Larangan Mendukung Kekafiran

622

Khotib : Ust. HARTONO AHMAD JAIZ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita.

Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, dalam kesempatan yang mulia ini akan kami kemukakan tentang adanya GEJALA MENDUKUNG KEKAFIRAN DAN MENJAMIN TIDAK LUNTURNYA IMAN.

Gejala itu tentu saja menyedihkan bagi kaum Muslimin yang ingin menjaga dirinya dan  keluarganya dari api neraka akibat terpengaruh oleh pengaruh jahat keadaan yang memprihatinkan. Untuk itu, mari kita simak ayat-ayat ini.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا يُرِيدُ اللَّهُ أَلَّا يَجْعَلَ لَهُمْ حَظًّا فِي الْآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (آل عمران : 176(

176. Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir[252 yakni orang-orang kafir Mekah atau orang-orang munafik yang selalu merongrong agama Islam.]; Sesungguhnya mereka  tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka  di hari akhirat, dan bagi mereka  azab yang besar.

Imam Ibnul Jauzi dalam kitab Zaadul Masiir fii ‘ilmit  Tafsiir menjelaskan, الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ  orang-orang yang segera menjadi kafir ada empat pendapat:

  1. Al-munafiqun (orang-orang munafiq) dan pemimpin-pemimpin Yahudi, kata Ibnu ‘Abbas.
  2. Al-Munafiqun, kata Mujahid.
  3. Kuffar (orang-orang kafir) Quraisy, kata Ad-Dhahhak.
  4. Kaum yang murtad dari Islam, disebutkan oleh Al-Mawardi.

Dan dikatakan, arti segeranya mereka  menjadi kafir itu adalah terang-terangannya mereka  terhadap orang kafir dan dukungan mereka  kepada kafirin. Bila ditanyakan: bagaimana (bisa) segeranya mereka  ke dalam kekufuran itu jangan sampai menjadikan sedih? Maka jawabannya adalah, jangan menjadikan kamu sedih perbuatan mereka , karena kamu ditolong (dimenangkan) terhadap mereka .  (lihat Zaadul Masiir fii ‘ilmit  Tafsiir dalam ayat menjelaskan ayat 176 Surat Ali ‘Imran).

orang-orang yang segera menjadi kafir dari orang Yahudi, Quraisy, munafiq maupun murtad itu Allah sebut إِنَّهُمْ لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا Sesungguhnya mereka  tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun.

Menurut Imam ‘Atha’, mereka  tidak akan memberi mudharat sedikitpun kepada wali-wali Allah, yaitu orang-orang yang beriman lagi taqwa.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah, segeranya mereka  menjadi kafir atau terang-terangannya mereka  terhadap orang kafir dan dukungan mereka  kepada kafirin; yang kini jelas terlihat di depan kita, ternyata bukan baru sekarang terjadi. Namun sudah terjadi di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tatkala perang Uhud. Sehingga Allah Ta’ala memberi hiburan sekaligus jaminan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya agar tidak bersedih, risau, gundah gulana.

Apabila sekarang di depan kita tidak sedikit orang-orang yang mengaku Islam namun sebegitu terang-terangannya dalam membela kekafiran, kemusyrikan dan kemaksiatan dengan aneka ucapan yang menyakitkan Ummat Islam, maka hendaknya kita kembali merenungi ayat ini, dan memohon kepada Allah Ta’ala agar kita dijadikan orang-orang yang beriman dan bertaqwa, sehingga ucapan dan tingkah polah mereka  yang sangat jelas mendukung kekafiran itu tidak memberi mudharat kepada ummat Islam.

  إِنَّ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْكُفْرَ بِالْإِيمَانِ لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (177)

177. Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, sekali-kali mereka  tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun; dan bagi mereka  azab yang pedih.(Qs Ali ‘Imran: 177).

Pada ayat ini, menurut Tafsir Departemen Agama 1985/ 1986, setelah  Allah Subhanahu wa Ta’ala  membukakan kedok orang-orang yang membantu dan memihak kepada orang-orang kafir yang menentang kaum muslimin, dan menegaskan bahwa mereka  pada hakekatnya menentang dan memerangi Allah, maka pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa hal itu (yaitu balasan atas pembelaan terhadap kekafiran hingga Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka  di hari akhirat, dan bagi mereka  azab yang besar) itu juga berlaku bagi setiap orang yang lebih mengutamakan kekafiran daripada keimanan. Mereka  tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun, dan bagi mereka  adzab yang pedih. (juz 4, penjelasan ayat 177 Surat Ali ‘Imran).

