Kesesatan Syiah Menurut Ibnu Khaldun

877

Akhir-akhir ini, para penganut, pendukung, dan pejuang Syiah di Indonesia merasa di atas angin. Selain terbitnya buku “Syiah Menurut Syiah, 2014″ oleh organisasi resmi Syiah, Ahlul Bait Indonesia (ABI) yang diberi kata pengantar oleh Bapak Menteri Agama, Drs. H. Lukman Hakim Saefuddin, juga dihelatnya sebuah acara Konferenasi Internasional Gerakan Ekstrimisme dan Takfiri dalam Pandangan Ulama Islam “World Congress on Extremist and Takfiri Movements in the Islamic Scholar’s View” (23-24/11/2014) di Kota Qum Iran yang dihadiri 80 negara yang disaring dari 2000 tokoh di seluruh dunia, lalu dipilah dan diundang sekitar 420, dan akhirnya yang hadir 315 orang, dengan prosentase 40% Syiah dan 60% Ahlussunnah, tokoh-tokoh tersebut diambil dari mereka yang punya pengaruh dari kalangan ulama, intelektual, dan akademisi, yang memiliki semangat persatuan dan kesatuan serta melawan segala bentuk ekstrimisme takfiri, (www.abna.com. 23/11/2014).

Dari Sulawesi, ada beberapa tokoh akademis dan ulama yang turut diundang ke acara konferensi internasional tersebut. Melihat tema konferensinya, secara substansial pasti kita setuju semuanya, karena menekankan persatuan (al-ittihad), persaudaraan antarsesama muslim (ukhuwwah islamiyah), mereduksi segala bentuk kekerasan tanpa alasan syar’i, bahkan mengkafirkan sesama muslim tanpa merujuk pada ketetapan dalil baik Al-Qur’an, sunnah, dan fatwa para ulama muktabar.

Namun persoalannya tidak sampai di situ. Kedatangan para ulama dan akademisi dari kalangan Ahlussunnah ke Qom, Iran untuk menghadiri konferensi internasional tersebut menjadi bahan jualan para penganut dan pejuang Syiah Indonesia, lebih khusus yang kuliah di Iran dan mendapat beasiswa.

Ismail Amin misalnya, selain menulis artikel di koran-koran lokal Makassar, Ulama Susel dan Islam Rahmatan Lil-Alamin,(Tribun Timur. 28/11/2014); Pesan Perdamaian dari Rakyat Persia, (Harian Fajar, 29/11/2014) dengan menyebut sederet tokoh lintas organisasi dan lembaga pendidikan di Susel yang turut hadir dalam perhelatan ilmiah tersebut. Umpama nama-nama, Prof. Dr. Qadir Gassing sebagai Rektor UIN Alauddin Makassar Prof. Dr. Arifuddin Ahmad, sebagai Dekan Fak. Ushuluddin dan Filsafat, Dr.KH. Mustamin Arsyad, atas nama MUI Makassar, dan seabrak nama tokoh lainnya, lokal maupun nasional.

Persoalannya semakin rumit, karena ia memaksakan kehendak–setidaknya dalam berbagai pernyataannya di media sosial, Facebook–bahwa kedatangan para ulama dan tokoh tersebut sebagai bentuk kekagumannya atas para ulama di Iran, bahkan menurut pria yang mengaku kuliah di Mostafa University of Iran, banyak dari ulama kita yang antre untuk hanya sekadar cipika-cipiki dengan para Ayatollah.

Kekaguman para ulama dan tokoh akademis, baik lokal (Makassar) maupun nasional, kepada ulama Syiah Iran dimanfaatkan sebagai legitimasi keshahihan ajaran Syiah, sekaligus sebagai propaganda penyebaran Syiah di Indonesia. Dan ini memang sudah menjadi taktik Syiah dalam melanggengkan penyebaran faham mereka di tengah masyarakat Ahlussunnah. Bahkan, nama saya pun dibawa-bawa yang konon sangat tertarik untuk berkunjung ke Iran, namun karena permasalahan visa sehingga tidak dapat mengunjungi negeri para mullah itu. Tentu saja, ini adalah tuduhan tak berdasar rekaan Ismail Amin.

Padahal sejatinya, para ulama, terutama dari Makassar yang berangkat ke Iran untuk menghadiri konferensi Internasional tersebut tidak ada sangkut-pautnya dengan legitimasi ajaran Syiah dan dukungan penyebarannya di kalangan masyarakat berpaham Ahlussunnah. Kedatangan mereka jelas dengan tujuan mulia, ukhuwah islamiyah dan mereduksi kekerasan atas nama agama.

Karena itu, perbuatan konyol, bahkan sebuah fitnah yang keji jika harus menjual nama para tokoh dan ulama kita untuk melegitimasi ajaran sesat Syiah, yang sudah difatwakan kesesatannya, mulai dari Imam Syafi’i pada abad ke-3 Hijriah hingga penganut mazhab Syiafi’i abad ke-15 Hijriah ini.

