Niat Menentukan Kualitas Amal

1914

Jama’ah jum’at yang berbahagia!

Setelah Rosululloh SAW dan para sahabat sampai di Kota Madinah dari perjalanan Hijrah beliau, tersiar sebuah berita, ada seorang pria yang juga hijrah dari Makkah ke Madinah, tapi ia berhijrah itu bukan karena menjalankan perintah Alloh dan Rosul-Nya. Ia berhijrah karena mengejar seorang wanita yang menjadi tunangannya, Ummul Qoisy. Rosululloh SAW memeberikan komentar.

Komentar Nabi itu ada dalam hadits Imam An-Nawawi yang menjadi pedoman pertama yaitu tentang niat.

Rosul SAW bersabda:

Innamal a’malu binniâti, wa innamâ likullim ri im mâ  nawa faman kânat hijrotuhu ilallôhi wa rrosulihi fahijrotuhu ilallohi warrosul faman kâna hijrotuhu liddunya yushibuha au imroatin yankihuha  fahijrotuhu ilaa maa haajaro ( H. R Jama’ah).

Sesungguhnya setiap amal itu tergantung kepada niat, seseorang akan memperoleh hasil dari amalnya tergantung kualitas niatnya. Barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul Alloh. Ia tentu akan memperoleh ridlo Alloh dan Rosul Alloh SWT. Tapi barangsiapa yang berhijrah karena tujuan materi maka ia akan memperoleh materi dari niat hijrahnya itu. Dan barangsiapa yang berhijrah karena mengejar wanita, iapun hanya akan memperoleh wanita yang dikejarnya itu. Sesungguhnya hijrah seseorang tergantung kepada niat hijrahnya. (Hadits jama’ah).

Dari hadits inilah lahir berbagai macam bahasan tentang niat. Niat dibahas sebagai rukun pertama dalam ibadah, ada niat sholat, niat shaum, niat ibadah haji dan lain-lain, yang pada umumnya niat dalam kaitan dengan ibadah itu ditempatkan sebagai rukun pertama ibadah, yaitu niat digetarkan didalam hati kita mementukan jenis sesuai ibadah, jadi kalau pada jam 4. 30 subuh, kita sholat 2 rakaat itu bisa bermacam-macam, bisa disebutkan tahiyatul masjid, kobla fajar, qobla subuh, bahkan bisa juga istikharah dan tentu juga sholat subuh.

Yang membedakan antara satu jenis sholat dengan sholat yang lain adalah niat seseorang, jadi ketika di waktu shubuh sholat niatnya sholat apa? Bila telah berniat sholat subuh, maka tidak boleh lagi sholat yang lainnya sebab tidak ada sholat sunat setelah sholat subuh. Tapi sebaliknya kalau orang sudah melakukan empat macam sholat, umpamanya saja dua rakat salam, dua rakaat salam, tapi belum tercetus dalam hatinya itu niat sholat subuh maka dia tetap belum melaksanakan sholat subuh walaupun telah melakukan dua rakaat. Begitupula ketika seseorang pada bulan Syawwal melakukan ibadah, shaumnya itu bisa bermacam-macam, bisa shaum sunat syawal, shaum kodo, atau shaum kifarat karena dia melakukan pelanggaran-pelanggaran tertentu, yang wajib shaum, bisa juga shaum nazar, karena dia bernazar. Shaum itu sama, tetapi yang membedakan antar shaum dengan shaum yang lainnya itu adalah niat begitu seterusnya. Niat dalam bahasan ibadah sebagai rukun pertama dalam ibadah.

Semua niat-niat itu, shaum, sholat atau zakat itu digetarkan dalam hati, tetapi dalam ibadah haji dan umrah nit itu harus diungkapkan dalam bentuk ucapan, labbaika Allohumma umrotan, labbaik allohumma hajjan.

Yang kedua niat sering juga dibahas dalam kajian ushul fikih, yaitu niat yang berfungsi menentukannya hukum sesuatu perbuatan, sesuatu perbuatan diluar ritual ibadah yang tidak diatur oleh agama, bagaimana status hukumnya, banyak ditentukan oleh niatnya. Bagaimana seseorang itu hukumnya menjadi wajib, itu tidak ada dalam agama Islam kembali kepada niat masing-masing, kalau niatnya baik menjadi baik, niatnya tidak baik menjadi niat tidak baik. Bagaimana hukumnya orang telah beribadah haji memakai gelar haji, padahal nabi dan para sahabat tidak mencontohkan itu juga tergantung dari niatnya. Kalau niatnya baik menjadi baik, kalau tidak baik juga akan tidak baik, yaitu perbuatan-perbuatan diluar ritual ibadah dan agama tidak mengaturnya, maka ketetapannya itu berdasarkan niatnya. Seperti nikah itu bisa wajib, haram atau halal, tergantung dari niat nikah itu apa?