Selanjutnya Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ (178 [آل عمران : 178]

178. dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka [253 dengan memperpanjang umur mereka  dan membiarkan mereka  berbuat dosa sesuka hatinya.] adalah lebih baik bagi mereka . Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka  hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka ; dan bagi mereka  azab yang menghinakan. (QS Ali ‘Imron/3: 178).

Ibnu Abbas berkata, ayat ini turun mengenai orang-orang Yahudi, Nasrani, dan munafiqin. (lihat Zadul Masir keterangan ayat 178 Surat Ali ‘Imran).

Azab yang menghinakan itu diancamkan kepada mereka , sedang mereka  diberi tangguh namun justru bertambah-tambah dosa. Tafsir Departemen Agama memberi penjelasan: Kecuali bila mereka  menambah amal salehnya yang akan mensucikan dan membersihkan mereka  dari hal-hal yang keji dan sifat-sifat yang jelek.. hal-hal seperti itulah yang akan bermanfaat bagi mereka  dan bagi manusia lainnya. Tetapi kenyataannya, mereka  tetap saja berbuat maksiat dan dosa. Dengan demikian mereka  membinasakan diri sendiri, sehingga mereka  mendapat azab siksa yang menghinakan. (lihat penjelasan ayat 178 Surat Ali Imran).

Firman Allah selanjutnya:

 مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ  [آل عمران : 179]

179. Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam Keadaan kamu sekarang ini[254 Keadaan kaum muslimin bercampur baur dengan kaum munafikin.], sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya[255 Di antara rasul-rasul, Nabi Muhammad s.a.w. dipilih oleh Allah dengan memberi keistimewaan kepada beliau berupa pengetahuan untuk menanggapi isi hati manusia, sehingga beliau dapat menentukan siapa di antara mereka  yang betul-betul beriman dan siapa pula yang munafik atau kafir.]. karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulNya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, Maka bagimu pahala yang besar. (QS Ali ‘Imron/3:179).

Salah satu sunnatullah kepada hamba-Nya yang tak dapat dirobah-robah ialah bahwa Allah Ta’ala tidak akan membiarkan orang-orang mukmin tetap di dalam kesulitan sebagaimana halnya pada peperangan Uhud. Allah akan memisahkan orang-orang mukmin dari orang-orang munafik dan akan memperbaiki keadaan orang mukmin dan memperkuat iman mereka . Di dalam keadaan sulit dan susah, dapat dinilai dan dibedakan orang-orang yang kuat imannya dengan orang-orang yang lemah imannya.

Kaum muslimin diuji sampai di mana iman dan kesungguhan mereka  menghadapi kaum kafir.

Setelah kaum muslimin mengalami kesulitan dalam peperangan Uhud karena dipukul mundur oleh musuh, dan mereka  hampir-hampir patah semangat, dikala itulah diketahui bahwa di antara kaum muslimin ada orang-orang munafik yang menyeleweng, berpihak kepada musuh. Orang-orang yang lemah imannya mengalami kebingungan. Berlainan halnya dengan orang-orang yang kuat imannya, kesulitan yang dihadapinya itu, mendorong mereka  untuk menambah kekuatan iman dan semangat mereka . (lihat Tafsir Depag RI ayat 179 Surat Ali Imran, terbitan 1985/1986).

فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ 

karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulNya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.

Imam At-Thabari dalam tafsirnya meriwayatkan dari Ibnu Ishaq, ayat ini artinya, jika kamu sekalian kembali dan bertaubat maka bagi kamu sekalian pahala yang besar. (Tafsir At-Thabari juz 7 halaman 428).

Jamaah Jum’ah rahimakumullah. Bagaimanapun, yang akan mendapatkan pahala besar dari Allah Ta’ala adalah orang-orang yang beriman lagi bertaqwa, yang kembali kepada keimanan yang benar dan bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat.

Keadaan yang dapat dilihat, ada gejala semakin berganti tahun semakin ada saja orang-orang yang makin menampakkan diri untuk bersigera dan sigap untuk mendukung, membela dan pro kepada kekafiran. Tidak segan-segan mereka  bertandang dan berucap, berbuat dan berkata yang justru menampakkan pembelaannya kepada kekafiran. Namun semua itu bukan merugikan wali-wali Allah yaitu orang-orang yang beriman dan bertaqwa, tetapi hanya merugikan bagi diri mereka  sendiri.

