“Membangun Masa Depan Indonesia yang Lebih Baik”

433

Dewandakwahjabar.com– Negara Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 yang bertepatan dengan bulan Ramadhan, tentulah memiliki nilai spirituil yang besar. Pada bulan suci itulah Indonesia secara resmi terbebas dari penjajahan.

Demikian disampaikan Yusril Ihza Mahendra dalam acara Haflah Idul Fitri 1433 H Keluarga Besar Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia yang berlangsung di Aula Masjid Al Furqan komplek Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, sabtu 15 September 2012.

Dalam ceramahnya dihadapan keluarga besar Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia yang berjudul “Membangun Masa Depan Indonesia yang Lebih Baik”, Yusril mengatakan bahwa situasi politik dan nilai ideologis yang dialami bangsa ini sudah jauh berbeda dibandingkan dengan awal-awal berdiriya Republik ini.

“Dahulu, masyarakat masih memiliki nilai ideologis yang sangat tinggi. Mereka menentukan pilihannya terhadap partai politik yang memiliki ideologi yang sama, namun saat ini masyarakat didalam menentukan pilihan terhadap partai politik lebih kepada nilai materi yang mampu diberikan oleh parpol, bukan berdasarkan ideologi”, demikian ujar mantan pria yang pernah menjabat Menteri Hukum dan HAM serta Menteri Sekretaris Negara ini.

Untuk itulah, Yusril menambahkan, bahwa ummat Islam harus mendesak pemerintah agar menjalankan roda pemerintahan berdasarkan kaidah-kaidah Islam, sehingga arah pembangunan bangsa ini kedepan memiliki tujuan yang jelas dan terarah.

“Saat ini arah dan tujuan pembangunan yang dilakukan pemerintah tidak jelas, sehingga salah satu penyebab krisis yang dialami bangsa ini, baik itu dari sisi ekonomi atau sisi lainnya diantaranya disebabkan karena ketidak jelasan tujuan dan arah pembangunan yang dilakukan pemerintah”, tambah Yusril.

Yusril juga menambahkan bahwa untuk membangun bangsa ini agar menjadi lebih baik, ideologi Islam harus diperjuangkan dan dipertahankan didalam menjalankan roda pemerintahan, karena nilai-nilai keislaman juga lah yang dijalankan para pendiri bangsa ini, sehingga negara Indonesia mampu terlepas dari belenggu penjajah.

Sementara itu Ketua Pembina Dewan Da’wah A.M. Saefuddin dalam sambutannya mengatakan bahwa ummat Islam, termasuk di Indonesia, sekarang ini menghadapi tantangan yang besar dari pihak-pihak yang tidak senang dengan Islam, baik dari dalam dan luar negeri.

“Pemutaran film innocence of muslims yang isinya sangat menghina Islam, merupakan cara terbaru yang dilakukan untuk memancing kemarahan ummat Islam. Belum lagi beberapa waktu yang lalu juga pernah dilakukan penistaan terhadap Islam dengan adanya kartun Nabu Muhammad SAW oleh salah satu media di Denmark, serta pembakaran Al Qur’an oleh salah seorang pendeta di Belanda, ini merupakan usaha dari pihak yang tidak senang terhadap Islam untuk menghancurkan Islam”, ujar Pak AM, sapaan akrabnya.

Sementara itu, ujar AM Saefuddin, dari dalam negeri tantangan da’wah juga tidak kalah besarnya. Berkembang dengan pesatnya faham-faham yang dapat merusak iman ummat muslim seperti Liberalisme, Sekularisme dan Pluralisme merupakan tantangan da’wah yang harus dihadapi oleh aktifis da’wah negeri ini.

Menyikapi berbagai tantangan tersebut, AM Saefuddin mengatakan sudah saatnya Dewan Da’wah melalui Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah Mohammad Natsir tidak hanya melahirkan da’i-da’i lokal yang disebar di pelosok negeri, namun juga mampu melahirkan da’i-da’i internasional yang mampu berda’wah di luar negeri, utamanya di negara-negara yang muslim minoritas.

“Untuk itulah STID Mohammad Natsir harus menyiapkan da’i-da’i yang memiliki kemampuan bahasa asing yang baik, sehingga ketika ditugaskan untuk berda’wah di luar negeri memiliki bekal untuk berkomunikasi, yang merupakan salah satu kunci sukses da’wah”, tambah tokoh yang pernah menjadi Menteri Pangan dan Holtikultura ini.

Ketua Umum Dewan Da’wah ustadz Syuhada Bahri dalam tausiahnya mengatakan bahwa kerusakan moral yang terjadi pada masyarakat merupakan salah satu sebab kehancuran bangsa. Ustadz Syuhada mengatakan bahwa da’wah merupakan solusi untuk mencegah bangsa ini dari kehancuran.

“Dengan da’wah akan melahirkan iman yang kokoh didalam hati dan iman inilah yang akan mencegah manusia untuk melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW”, ujar Syuhada.

Lebih lanjut, ustadz Syuhada mengatakan bahwa Dewan Da’wah memiliki tema yang senantiasa harus dilaksanakan didalam setiap aktifitas kegiatannya yaitu Selamatkan Indonesia dengan Da’wah.

“Untuk mewujudkan tema ini, Dewan Da’wah memerlukan da’i-da’i handal yang mampu menjawab berbagai persoalan yang dialami masyarakat, dan ini bukanlah pekerjaan yang ringan, perlu konsentrasi dan kerjasama yang baik untuk mewujudkannya”, tambah Syuhada.

Ustadz Syuhada juga mengatakan bahwa saat ini bangsa Indonesia memang memiliki tantangan da’wah yang berat, namun beliau menyatakan bahwa tantangan itu hendaklah dijadikan vitamin sehingga para da’I dan aktifis da’wah memiliki semangat untuk menghadapi berbagai tantangan da’wah tersebut.

“Dan tidak boleh dilupakan juga bahwa didalam menjalankan misi da’wah para da’i harus memiliki keikhlasan yang tinggi, dan selalu mengharapkan pertolongan hanya dari Allah SWT, rasa keikhlasan yang tinggi memiliki nilai yang sangat mulia dihadapan Allah SWT”, Ujar Ustadz Syuhada.

Diakhir tausiahnya ustadz Syuhada mengharapkan agar usaha Dewan Da’wah untuk memperbaiki moral dan akhlak bangsa ini mendapat dukungan dari masyarakat, sehingga aktifitas da’wah dapat berjalan.

Turut hadir dalam acara ini jajaran Pembina, Pengawas serta Pengurus Dewan Da’wah. Juga tampak hadir para tokoh-tokoh diantaranya Mantan Menteri Kehutanan M.S. Kaban dan Mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier.

Acara ini dihadiri lebih dari lima ratus orang, tidak hanya Keluarga Besar Dewan Da’wah, namun hadir pula utusan dari berbagai lembaga yang selama ini menjadi mitra Dewan Da’wah didalam menjalankan program da’wah. (rusdi/dewandakwah.com)