Yang ketiga yang penting untuk kita mantapkan, niat kita dalam ibadah menentukan kualitas ibadah kita, menentukan nilai pahala ibadah kita. Beberapa orang yang melakukan sholat dua rakaat, dengan bacaan yang sama, waktu melakukannya juga sama bahkan dilakukan di tempat yang sama, tetapi kemudian di sisi Alloh bisa bermacam-macam, tergantung apa? Tergantung niatnya, yang terbaik niat itu adalah melaksanakan ibadah karena mengharap ridlo Alloh, itu yang disebut ikhlas, sedang niat yang paling jelek adalah niat melaksanakan ibadah karena mengharap pujian, penghargaan dari manusia, itu yang kita kenal dengan riya atau sum’ah, riya ingin dilihat orang, sum’ah ingin dikenal orang, pamer melaksanakan ibadah.

Ibadah apapun yang dilakukan seseorang yang niat mengharapkan pujian dari manusia, di akhirat dia tidak akan mendapatkan apa-apa, karena memang dia telah mengkhususkan balasannya dari manusia, seperti yang diungkapkan dalam hadits, “Orang-orang yang mengeluh, meratap di akhirat, “Ya Alloh! Saya sewaktu di dunia rajin sholat, tapi saya dicatat tidak termasuk orang yang melaksanakan sholat, malaikat menjawab, dulu ketika kamu melaksanakan sholat, kamu tidak mengharap pahala dari Alloh, tapi mengharap pujian dari manusia. Kalau itu yang menjadi keinginan kamu, ya mintalah kepada manusia, yang memberikan penghargaan dan pujian, itulah yang kamu dapatkan. Ketika di dunia kami rajin infak atau sedekah tapi tidak dicatat sebagai orang yang infak atau sedekah, malaikat bertanya; apakah kalian lupa, dulu ketika kamu berinfak atau bersedekah tidak mengharapkan ridlo Alloh tapi hanya mengharapkan pujian penghargaan manusia, karena itu yang kamu inginkan maka mintalah kepada manusia yang kamu harapkan pujian dan penghargaannya, kenapa kamu dulu minta pujian kepada manusia sekarang menagih kepada Alloh? Inilah bahaya riya.

Rosululloh SAW menggambarkan riya itu sebagai musyrik kecil, sebagai musyrik samar-samar, asyirkul ashghor atau asyirkul khoofi, beliau bersabda;

Inna akhwafa maa akhofu ‘alaikum asyirkul ashgor, sesuatu yang aku takuti diantara sekian yang aku takutkan, yaitu asyirkul ashgor, musyrik kecil, hadits lain menyebutnya asyirkul khofi, musyrik samar-samar. Para sahabat bertanya; ya Rosul, apa yang disebut syirik kecil atau yang samar-samar itu? Nabi menjawab, arriya, melaksanakan sesuatu karena mengharapkan penghargaan dan pujian dari manusia. Disebutnya musyrik kecil, dia telah menduakan tuhan, punya tujuan kepada Alloh tapi mengharapkan sesuatu dari manusia.

Hadirin sidang jum’ah yang berbahagia.

ikhlas sering diungkapkan dalam pernyataan kita, baik dalam do’a iftitah atau lainnya;

Innasholaati wanusuki wa mahyaaya wa mamaati lillahi robbil ‘aalamin, sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Alloh. Nah inilah hakikat ikhlas. Ikhlas itu hakikatnya lebih berat dari amal itu sendiri, sidekah itu berat tapi harus ikhlas ketika sidekah itu lebih berat, menolong orang itu berat tapi ikhlas ketika menolong itu lebih berat, tidak ada keinginan untuk ditolong orang, tidak ada keinginan dipuji orang lain itu sering-sering lebih berat. Oleh karena itulah berulangkali al-Quranul karim, Rosul SAW dalam sejumlah haditsnya mengingatkan kita; “Hati-hati yaitu tentang sesuatu yang dapat menghancurkan pahala ibadah kita, merasa sudah ibadah, ternyata tidak dicatat sebagai ibadah. Apa itu yang dapat menghancurkan ibadah kita, amal kebaikan kita? Yaitu riya, pamer, keinginan ingin dipuji orang. Riya dapat menghancurkan pahala ibadah kita.