Semoga kita dijauhkan dari sikap dan sifat yang membela kekafiran yang jelas menghancurkan keimanan, walau semakin menggejala di aneka tempat dan disebar-sebarkan oleh media massa yang tidak suka kepada Islam. Dan semoga jaminan Allah Ta’ala bahwa mereka  itu tidak memberi bahaya kepada Allah Ta’ala yang dimaknakan oleh para ahli tafsir sebagai tidak memberi bahaya kepada wali-wali Allah yakni orang-orang yang beriman dan bertaqwa, jaminan itu semoga tertuju kepada kita semua. Sehingga walaupun semakin banyaknya orang-orang terkemuka yang bersigera dan sigap membela kekufuran dalam aneka momen dan peristiwa, namun tetap tidak menggoyahkan iman kaum mu’minin yang memegangi Islam dengan gigihnya.

Hanya kepada Allah lah kami menyembah, dan hanya kepada Allah lah kami minta pertolongan.

Semoga Allah meneguhkan iman kita. Dan perlu kita ingat pula, untuk mendapatkan jaminan dari Allah Ta’ala itu perlu kita banyak berdoa agar diteguhkan iman kita.

   Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam selalu memohon kepada Allah agar hatinya diberi kekuatan untuk tetap teguh di atas agama-Nya. Anas radhiallahu ‘anhu berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا قَالَ نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam seringkali mengucapkan, “Wahai (Dzat) Yang membolak balikkan hati, kuatkanlah hatiku di atas agamamu.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan apa yang engkau bawa, apakah engkau mengkhawatirkan kami?” Beliau menjawab, “Iya, sesungguhnya hati itu berada di antara dua jari-jemari Allah yang Dia bolak-balikkan sesuai dengan kehendak-Nya.” (HR. At Tirmidzi dan lainnya,  Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam Silsilah Shahihah no.2091.)

Imam at-Tirmidzi juga meriwayatkan dari Syahr bin Hausyab, dia berkata, “Saya berkata kepada Ummu Salamah radiyallahu ‘anha,

يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ، مَا (كَانَ) أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ عِنْدَكِ؟ قَالَتْ: كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ:يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ. 

‘Wahai Ummu al-Mukminin, doa apakah yang paling banyak yang pernah diucapkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau berada di dekatmu?’ Dia menjawab, ‘Doa yang paling banyak yang pernah diucapkannya adalah,

« يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ ».

 ’Wahai Dzat Yang Membolak-balik hati, teguhkanlah hatiku pada agamaMu’.“ (haditsHASAN SHAHIH: Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, no. 29188 dan 30397; Ahmad 6/294, no. 302, dan 315; at-Tirmidzi, Kitab ad-Da’awat, Bab, 5/538, no. 3522).

Mari kita banyak berdoa memohon kepada Allah agar diteguhkan iman kita, dan jangan sampai kita terombang-ambing oleh perkataan orang yang dusta, yang sampai berani menjamin keimanan orang lain tidak akan luntur dengan mendukung kekafiran dan semacamnya. Ketidak khawatiran akan hilangnya iman bahkan berani menjamin keimanan orang lain itu ternyata jelas-jelas bertentangan dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengkhawatirkan keimanan umatnya, hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan banyak berdoa mohon kepada Allah agar ditetapkan hati atas agamaNya.

Akhirnya, dalam kesempatan ini kami mohon kepada Allah Ta’ala:

اللهم أَصْلِحْ شَأْنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَاهْدِهِمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَ، اللهم ارْزُقْهُمْ رِزْقًا مُبَارَكًا طَيِّبًا. اللهم أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ. 
فَاتَّقُوا الله عِبَادَ ِالله ، وَخُذُوْا بِالْأَسْبَابِ الَّتِيْ تَحْيَى بِهَا الْقُلُوْبُ قَبْلَ أَنْ تَقْسُوَ وَتَمُوْتَ، فَإِنَّ ذلك مَنَاطُ سَعَادَتِكُمْ أَوْ شَقَائِكُمْ.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْوَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.

KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}

ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.

 

sumber : http://nahimunkar.com/gejala-mendukung-kekafiran-dan-berani-menjamin-keimanan-tidak-luntur/