Pemda Kabupaten Garut dukung Program “Da’I Datang Desa Rindang”

449

dewandakwahgarut1

KH. Syuhada Bahri : “Program Kehutanan Harus dibingkai dengan Program Keimanan”

Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia bekerjasa dengan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Garut, Jawa Barat menyerahkan 3000 bibit pohon dengan jenis gamelina,  akasia mangium dan Suren kepada petani di Desa Sukakarya Kec. Samarang Kab. Garut, Selasa, 13 Mei 2014.

Pemda Garut memberikan dukungan dan apresiasi penuh terhadap kegiatan yang merupakan rangkaian program “Da’I Datang Des Rindang” LAZIS Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia tersebut.

“Pemda Garut memberikan apresiasi dan penghargaan yang sebesar-besarnya dengan adanya program ini, karena bagi saya program ini menjadi ide yang bagus bagi saya dengan nama program “da’i datang desa rindang” dan akan menjadi program Pemda Garut.” Demikian disampaikan oleh Bupati Garut, Rudi Gunawan dalam sambutannya pada kegiatan yang juga dihadiri Ketua Umum Dewan Da’wah Pusat, KH. Syuhada Bahri, Pengurus Dewan Da’wah Jawa Barat, Pengurus Dewan Da’wah Kabupaten Garut tersebut.

Menurut Bupati Garut, masalah lingkungan bukan hanya masalah penegakan hukum tetapi menjadi isu kemanusiaan. Maka kebersamaan para ulama/ustadz bersama petani dan masyarakat sangat diperlukan.

Bupati menjelaskan, Garut akan melakukan gerakan penyelamatan air secara besar-besaran, dan gerakan yang menyentuh yaitu gerakan penanaman pohon dengan nama program “Da’i Datang Desa Rindang” kerjasama dengan Dewan Da’wah.

“Idealnya Garut memiliki pohon sebanyak lebih dari 2 milyar pohon, karena secara teori ada hitung-hitungannya, yaitu kalau Garut sekarang memiliki jumlah penduduk 2,5 juta maka setiap individu harus mendapatkan 100 pohon untuk menghasilkan oksigen”, paparnya.

KH. Syuhada Bahri, Membingkai Program Kehutanan dengan Program Keimanan

Ditempat yang sama, Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia menjelaskan bahwa Program “Da’I Datang Desa Rindang” digulirkan pertama kali pada tahun 2012 lalu, antara Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia dengan Kementerian Kehutanan RI dengan penandangangan MoU kerjasama penanaman pohon.

Program ini dilatarbelakangi dua hal kekhawatiran, yang pertama kekhawatiran dari kementerian kehutanan yaitu kekeringan karena tanaman/pepohonannya semakin berkurang, hal ini bukan hanya melanda Indonesia tapi juga di dunia. Suhu udara meningkat, kutub utara dan selatan terus mencair maka air akan naik.

Kekhawatiran yang kedua adalah semakin keringnya keimanan manusia dalam kehidupan kita sekarang ini. Menurut Ust. Syuhada “soal kehutanan, itu soal pak Menteri”, tapi “soal ketuhanan, itu soal Dewan Da’wah”.  Karena hal itulah lahir gagasan program “Da’i datang desa rindang” diharapkan yang hijau itu bukan hanya lingkungannya tapi hatinya juga ikut hijau. Yang ada sekarang adalah keserakahan hati manusianya karena tidak memikirkan lingkungan hidupnya hanya memikirkan dirinya sendiri. Karena nafsu manusia itulah yang menyebabkan kesengsaraan masyarakat banyak.

Akibat kekeringan aqidah yang melanda kehidupan kita sekarang ini, Indonesia disibukkan oleh kasus saat ini yang ramai dibicarkan adalah pelanggaran seksual terhadap anak-anak, tapi belum ada yang berpikir secara strategi, tentang pangkal penyebabnya. Padahal pangkalnya adalah keringnya hati manusia dari keimanan dan aqidah yang benar.  Karena itu Dewan Da’wah mengambil langkah bahwa setiap penanaman itu harus disertai Da’i untuk menghidupkan kegiatan majlis ta’limnya, dengan harapan hati petaninya diisi dengan keimanan agar tidak menjual pohon itu sebelum waktunya.

Program kehutanan dan ketuhanan ini harus menjadi padu, sebab kalau tidak dibingkai dengan keimanan asal sudah bisa menjadi uang, jual. Tapi kalau dibingkai dengan keimanan, dia tidak akan cepat-cepat menjual, dia akan menunggu sampai harganya betul-betul tinggi. Karena mental bangsa kita ini sudah amburadul, yang bisa membenahi dan memperbaiki mental itu, ketika sudah berhasil menanam keimanan ke dalam  hati manusia. Karena itu, saya sangat berharap para bapak yang sudah menerima pohon tadi, nanti bisa berhimpun dalam satu wadah pengajian, karena kalau saat ini hanya membagikan benih pohon sebanyak 3.000 bibit, padahal dari kementerian kehutanan sudah menyediakan berapapun dan apapun jenis pohonnya akan disiapkan untuk Dewan Da’wah. Kedepan bukan hanya tujuh orang tadi, bahkan setiap warga yang memiliki tanah akan mendapatkan bibit pohon yang sama untuk ditanam.

Kemudian, saya berharap kepada Dewan Da’wah Kab. Garut program ini menjadi yang pertama dan berkelanjutan serta konsentrasi kepada warga yang mendapatkan bibit pohon itu berhak mendapatkan pengajian secara rutin agar dia bisa “menda’wahi pohonnya”, sehingga dia bisa menyayangi dan merawat pohon tersebut. Inilah yang manjadi pokok dari da’wah itu sendiri baik kepada binatang, pepohanan apalagi kepada manusia. Kalau kita melihat orang yang tidak baik, jangan tiba-tiba memarahi dia, seharusnya disentuh dengan kasih sayang.

“Da’i yang harus menanamkan keimanan kepada hati masyarakatnya. Jangan sampai, hanya menanam pohon saja, tapi juga menanam keimanan sehingga sejahtera lahir dan batin.” Pesan ust. Syuhada Bahri diakhir sambutannya. ***(Dani/Amre)