Memang ikhlas dan riya itu sepenuhnya amal hati, tentu kita tidak tahu apakah istri, suami, saudara, teman kita itu ikhlas atau tidak, dan kita juga tidak perlu tahu tentang hal itu. Itu adalah amal batin masing-masing yang harus dijaganya dan Alloh yang Maha Tahu. Karena tidak perlu diketahui oleh orang lain sehingga kita perlu lebih hati-hati dalam melaksanakan amal, sebab bisa saja sebuah perbuatan yang secara lahiriyah bernilai akhirat, sholat, dzikir, baca al-Quran, da’wah dan lain-lain itu nuansanya akhirat, tapi tidak jadi amal akhirat. Kenapa? Karena targetnya memang dari manusia, tidak bernilai ibadah. Bisa juga sebaliknya perbuatan-perbuatan yang nampaknya tidak ada kaitan dengan akhirat, menanam pohon lindung, membuang sampah yang ada di jalan ke tempat sampah, membereskan jalan yang tidak beres, membangun jembatan atau lain-lain, tidak kelihatan ibadah tapi itu semua bisa bernilai ibadah kalau dilakukan itu karena ikhlas mengharap ridlo Alloh SWT.

Bagaimana tentang bahaya riya ini, ada satu kisah dalam sebuah hadits; “Seseorang berangkat ke medan pertempuran, dia maju ke depan dengan gagah berani, dia berhadapan dengan lawan-lawannya kemudian mati terbunuh, sehingga para sahabat banyak yang berkata dia telah maju ke medan perang dengan gagah berani, mati syahid dan masuk sorga. Nabi memberikan komentar, di neraka itu orang, dia tidak gugur sebagai syuhada. Para sahabat bertanya kenapa? Padahal jelas orang itu mati dalam keadaan pertempuran, usut punya usut, orang itu berangkat ke medan pertempuran bukan karena panggilan tugas melaksanakan kewajiban jihad, tapi dia ingin mempertontonkan kegagah-beraniannya dihadapan calon mertuanya, dia ingin disebut menantu yang gagah berani dan ingin mendapat pujian dari manusia. Dan ketika dalam medan pertempuran dia terkena tusukan panah, dan tumbak atau pedang musuh, dia tidak kuat, tidak tahan menanggung rasa sakit dan tidak tabah, akhirnya dia mengambil pedangnya dan ditusukan kepada badannya sendiri, dia gugur sebagai orang yang bunuh diri. Kenapa dia sampai bunuh diri? Karena tidak tahan dengan penderitaan. Kenapa tidak tahan dalam penderitaan, karena riya. Kalau orang mengharap ridlo Alloh sudah pasti akan tahan dalam penderitaan, sebab setiap sakit dan penderitaan merupakan ibadah kepada Alloh kalau dilaksanakan dengan tulus dan ikhlas, nabi mengatakan.

“Berbahagialah orang-orang yang ikhlas dalam melaksanakan sesuatu amal perbuatan”.

Ikhlas menjadi kunci keberhasilan ibadah kita, bahkan ikhlas juga menentukan apakah amal kebaikan kita diterima oleh Alloh atau tidak, mendapatkan pahala dari Alloh atau tidak? Itu tidak hanya ditentukan oleh amal dan proses pelaksanaan amal itu sendiri, tapi juga ditentukanoleh paktor nawaituhu atau niat dia, sholat dia, ibadah shaum dia, infak sampai menata kehidupan sosial yang tidak baik, menanam pohon dan lain-lain kalau dilakukan dengan tetap mengharap ridlo Alloh maka itu semua menjadi ibadah kepada Alloh SWT.

