Memburu Lailatul Qadar

779

Dewandakwahjabar.com — Alhamdulillah tanpa terasa kita telah memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Kesibukan umat islam semakin meningkat, ada yang semakin sibuk di pasar-pasar, mall dan pusat-pusat perbelanjaan untuk persiapan menyambut lebaran, sehingga shaf-shaf tarawih di masjid yang tadinya penuh sesak menjadi semakin sedikit, kini penuh sesak itu telah berpindah ke pasar dan tempat-tempat hiburan.

Namun ada juga yang semakin menyibukkan diri mereka dengan berdzikir, mereka mengencangkan ikat pinggangnya, meningkatkan kekhusuan ibadahnya, meningkatkan kualitas ibadahnya untuk memburu pahala dalam suatu malam yang mulia yaitu malam Lailatul Qadar.

Rasulullah sallallahu’aalaihi wassalam setiap menjelang akhir ramadhan selalu mengingatkan umatnya agar tidak mengabaikan Lailatul Qadar. “Sesungguhnya telah datang kepadamu bulan ramadhan, bulan penuh berkah Allah subhanahuata’ala mewajibkan kamu berpuasa didalamnya, dibukakan pintu-pintu syurga dan dibukakan pintu neraka serta dibelenggu setan-setan. Di dalamnya ada sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu malam lailatul Qadar”.

Allah berfirman dalam surat Al-Qadar yang artinya : “Sesungguhnya kami telah menurunkan (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan, dan tahukah kamu apa malam kemuliaan itu?, malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan, pada malam itu turun malaikat-malaikat. Dan malaikat jibril dengan ijin rabbnya turun ke bumi mengatur segala urusan, selamatkanlah malam itu hingga terbit fajar” (QS Al Qadar 1-5). Dan dalam surat yang lain yaitu dalam surat Ad-Dukhaan ayat 3-6, Allah berfirman : “Sesungguhnya kami telah menurunkan Al Qur’an dimalam yang penuh keberkatan, sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan urusan yang penuh hikmah (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami adalah yang mengutus rasul-rasul sebagai rahmat dari Tuhanmu, Sesungguhnya Dialah yang maha mendengar dan maha mengetahui”.

Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keberkahan (laillah mubaarakah), malam penuh kemuliaan, malam yang sangat istimewa, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu diturunkan Al Qur’an dan malam diutusnya para malaikat untuk turun ke bumi.

Diriwayatkan dari ka’ab, bahwasanya Allah telah memilih saat-saat yang baik, Allah telah memilih hari, maka Allah memilih hari jum’at, Allah telah memilih bulan, maka Allah memilih bulan Ramadhan, Allah telah memilih malam, maka Allah memilih malam Lailatar Qadar, inilah malam yang utama dalam bulan yang utama, yaitu malam Lailatul Qadar dalam bulan Ramadhan.

Malam Lailatul Qadar menjadi malam yang mulia karena didalamnya Al Qur’an diturunkan, Al Qur’an menjadi petunjuk bagi manusia, pemisah antara yang haq dan yang bathil, petunjuk manusia menuju ridho Illahi. Firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 185 yang artinya; “Bulan Ramadhan adalah bulan yang didalamnya diturunkan Al Qur’an yang menjadi petunjuk bagi manusia dan beberapa keterangan yang nyata merupakan petunjuk dan pemisah antara yang haq dan yang bathil”

Dalam malam yang mulia itu, Allah mengutus malaikat Jibril dan sebagian malaikat yang lainnya untuk turun ke bumi. Kemudian menyebar keseluruh penjuru bumi, menebarkan salam, memasuki masjid-masjid dan rumah-rumah orang-orang mukmin sambil bertasbih, bertahlil dan bertakbir serta memohonkan ampunan bagi orang-orang yang sedang berdiri atau sedang duduk yang menyebut nama Allah dan memohon ampunannya. Pada malam itu Allah menetapkan taqdir manusia, rizqi dan umur manusia, Allah mentaqdirkan segala urusan manusia dalam satu malam yang Allah tetapkan untuk satu tahun yaitu dari Lailatu Qadar sampai Lailatul Qadar yang akan datang.

Allah menerima taubat orang yang bertaubat, dibukakannya pintu langit. Adapun makna dari ‘malam yang lebih baik dari seribu bulan” artinya adalah pahala yang diberikan Allah pada hambanya yang beribadah pada malam itu nilainya lebih besar dari pahala yang dilakukan selama seribu bulan. Kalau kita hitung, seribu bulan itu sama dengan 83 tahun 4 bulan. Adapun ukuran usia umat manusia mencapai 83 tahun pada zaman sekarang ini merupakan usia yang cukup panjang. Ketika seorang hamba yang diberikan jatah usia kurang dari 83 tahun, itu artinya Allah akan melimpahkan rahmat dan ampunan sepanjang hidupnya.

Hal tersebut ditegaskan lagi oleh Rasul dalam hadistnya yang berbunyi : “Barang siapa yang menegakan malam lailatu qadar, beribadah didalamnya dengan penuh keimanan dan perhitungan yang matang, niscaya Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan sesudahnya”{HR Bukhari}.

Bagi orang-orang yang beriman, tentu momen ini adalah momen yang sangat tepat untuk mendulang pahala serta mendapat ampunan.

Timbul pertanyaan, kapan sebenarnya malam lailatul qadar itu terjadi? Dan baigaimana caranya kita menghidupkan malam itu?

Rasulullah SAW bersabda; “Lailatul Qadar terdapat pada sepuluh malam yang tersisa (sepuluh hari terakhir Ramadhan), barang siapa yang mendirikan ibadah pada malam itu, demi mencapai pahala seribu bulan maka sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan setelahnya, itulah malam yang hitungannya ganjil, sembilan, tujuh, lima, tiga, atau bahkan hari terakhir”. (HR Ahmad).

Dari hadist di atas dan beberapa hadist lainnya mengatakan bahwa lailatu qadar terjadi pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan terutama di malam-malam ganjil yaitu malam-malam ke 21, 23,25, 27 dan 29 Ramadhan.

Al Qur’an dan hadist tidak menerangkan dengan tegas kapan tepatnya Lailatu Qadar itu. Al Qur’an sendiri tidak menerangkan secara tegas, itu artinya Allah merahasiakan waktu terjadinya malam yang mulia itu. Menurut para ulama salaf, Allah meyembunyikan beberapa urusan, termasuk malam Lailatul Qadar, dengan dirahasiakannya malam Lailatul Qadar ada hikmah dibaliknya, yaitu supaya kita berusaha mencarinya, dengan meningkatkan ibadah disetiap malam, memperbanyak doa, sebagaimana diserukan Rasulullah saw.

Cara menghidupkan malam Lailatul Qadar

Hendaklah kita pada sepuluh malam terakhir Ramadhan terutama pada malam-malam ganjil memperbanyak istigfar, shalat, membaca Al Qur’an, tahlil, tahmid, tasbih, takbir dan memperbanyak sholawat. Dan hendaklah kita memperbanyak shodaqoh, disamping kita menyeru berbuat ma’ruf dan melarang yang mungkar serta memberi contoh tauladan yang baik. (H. Syuhada Bahri/Ketua Umum Dewan Da’wah)