Pentingnya Visi Dalam Keluarga Muslim

1502

Oleh: Hasan Faruqi S.Pd.I

Sebagaimana layaknya sebuah organisasi, memiliki visi merupakan suatu hal yang mesti ada dalam sebuah keluarga. Namun sering sekali hal penting ini terlewatkan dalam bingkai kehidupan keluarga muslim. Padahal banyak ayat dalam al-Qur’an yang sudah Allah tetapkan agar menjadi visi sebuah keluarga. Ketika ditanya ‘apa visi keluarga anda’, maka sering sekali sebagian kita menjawab dengan datar, ‘yah….jadi keluarga sakinah’. Jawaban itu terlontar begitu saja hanya karena seringnya orang mengatakan tentang keluarga sakinah, bukan karena benar-benar paham tentang konsep tersebut. Bahkan Tak ada ayat tak ada hadits yang bisa dijadikan sandaran, yang penting adalah ingin jadi keluarga baik. Kalau sekedar jadi keluarga baik, tenang atau bahagia di dunia tanpa wahyu yang menjadi landasan, lalu apa yang menjadi kebanggaan kita sebagai seorang muslim ?. Maka selain pentingnya sebuah visi dalam keluarga, visi yang berbasis wahyu alias al-Qur’an sama pentingnya agar keberhasilan tidak hanya dinikmati di dunia tapi sekaligus di akhirat nanti.

Tiga Hikmah Miliki Visi

Secara sederhana visi itu adalah apa yang ingin kita wujudkan. Berbeda dengan misi, kalau misi apa yang harus kita lakukan. Sekurang-kurang ada tiga hikmah kenapa sebuah keluarga harus memiliki visi.

Pertama, aktivitasnya lebih terarah. Menjalankan kehidupan berkeluarga itu banyak modal yang mesti dikeluarkan. Dari mulai waktu, tenaga, perasaan dan yang pasti adalah harta. Jika modal ini tidak dialirkan dengan fokus maka yang terjadi adalah tabdzir (penyia-nyiaan). ‘yah, yang penting hidup itu mengalir saja, tidak usah neko-neko’, begitu biasanya ungkapan mereka yang tidak punya visi yang jelas. Sebenarnya tidak ada masalah dengan ungkapan tersebut. Tapi pertanyaan selanjutnya adalah ‘bermuara ke mana aliran tersebut ?’. Sebab hidup tidak kosong dari jebakan musuh, musuh abadi yaitu syetan. Allah azza wa jalla berfirman,

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” Terj. QS. Fathir, 35: 6

Syetan senantiasa menyesatkan manusia dengan berbagai macam jebakan-jebakan yang tidak diketahui oleh kebanyakan hamba Allah. Syetan tidak rido jika ada manusia yang taat pada aturan atau hukum Allah. Tak ada kata menyerah, selama ruh masih menempel pada jasad maka ia tidak akan berhenti menggoda. . Bahkan syetan memiliki tugas khusus untuk merusak tatanan keluarga. Coba perhatikan hadits berikut ini,

Dari Jabir, Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya iblis singgasananya berada di atas laut. Dia mengutus para pasukannya. Setan yang paling dekat kedudukannya adalah yang paling besar godaannya. Di antara mereka ada yang melapor, ‘Saya telah melakukan godaan ini.’ Iblis berkomentar, ‘Kamu belum melakukan apa-apa.’ Datang yang lain melaporkan, ‘Saya menggoda seseorang, sehingga ketika saya meninggalkannya, dia telah bepisah (talak) dengan istrinya.’ Kemudian iblis mengajaknya untuk duduk di dekatnya dan berkata, ‘Sebaik-baik setan adalah kamu.’” (HR. Muslim 2813).

Kedua, Sebagai alat untuk menselaraskan perbedaan. Berkeluarga atau berumah tangga itu tidak sendiri. Minimal ada 2 orang yang saling berdampingan yaitu suami dan istri. Setiap orang punya nilai perbedaan masing-masing. Bagaimana tidak, karena secara fisik ataupun psikis antara perempuan dengan laki-laki jelas berbeda. Maka tak heran jika cara berpikirnya pun berbeda. Kalau sudah seperti ini, hasilnya pun pasti beda. Belum lagi ditambah dengan kultur, pendidikan, pola pengasuhan yang didapatkan semenjak kecil berbeda. Tentu ini menambah semakin banyak perbedaan. Tapi semua ini tidak mesti harus dicela, dicibir apalagi dihindari. Baca firman Allah yang satu ini,

“Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat.” Terj. QS. Al-Furqan, 25: 20

Selama masih dalam koridor syar’i maka perbedaan itu justru menjadi indah. Syaratnya adalah memiliki kuncinya. Dan di antara kunci itu adalah menghadirkan sebuah visi bersama. Tanpa sebuah visi, sering sekali perbedaan itu menjadi pemantik dalam menghidupkan api pertengkaran dan konflik keluarga. Bahkan terkadang bukan hal yang sangat prinsipil pun. Sehingga terkadang sampai kepada perceraian suami dan istri atau konflik yang berkepanjangan bersama si buah hati. Atau kalaupun tidak bercerai, kehidupan di keluarga menjadi sesuatu yang ‘kering’. Orang sunda bilang ‘awet rajet’. Alih-alih menjadi sumber motivasi dan inspirasi bahkan menjadi sumber masalah dalam hidup. Tidak sedikit keluarga yang mengalami seperti ini.

Memiliki visi seperti sebuah perekat kehidupan dari puzle-puzle perbedaan yang dimiliki oleh semua anggota keluarga. Seperti sebuah pelebur dari keegoan yang sudah dibawa oleh semua penghuni di rumah tangga. Coba perhatikan pakaian yang indah, biasanya tidak satu warna dan satu model. Enak di pandang karena perbedaan yang ada pada pakaian itu diseleraskan dengan modelnya yang bagus. Demikian pula dalam berkeluarga.

Ketiga, Menghidupkan harapan. Harapanlah yang membuat petani menanam, guru mengajar, da’i berdakwah, buruh bekerja, pengusaha berbisnis dan orangtua mendidik. Tanpa harapan, semuanya tidak berjalan. Harapanlah yang memotivasi seseorang untuk bergerak dan berbuat. Maka memiliki harapan adalah sesuatu yang mesti ada bagi mereka yang mau berhasil. Harapan itu lahir dari sebuah visi. Tak ada visi, tak ada harapan. Bervisilah, maka harapan itu hadir. Sering sekali harapan itu membuat seseorang lebih bertahan menanggung kesulitan. Semakin jelas visinya, maka bahan bakar kesabaran semakin banyak. Semakin siap untuk hadapi banyak tantangan dan rintangan.

Dalam keluarga. Banyak sekali potensi untuk konflik. Sederhana saja, kamar tidur bisa jadi masalah. Dari mulai jenis dan warnanya. Lalu juga posisinya. Itu baru urusan yang kecil, belum lagi urusan2 yang besar. Pekerjaan suami, tanggungjawab istri, sekolah anak-anak, kendaraan di rumah dan yang lainnya. Tapi semua itu bisa diminimalisir dengan visi yang jelas. Wallahu a’lam. ***

Penulis : Sekretaris Dewan Da’wah Kab. Bandung / Ketua PAS Jabar.

visikeluarga