Kisah Perjalanan Da’wah Mahasiswa STID Mohammad Natsir Dipedalaman Sintang

895

Dewandakwahjabar.com — Da’wah di pedalaman memiliki pengalaman yang unik dan menarik, banyak hal yang bisa dipelajari dan dialami para da’i ketika berda’wah di daerah pedalaman, seperti yang disampaikan oleh Musmardi Afidz, salah seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah Mohammad Natsir yang bertugas da’wah di Kabupaten Sintang Kalimantan Barat, seperti tertulis dalam surat elektroniknya sebagai berikut.

Sintang Kalimantan Barat, inilah tempat untuk saya menjalankan da’wah selama setahun. Dengan tidak banyak bertanya maka berangkatlah saya ke Sintang dengan teman yang bertugas juga di Kalimantan, akan tetapi beda Kabupaten. Hari pertama puasa kami sampai di Pontianak, maka kami mencari taksi, karena tidak ada angkot lain selain itu dan juga pengurus Dewan Da’wah tidak bisa menjemput kami. Setelah bertemu dengan Ketua Dewan Da’wah Kalimantan Barat, saya langsung berencana menuju tempat tugas, maka kami berpisah. Kini saya sendiri menelusuri setiap langkah menuju tempat tugas saya tanpa mengetahui alamatnya yang detail, yang penting mobil menuju sintang saja.

Perjalanan ke tempat tugas butuh waktu satu malam, saya berangkat jam 07.30 malam tiba 07.00 pagi. Di sepanjang perjalanan tidak ada pemandangan yang indah selain kebun sawit dan karet. Gelapnya malam ditambah lagi jalannya yang rusak parah sehingga mata saya tidak bisa terpejam.

Datanglah cahaya pagi dan mobil pun tiba di terminal, kemudian mencoba menghubungi Ketua Dewan Da’wah Sintang, terjadilah dialog yang mendebarkan hati saya. “Pak saya sudah diterminal Sintang”, tutur saya ditelpon, “diterminal mana? Di Sintang ada tiga terminal”. Jawab bapak Sumarno Ketua Dewan Da’wah Sintang.

Wah, hati saya berdebar-debar, seorang diri tak tahu berada dimana, kemudian mencoba cari tahu terminal apa namanya ini, tertulis lah terminal Sungai Durian terus saya bilang ke bapak yang menjemput saya.

Setelah menunggu sekitar sejam saya dijemput, kemudian langsung menuju rumah yang akan saya tempati selama bertugas. Tepat di depan Masjid Al-Muhajirin itulah tempat tinggal saya. .

 

Indahnya da’wah

Hari puasa yang ke-17, saya diminta untuk mengisi ceramah yang bertempat di Desa Kajang tempat transmigrasi dari Jawa Timur tahun 80-an. Sorenya saya dijemput, kemudian berangkat dengan sepeda motor, lima jam dibutuhkan untuk menuju ke sana pulang pergi. Kami melalui jalan pelosok yang melewati luasnya kebun-kebun sawit dan karet, sepanjang jalan cuma kendaraan kami saja yang ada, kiri kanan tidak ada lagi selain kebun sawit dan karet. “Kalau bensinnya habis bisa bahaya ini dihutan tidak ada yang jualan lagi”, dalam hati saya.

Motor kami pun terus melaju dengan cepat, kadang lewatlah mobil yang mengangkut sawit. Setelah menempuh perjalanan melelahkan, akhirnya sampailah kami di Desa Kajang, badan saya sakit dan tidak bisa ditegakkan karena akibat kondisi jalannya yang rusak parah. Dengan menahan sakit saya pun menyampaikan tugas saya yaitu ceramah Nuzul Qur’an.

Kemudian kami pamit karena hari sudah larut malam, perjalanan pulang penderitaannya sama dengan perjalanan pergi tadi, ditambah angin tengah malam di antara kebun kebun sawit dan karet, akibatnya badan saya pun menggigil. Dengan selamat saya sampai di rumah dan langsung istirahat karena seluruh badan kesakitan. Satu minggu saya harus istirahat di rumah karena itulah perjalanan pertama kali saya. Kemudian setelah itu saya menginginkan perjalanan berikut ke berbagai pelosok lagi.

Di bulan Ramadhan, Allah menurunkan hidayah kepada dua orang yang beragama Katholik menyatakan keislamannya di dua tempat yang berbeda. Dua orang ini juga saya bimbing setiap hari dengan mengajarkan aqidah, shalat dan membaca Al-Qur’an. Karena jaraknya juga bisa saya jangkau tidak terlalu jauh dari tempat saya tinggal. Kemudian bulan berikutnya, ada banyak juga yang masuk Islam, kemudian  meminta untuk dibimbing karena jarak jauh maka saya minta orang setempat untuk membimbing mereka.

Sintang merupakan salah satu Kabupaten di Kalimantan Barat yang tergolong wilayah hulur (pedalaman). Masyarakatnya terdiri dari berbagai suku yaitu suku Dayak/Melayu (suku asli), suku dari Jawa, China dan lainnya. Kebanyakan penduduk yang berada di kotanya adalah pendatang dari Jawa ketika transmigrasi tahun 80-an yang kini berkat kesabaran dan kerja kerasnya sudah menjadi makmur dengan mempunyai banyak tanah dan penghasilan lainnya, dan sekarang dari desa pindah menetap ke Kota Sintang.

Islam berkembang  lebih banyak di Kotan, Kristen lebih banyak di desa-desa, demikian juga Katholik, Hindu, dan Tionghoa.

Agama yang mendominasi kota Sintang adalah Kristen, itu bisa dilihat dari lembaga pemerintahan seperti bupati, camat dan berbagai elemen penting lainnya di pemerintahan dipegang oleh orang yang beragama Kristen.

Perkembangan agama Kristen didukung oleh mereka yang berada di pemerintahan sehingga jumlah gereja sudah mengalahkan banyaknya masjid.

“Kabupaten Sintang merupakan target untuk dijadikan kampung Kristen, seperti terjadi di Singkawang telah menjadi kampung China, karena tidak dida’wahkan lagi ajaran Islam”, pesan ustadz Nasrullah Ketua Dewan Da’wah Kalimantan Barat kepada saya.

Hari-hari berlalu, kegitan saya bertambah menjadi muazzin dan imam shalat.

Permasalahan yang terjadi di kota Sintang antara lain  masih kuatnya ta’assub pada suku masing-masing, kepedulian sosial masih sangat kurang antar sesama, terjadi konflik antar masing-masing kalangan seperti kalangan Muhammadiyah dengan NU, masih ada kepercayaan yang berasal dari Jawa seperti juru kunci,  Kristenisasi sangat kuat di daerah pedalaman, susahnya minat masyarakat dalam menghadiri kegiatan keislaman, disibukkan dengan mencari penghasilan lebih, susahnya mencari sosok pribadi seorang ustadz, sehingga pada setiap hari jum’at ada masjid yang tidak melaksanakan jum’atan karena tidak ada khatib .***oleh admin STID M.Natsir