Ali mengingatkan kita; hati-hati, kalau kamu sudah melakukan perbuatan itu dengan ikhlas, kamu jangan katakan kepada orang lain bahwa kamu ikhlas, kalau kamu katakan kepada orang lain; saya ikhlas maka menjadi tidak ikhlas, karena kamu ingin diketahui oleh manusia bukan oleh Alloh. Ketika kita berinfak lalu kita katakan saya ikhlas, saya ikhlas, itu menjadi tidak ikhlas, karena kita berinfak ingin diketahui oleh saudara kita bahwa kita berinfak. Ketika kita menolong orang lain, maka tidak usah dikatakan saya ikhlas, saya ikhlas, itu tidak ikhlas sebab ikhlas itu tidak perlu diketahui yang lain, kalaupun orang lain tau, tapi dalam diri sedikitpun tidak ada keinginan untuk diketahui Alloh akan mencatatnya, Alloh Maha Tahu.

Ikhlas adalah kunci keberhasilan dan kunci rahmat dan barakah Alloh. Bahagialah orang-orang yang ikhlas. Segala perbuatan kita lakukan dengan penuh ketulusan dan keikhlasan, jauhkan diri dari sifat riya, keinginan mendapatkan pujian dan penghargaan dari manusia. Sedang kalau kita melaksanakan amal kebajikan selalu mengharapkan pujian dari manusia, nanti kita akan stress karena orang lain belum tentu memuji, menghargai kita, padahal pujian itu hanyalah milik Alloh bukan kepunyaan kita.

Aquulu qauli hadzaa wa astaghfirullohal azhiim innahu huwal ghofuururrohiim.

Alhamdulillah, alhamdulillahi robbil ‘aalamin arrohmaanirrohiim, maaliki yaumiddin. Asyhadu allaailaaha ilalloh wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warosuuluh, allohumma sholli ‘alaa muhammad wa alaa ali muhammad kamaa shollaita ‘alaa ibrohiim …… innaka hamidun majid. Ma’asyirol muslimin rohimakumulloh. Uusikum wanafsi bitaqwalloh faqod faadzal muttaquun. Ittaqulloh, ittaqulloh, ittaqulloha haqqo tuqootihi walaa tamuutunna illaa wa antum muslimuun. Inna akromakum indallohi atqookum.

Jama’ah yang berbahagia.

Untuk mencapai kualitas ikhlas yang tinggi sering ada tahapan-tahapan, ada orang yang melaksanakan amal kebaikan pertama adalah karena dipaksa, dan ini adalah nilai yang paling rendah. Ada orang yang beramal kebajikan karena mengharap pujian dari manusia, ini yang terendah. Tapi ada orang yang melaksanakan amal kebajikan karena ada target-target duniawi, ia minta dari Alloh, tapi targetna dunia. Ia rajin tahajud karena ingin bisnis maju, ia rajin ibadah shaum karena ingin jabatan dan kedudukan. Nah kalau ibadah yang kita lakukan targetna dunia seperti itu, ibadah jadi terhenti karena target sudah tercapai, rajin tahajud karena ingin memperoleh setelah diperoleh dia jadi tidak lagi tahajud. Banyak juga orang yang beribadah itu karena targetnya ingin mendapat pahala, ingin dapat sorga, mengharap sorga takut neraka, ini sebetulnya belum mencapai kualitas tertinggi, sebab kalau orang melaksanakan ibadah  karena target pahala, sering menempatkan ibadah itu semacam bisnis, mencari keuntungan yang lebih. Melaksanakan amal yang kecil tapi mendapat pahala yang besar, oleh karena itu yang menarik bagi dirinya itu adalah hadits-hadits tentang fadôilul ‘amal, fadilah amal, kalau melaksanakan hadits ini besar pahalanmya atau tidak dan seterusnya, jadi targetnya itu adalah pahala.

Yang tertinggi adalah tidak melihat itu pahal, tidak melihat target dunia tapi ia beribadah itu betul-betul mengharap ridlo Alloh. Alloh memerintahkan, Nabi mencontohkan saya lakukan, ini adalah kewajiban saya, maka saya lakukan dan saya serahkan kepada Alloh SWT, mudah-mudahan kita selalu ikhlas dalam melaksanakan amal kebajikan, walau ikhlas itu sulit tapi kita tetap berusaha untuk selalu ikhlas. ketika kita melakukan perbuatan yang baik lalu timbul dalam diri kita perasaan tidak enak itu sifat.

Kalau tidak ikhlas atau riya makah ancurlah semua amal ibadah kita, naudzubillahi mindzaalik. Allohummagfir lilmuslimiina wal muslimat, wal muminiina wal muminaat, al ahyaau minhum wal amwaat. Allohumma robbana laatujig quluubana ba’da idzhadaitana wa hablana minladunka rohmatan innaka antal wahhab.***  (alma’)