Nilai Syahwat

578

Romadhon telah pergi. Yang rindu dan yang acuh pun tidak dapat menghalangi. Waktu telah beralih ke Syawwal, dan akan terus berganti untuk menyelesaikan bulan lainnya. Meskipun telah berlalu, keberadaan semangat dan hasil Romadhon tidak boleh diabaikan. Ia harus tetap dimiliki dan dijaga. Seorang ulama mengatakan: “Kun robbäniyyan, wa lä takun romadhöniyyan” (Jadilah engkau seorang robbani bukan romadhoni). Tetap pertahankan jiwa dan aktifitas sebagai hamba Allah, jangan hanya semangat dan giat di bulan Romadhon saja.

Shaum Romadhon diadakan untuk meraih takwa. Satu diantara ciri takwa adalah mampu mengendalikan syahwat. Allah subhänahu wa ta’äla berfirman: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: ‘Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?’. Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya, dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya”. (QS. Ali Imran [3]: 14-15)

Berdasar ayat tersebut kita dapat menggaris bawahi paling tidak bahwa: pertama, manusia dihiaskan mencintai syahwat; kedua, berbagai hal yang diinginkan syahwat merupakan kesenangan hidup di dunia; ketiga, di sisi Allah ada perkara yang lebih dibanding hal yang disukai syahwat; keempat, perkara yang lebih itu diperuntukkan bagi orang bertakwa.

Syahwat menurut bahasa berarti menyukai atau sangat ingin. “Syahwat berarti kerinduan jiwa kepada apa yang diinginkannya,” demikian menurut al-Ragib. Ia pun membagi syahwat kepada shadiqah (yang benar) dan kadzibah (yang bohong). Syahwat shadiqah ialah yang ketiadaannya menyebabkan hancurnya diri manusia, seperti keinginan makan ketika lapar. Sementara syahwat kadzibah adalah yang ketiadaannya tidak menyebabkan keburukan bagi manusia, seperti melakukan kemaksiatan.

Al-Sa’di mensinyalir bahwa penyebutan beberapa hal terkait syahwat pada ayat di atas disebabkan keadaannya sebagai syahwat yang paling besar, dan hal-hal di luarnya mengikuti terhadap syahwat tersebut. Ibnu Katsir melihat beberapa hal sehubungan syahwat pada ayat tersebut adalah dikembalikan kepada niat/ tujuan dan sikap terhadapnya. Bila syahwat terhadap wanita untuk menjaga diri dan agar memiliki banyak anak, maka ini dianjurkan dan disunnahkan. Begitupula syahwat kepada anak untuk melahirkan generasi yang beribadah kepada Allah tanpa syirik ini pun perbuatan terpuji. Demikian pula dengan harta banyak yang digunakan bagi pemberian nafkah keluarga dan kerabat, dan juga untuk kelancaran berbagai program kebaikan dan ketaatan adalah terpuji secara syari’at.

Pembedaan yang dikemukakan Ibnu Katsir dalam tujuan dan penyikapan terhadap syahwat bermuara kepada cara pandang yang dimiliki. Bagi yang beriman kepada Allah maka ia meyakini bahwa berbagai hal tersebut di atas merupakan anugerah yang diberikan sebagai ujian. Sementara bagi yang tidak percaya kepada Allah melihat seluruh kesenangan dunia tersebut sebagai kehidupan yang sebenarnya. Yang beriman menyadari hidup di dunia ini sebagai ujian untuk dicari yang terbaik dalam amalnya. Sedangkan orang kafir berkeyakinan bahwa kehidupan di dunia ini adalah kehidupan itu sendiri yang tidak berhubungan dengan kehidupan di alam lainnya. Ketika mati di dunia adalah musnah belaka, tidak akan dibangkitkan, dan yang membinasakan ialah waktu.

Dalam penilaian al-Sa’di, orang beriman tidak hanya menyadari hakikat hidup di dunia, tapi juga berusaha mendapatkan ridho Allah dan kebaikan akhirat, termasuk dengan syahwat  tersebut. Mereka dekat dengan syahwat melalui badannya, tapi jauh dari hatinya. Ia menjadikan syahwat dunia sebagai jembatan penyeberangan ke akhirat. Ia tundukkan syahwat demi perniagaan alam baka. Mu`min berupaya agar syahwatnya menjadi bekal bertemu Tuhannya. Sebaliknya, banyak manusia menganggap syahwat sebagai tujuan pokok. Pikiran, perasaan, dan perjuangannya diupayakan meraih syahwat ini. Meraka menyikapi syahwat layaknya binatang hina. Mereka menempuh hidup di dunia untuk bersenang-senang dan menikmati kelezatan semata. Namun, apa yang mereka peroleh, usahakan, dan korbankan ternyata menghasilkan kesengsaraan dan siksa akhirat.

Pemujaan syahwat oleh manusia menyebabkan menolak kebenaran dan mengabaikan negeri akhirat. Orang jahiliah memberikan label bahwa Allah mempunyai anak perempuan, padahal anak tersebut mereka bunuh karena merasa hina, adalah disebabkan mengikuti syahwat. Pembangkangan dengan menyukai sesama jenis yang dimulai dari kaum Luth ‘alaih al-salām pun lahir karena mengamini syahwat. Tren bergelimang syahwat diusahakan menyebar dan diterima seluruh lapisan masyarakat dunia. Bahkan, kejelasan wahyu dan penafsiran para ulama masyhur pun dikebiri demi mengikuti keinginan syahwat. Muncullah ide al-Qurán edisi kritis, pembagian ayat toleran dan tidak toleran, serta ungkapan dan program penuhanan syahwat lainnya.

Jika kita tenggelam dalam syahwat tanpa memperdulikan takwa, maka tidak akan mendapat perkara-perkara baik yang Allah janjikan di akhirat. Padahal berbagai hal yang dijanjikan tersebut adalah sesuai dengan keinginan syahwat.“Di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushshilat [41]: 30-32). Wallähu a’lam bi al-shawäb *** (Yusup Tajri/Peserta KSU Dewan Da’wah Jabar dan Mudir Ma’had al-Manar Bayongbong Garut)