***

Karena para pengusung dan pengasong aliran sesat Syiah di Indonesia banyak menjual nama-nama tokoh dan ulama untuk melegitimasi dan menjustifikasi kebenaran ajaran mereka, supaya dapat disebarkan dengan mudah dan diterima masyarakat umum. Maka ada baiknya jika kita kembali menoleh ke masa lalu. Khususnya mengangkat pemikiran dan pemahaman ulama muktabar kita, yang telah diakui kepakarannya oleh para  ilmuan, Timur maupun Barat. Salah satunya adalah Ibnu Khaldun (1332-1406 M).
Dalam Magnum Opusnya, yang diberi judul “Al-Muqaddimah” sebagai pengantar kitab induknya “Al-Ibar, wa Diwan Al-Mubtada’ wa Al-Khabar, fi Ayyam Al-’Arab wa Al-’Ajam wa Al-Barbar, wa man Asharuhum min dzawi As-Sulthani Al-Akbar”.

Tentang kehebatan dan derajat keilmuan Ibnu Khaldun, saya kutip perkataan seorang orientalis sekaligus pakar sejarah, Arnold Toynbee, “In the Prolegomena [Almuqaddimat] to his Universal History he has conceived and formulated a philosophy of history which is undoubtely the greatest work of its kind that has ever yet been created by any time or place.” (Lihat, A Study of History: The Growths of Civilization [New York: Oxford University Press, 1962]). Syamsuddin Arif menyebutnya, Kitab “Al-Mukaddimah” Karya Ibnu Khaldun tak ubahnya bagaikan kapsul yang memuat ekstrak prinsip-prinsip yang bekerja di balik aneka manifestasi ilmu pengetahuan, pencapaian, dan pengalaman manusia dari masa ke masa, (Orientalis & Diabolisme Pemikiran, Jakarta: Gema Insani, 2008).

Kepakaran Ibnu Khaldun dari berbagai disiplin ilmu, terutama sosiologis sudah diakui oleh jumhur ulama dan ilmuan, karena itulah dia mendapat gelar “Bapak Sosiologi”. Kali ini saya tidak mengangkat masalah sosiologis dalam kitab Al-Muqaddimah, melainkan pemaparan dan pandangannya terhadap aliran sesat Syiah.

Pada Pasal ke-27, Kitab “Kerajaan-Kerajaan Secara Umum, Kerajaan, Kekhalifahan, Jabatan Kepemimpinan, dan Semua yang Berhubungan dengannya.”. Dengan tema “Aliran-aliran Syiah dan Hukum Menegakkan Imamah”, Ibnu Khaldun memulai pembahasannya dengan memaparkan arti Syiah dari segi etimologi dan terminologi.

Katanya, Asy-Syi’ah secara etimologi berarti sahabat dan pengikut. Sedangkan dalam terminologi, para pakar hukum Islam dan pakar ilmu kalam, baik klasik maupun kontemporer diartikan sebagai pengikut Imam Ali bin Abi Thalib. Seluruh aliran Syiah bersepakat bahwa imamah bukanlah kepentingan umum, yang persoalannya diserahkan pada pilihan masyarakat dan pengangkatannya tergantung mereka. Imamah merupakan salah satu rukun Islam dan perinsip dalam Islam menurut Syiah.

Tidak seorang Nabi pun–lanjut Ibnu Khaldun–bagi Syiah boleh melalaikannya dan tidak pula melimpahkannya kepada masyarakat. Mereka harus mengangkat pemimpin dari golongan mereka sendiri, dan imam yang diangkat sebagai pemimpin itu harus bersifat ma’shum atau terbebas dari dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil.

Syiah meyakini, terang Ibnu Khaldun, bahwa Ali bin Abi Thalib telah diangkat Rasulullah menjadi imam berdasarkan teks-teks yang mereka kutif dan mereka takwilkan sesuai kehendak, yang sama sekali tidak dikenal oleh para ulama Ahlussunnah wal Jamaah, dan tidak pula terdapat dalam kitab hadis. Teks-teks yang mereka kutip sebagian besar adalah maudhu’ alias palsu belaka, terdapat cela dalam sanadnya, atau terjadi penakwilan yang menyimpang terlalu jauh. Bagi orang Syiah, teks-teks tersebut terbagi menjadi dua bagian, jali atau tersurat dan khafi atau tersirat, (Ibnu Khaldun, Al-Muqaddimah, [terj.], Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001). Penjelasan Ibnu Khaldun terkait kesesatan Syiah begitu panjang, gamblang, dan sistematis.

Pernyataan di atas sudah cukup memadai untuk menetapkan bahwa epistemologi akidah syiah sangat rapuh bahkan tidak berdasar karena berpijak di atas dalil yang absurd.

Segenap ajaran agama Syiah tidak terbangun di atas Al-Qur’an dan hadis sebagaimana dipahami Ahlussunnah, melainkan membangun ajaran sendiri dari dalil yang mereka tafsirkan secara serampangan, dan pada tahap tertentu menciptakan ayat dan hadis palsu untuk menjustufikasi ajaran mereka.

Wajar saja, jika pembahasan masalah Syiah, dalam Al-Muqaddimah, ditutup oleh Ibnu khaldun dengan perkataan, Allah berkuasa menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk menuju jalan yang lurus kepada siapa saja yang dikehendakinya.

Maksudnya, Allah menyesatkan Syiah dan membiarkan mereka terus berkubang dalam kesesatan, dan Allah senantiasa memberi petunjuk dan jalan yang lurus kepada golongan Ahlussunnah wal-Jamaah.Wallahu A’lam!

Penulis : Ilham Kadir, Peserta Kaderisasi Seribu Ulama Baznas-Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia/Mahasiswa Doktor Pendidikan Islam UIKA Bogor.

Sumber : miumipusat.org