Menghormati Tetangga

3039

Oleh : Drs. Muhsin MK. MSc. (Anggota Majlis Syuro Dewan Da’wah Jabar)

   “…Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu…”. [QS. An Nisaa’, 4:36].
Ayat ini menjelaskan tentang betapa pentingnya berbuat baik terhadap orang tua, karib kerabat, anak yatim, fakir miskin, tetangga yang dekat dan jauh, teman sejawat, ibnu sabil  dan hamba sahaya. Berbuat baik terhadap tetangga yang dekat dan jauh merupakan perintah Allah dan Rasul Nya, karena kita hidup bertetangga dan bermasyarakat dengan orang lain. Apalagi tetangga yang tinggalnya dekat dengan kita, atau berada dalam suatu lingkungan rukun tetangga [RT] dan rukun warga [RW] dan sekitarnya.

Berbuat Baik
Awalnya manusia seorang diri, yakni Adam ‘alaihis salam. Kemudian diciptakan pasangannya, Ibunda Hawa. Ini membuktikan bahwa manusia dalam hidupnya sangat membutuhkan teman dan pasangan. Itulah sebabnya manusia disebut makhluk social. Makhluk yang tidak bisa dipisahkan dari sesamanya. Bahkan dengan adanya teman dan pasangan hidup ini manusia bisa berkembang biak. [QS. An Nisaa’, 4:1]. Akhirnya dari satu keluarga membentuk masyarakat, dan dalam masyarakat itu kita pun tinggal bertetangga.
Islam mengajarkan kepada kita bahwa dalam hidup bertetangga harus saling berbuat baik. Perbuatan baik yang perlu dilakukan terhadap tetangga beraneka ragam bentuknya. Mulai dari soal memberi makanan, hingga saling bekerja sama dalam kebajikan. Memberi makanan kepada tetangga perlu dilakukan, walau hanya sekedar memberikan kuwah sayur. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mememerintahkan kepada Abu Hurairah radliallahu anhu: “Hai Abu Dzarr, jika engkau memasak kuwah, maka perbanyaklah airnya, dan perhatikan tetanggamu”. [HR. Muslim].
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam juga mengajarkan kepada kaum muslimat tentang perlunya memberi makanan pada tetangga walau pun hanya dengan makanan yang sederhana. Sebagaimana dinyatakan dalam sabdanya: “Hai wanita muslimat, jangan merasa rendah kalau akan memberi hadiah pada tetangga, walau sekedar kikil [ujung kaki] kambing”. [HR. Bukary, Muslim].
Selain itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam juga mengingatkan agar tidak membiarkan tetangga dalam keadaan kelaparan, sementara kita kekenyangan. Sabdanya: “Tidaklah beriman orang yang tidur dalam kekenyangan sementara tetangganya dalam keadaan kelaparan”. [HR. Bukhary, Muslim].
Perbuatan baik lannya yang perlu dilakukan kepada tetangga dinyatakan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam: “Apabila tetangga memerlukan sesuatu berilah dia. Apabila membutuhkan pinjaman, pinjamilah dia. Apabila membeli buah buahan bagilah dia. Apabila mendapat kebahagian ucapkanlah selamat. Apabila dia sakit, jenguklah dia. Apabila mendapat musibah hiburlah dia. Apabila dia wafat antarlah jenazahnya”.  [HR. Ibnu Majah].

