaha illallah wa ashadu anna muhammadar rasulullah”. Dia mengucapkan dua kalimat syahadat. Dia masuk Islam. Allahu Akbar.

Demikian suasana dalam masyarakat Islam yang dibina oleh Nabi Muhammad saw utusan Allah SWT. Tiap warga hidup dalam suasana yang aman. Tidak ada kesenjangan sosial. Tidak ada gejolak sosial! Sifat keadilan menghiasi tiap-tiap dada muslim, terutama dikalangan pemimpin-pemimpin. Benar kata pepatah : “Tidak ada kemerdekaan tanpa keadilan”.

Dalam suasana yang demikian, pemerintah tidak perlu memeras tenaga dan pikiran me-ngeluarkan dana yang tidak sedikit, me-ngumpulkan petugas-petugas keamanan untuk meredakan gejolak sosial. Efisiensi!

Inilah contoh dari hasil usaha Rasulullah saw dalam kaderisasi kepemimpinan ummat, yaitu dengan jalan membina akhlaqul karimah. Dan ini hanya bisa dicapai melalui ishlahul ‘aqidah, menanamkan keyakinan dalam dada tiap-tiap muslim tentang kekuasaan Allah SWT dan keyakinan alam akhirat. Timbullah suatu idealisme, siap berkorban untuk menegak-kan kalimat tauhid, supaya terpelihara ke-satuan dan persatuan bangsa dalam arti kata yang sesungguhnya.

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang
menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna” (QS. Al – Maun : 1 – 7)

Cita-cita untuk mewujudkan masyarakat Islam di bumi Indonesia, pernah di-perjuangkan oleh fraksi-fraksi Islam dalam konstituante (1957-1959). Usaha ini memang tidak berlebihan, karena paling sedikit 80% penduduk Indonesia adalah beragama Islam.

Dalam pikiran orang banyak, negara Islam itu adalah theokrasi, dimana para ulama yang memegang kekuasaan sebagai wakil Tuhan di bumi. Disamping itu tidak ada satu negara Islam pun yang dapat dijadikan contoh seperti di zaman Rasulullah saw.

Orang-orang terkemuka di barat, yang berhati jujur, ambilah misalnya George Bernard Shaw pernah berkata : “Kalau sekiranya ada agama yang mendapat kesempatan untuk memerintah Inggris (dengan baik), malahan seluruh Eropa dalam abad-abad yang akan datang, maka itu hanya Islam. Saya telah mempelajari riwayat orang yang sangat mengagumkan itu dan menurut pendapat saya dia bukanlah seorang anti-Kristen, tetapi dia harus dianggap sebagai seorang yang membawa keselamatan bagi seluruh ummat manusia”.

Ketua Partai Masyumi, Mohammad Natsir menjelaskan dalam Sidang Konsti-tuante tentang negara yang berdasarkan Islam, sebagai berikut : “Theokrasi adalah sistim kenegaraan dimana pemerintahan dikuasai oleh satu preisthood (sistem kependetaan) yang mempunyai hierarchie (bertingkat-tingkat) dan menjalankan yang demikian itu sebagai wakil Tuhan di bumi. Dalam Islam tidak ada preisthood semacam itu. Jadi negara yang berdasar-kan Islam bukanlah Theokrasi. Dan kalau-lah orang hendak memberi nama juga, maka dapatlah disebut Theistic Democracy”.

Untuk memberikan penjelasan tentang Theistic Democracy yang dimaksud, Mohammad Natsir sengaja mensitir ucapan Alexis de Tocqueville (bukan muslim) sebagai berikut : “ Kekuasaan yang tidak terbatas, pada hakekatnya adalah satu hal yang buruk dan berbahaya. Manusia tidak berdaya untuk men-jalankannya dengan teliti dan bijaksana. Hanya Tuhan Yang Maha Kuasa-lah, karena hikmah dan keadilan-Nya senantiasa seimbang dengan kekuasaan-Nya, tetapi tidaklah ada satu pun ke-kuasaan di dunia ini yang demikian berhak atas penghormatan atas ketaatan yang khidmat kepada hak-hak yang diwakil-Nya, sehingga saya dapat menerima kekuasaan-Nya dengan tidak dikendalikan di atas segala lapangan. Jika saya melihat, bahwa hak dan kekuasaan penuh itu diberi-kan kepada satu rakyat atau pun kepada se-orang raja, kepada satu aristokrasi atau pun satu demokrasi, kepada satu kerajaan atau pun satu republik, disitulah saya melihat benih tirani. Dan pergilah saya terus kepada negara yang lebih memberi harapan”. (Dasar Negara Republik Indonesia dalam Konstituante).

Theistic Democracy mungkin dapat kita jelaskan dengan Demokrasi Ketuhanan, dimana kita dalam menjalankan tugas sebagai hamba Allah dimuka bumi ini, tetap merasakan kehadiran-Nya dalam diri kita sebagai Pengawas dari segala apa yang kita perbuat.

Aly bin Abi Thalib dengan isterinya Fatimah serta kedua anaknya (Hasan dan Husein), pada suatu ketika waktu akan ber-buka puasa didatangi oleh seorang miskin, seorang anak yatim, dan seorang tawanan, mereka meminta dikasihani dan bantuan makanan untuk menghilangkan rasa lapar yang menyiksa mereka. Aly dan keluarga memberikan makanan yang ada (beberapa potong roti) untuk berbuka puasa, kepada ketiga orang tadi itu. Dan mereka berbuka hanya dengan air saja, tetapi mereka merasa berbahagia dan bersyukur dapat membantu orang yang dalam kesulitan. Kejadian ini diabadikan dalam Al-Qur’an, yang artinya :

“Mereka memberikan makanan yang mereka cintai (butuhkan) kepada seorang miskin, seorang anak yatim dan seorang tawanan. Kami tidak memberikan makanan itu kepada kalian, kecuali mengharapkan ridha Allah dan kami tidak mengharapkan dari kalian balasan, dan juga tidak ucapan terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (dihari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan”. (QS. Al-Insan : 8-10).

Nafsu yang berada dalam diri mereka, tidak akan rela memberikan makanan itu, apalagi mereka sangat membutuhkan untuk berbuka puasa, tetapi ‘aqidah mereka/ keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa akhirnya merelakan makanan tersebut untuk orang-orang yang membutuhkannya. Demikianlah pengaruh Iman dalam dada tiap-tiap muslim.

Inilah Theistic Democracy, Demokrasi Ketuhanan. Dalam soal keduniaan sabda Nabi, kalian lebih mengetahui, silahkan urus! Kecuali yang telah dilarang oleh Allah SWT dan garis-garis pokok yang telah ditentukan dalam Al-Qur’an. Semua itu adalah untuk keselamatan ummat manusia disini (dunia) dan di akhirat nanti. Suatu ketika semua ummat manusia akan berhadapan dengan Allah SWT di alam akhirat dengan segala kebaikannya dan segala kejahatannya. Dan tidak seorang pun akan lepas dari pengadilan Allah SWT.

“Sesungguhnya manusia itu dalam ke-adaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, yang saling menasehati dalam soal-soal kebenaran dan saling menasehati dalam soal-soal kesabaran”. (QS. Al-Ashr : 1-3)

Oleh KH.M. Rusyad Nurdin, materi disampaikan pada acara Simposium Nasional Gerakan Muda Islam, tgl 25 s/d 27 Agustus 1996, di Jakarta. ***amresobri/dewandakwahjabar.com