Tidak mengganggu
Terhadap tetangga kita juga harus memelihara hubungan yang baik dan harmonis. Bukan hanya berbuat baik dengan mereka, melainkan juga menjaga hal hal yang dapat merusak hubungan baik dan harmonisasi dalam bertetangga. Oleh karena itu mulut, sikap dan perbuatan kita harus dipelihara terhadap tetangga, agar tidak merusak hubungan tersebut.
Mulut atau ucapan harus benar benar dijaga agar tidak menyinggung dan menyakiti hati tetangga. Karena itu Rasulullah shallallahi ‘alaihi wasslam mengingatkan: “Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, janganlah menyakiti hati tetangganya”. [HR. Bukhary, Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah]. “Siapa yang percaya kepada Allah dan hari kemudian hendaknya bekata baik atau diam…”. [HR. Bukhari Muslim].
Orang yang suka menyakiti hati tetangganya kelak akan dimasukkan dalam api neraka. Sebagaimana kisah seorang wanita yang taat beribadah, tapi dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam  masuk neraka. Sabdanya: “Dia masuk neraka. Kemudian para sahabat melaporkan bahwa wanita itu suka melaksanakan ibadah puasa di siang hari dan shalat malam. Rasulullah menyatakan: Dia suka menyakiti tetangganya”. [HR. An Nasa’I, Ibnu Majah dan Tirmidzi].
Karena itu kita dilarang membenci tetangga. Apalagi menghasud tetangga dengan ucapan yang tidak baik.  Sebab Rasulullah menyatakan dalam sabdanya: “Janganlah benci membenci dan jangan hasud dan jangan belakang membelakangi dan jangan memutus hubungan [silaturrahim]…”.[HR.  Bukahry, Muslim].
Demikian pula dalam bersikap. Tetangga harus kita hormati. Sama seperti menghormati tamu kita. Karena itu tidak boleh kita menyakiti hatinya. Apalagi menghina, mengghibah atau menggunjing dan menfirnahnya. Penghinaan, penggunjingan dan fitnah terhadapnya dapat merusak hubungan baik dan harmonisasi dalam bertetangga.
Islam mengajarkan agar kita benar benar menjaga hubungan baik dan harmonis dengan tetangga. Sesuai sabda Rasulullah: “Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, hendaknya dia selalu menghormati tetangganya”. [HR. Bukhary, Muslim]. “Dan sebaik baiknya tetangga di sisi Allah yang terbaik kepada tetangganya”. [HR. Tirmidzi].
Apalagi perbuatan kita. Hendaknya kita jaga agar tidak mengganggu tetangga. Perbuatan mengganggu mereka  bermacam macam bentuknya. Diantaranya, mengeraskan suara radio, music, tv, motor, mobil dan melakukan kegaduhan lainnya. Mereka yang biasa begadang malam juga hendaknya tidak mengganggu tetangga dan orang lain, sehingga membuat mereka tidak bisa tidur dan dalam melakukan aktifitasnya lain yang memerlukan ketenangan dan konsentrasi.
Rasulullah shallallahu ‘alahi wassalam wanti wanti mengingatkan kita agar tidak mengganggu tetangga dengan berbabgai kegiatan yang gaduh dan buruk lainnya. Sebagaimana dinyatakan dalam sabdanya: “Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman. Siapakah ya Rasulullah? Jawabnya: Ialah orang yang tidak aman tetangganya dari ganguan dan perbuatan jeleknya”. [HR. Bukhary, Muslim]. “Siapa yang beriman pada Allah dan hari kemudian, maka janganlah mengganggu tetangganya…”. [HR. Bukhary, Muslim]

Jaga kehormatannya
Kita juga dilarang mengganggu tetangga, baik harta atau kehormatannya. Keadaan dan keamanan hartanya harus kita jaga. Karena itu bila kita diitipi tetangga rumah dan harta bendanya, maka kita harus jaga amanah dan keamanannya dengan baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam menyatakan dalam sabdanya: “Yang disebut seorang mukmin ialah mereka yang mampu memberikan keamanan bagi mukmin yang lainnya, baik keamanan diri maupun keamanan harta”. [HR. Ahmad, Tirmidzi dan Al Hakim].
Dalam hubungan ini kita juga dilarang mengambil harta, termasuk tanah milik tetangga, baik secara terang terangan, maupun sembunyi sembunyi. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mengingatkan: ”Barangsiapa mengambil sejengkal tanah milik orang lain atau tetangganya, maka Allah akan menghimpitnya dengan tujuh bumi”. [HR, Bukhary, Muslim].
Kehormatan diri dan keluarga tetangga juga harus kita jaga dan lindungi. Hendaknya kita tidak merusak kehormatan mereka. Kita harus jaga aibnya, dan tidak kita sebar luaskan kepada orang lain. Sebab menjaga aib itu berarti juga menjaga kehormatannya. Apalagi Rasululullah shallahu ‘alaihi wassalam menyatakan: “Seorang hamba yang menutup aib [keburukan] orang lain di dunia, maka Allah akan menutup aibnya di akhirat”. [HR. Bukhary, Muslim].
Oleh itu apa pun keburukan yang ada pada tetangga hendaknya tidak menjadi bahan pergunjingan dan disebar luaskan kepada orang lain. Tentu perbuatan buruk itu tergolong ghibah yang dilarang oleh Allah [QS. Al Hujuraat, 49:12]. Tentang ghibah ini Rasulullah shallallahu ‘alaohi wassalam mengingatkan:
“Tahukah kamu apa ghibah itu? Jawab sahabat: Allah dan Rasul Nya yang lebih mengetahui. Nabi bersabda: Yaitu menyebut saudaramu dengan apa apa yang dia tidak suka disebutnya. Sahabat bertanya: Bagaimana kalau memang sebenarnya ada padanya? Jawab Nabi: Irulah yang disebut ghibah. Akan tetapi tidak menyebut apa apa yang tidak sebenarnya berarti kamu telah menuduhnya dengan kebohongan [yang lebih besar dosanya]”. [HR. Muslim].
Kehormatan tetangga yang juga harus kita jaga dan lindungi adalah, tidak mengganggu istrinya. Kita harus menjaga kehormatan istrinya dan anak anaknya dengan tidak menzinahi apalagi memperkosanya. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam saat ditanya tentang perbuatan dosa besar, maka salah satunya disebutkan, “Yaitu engkau berzina dengan istri tetanggamu”. [JR. Bukhary, Muslim]. [IM]. ***