Jangan Mulai Lagi dari Nol

939

Dewandakwahjabar.com — Ramadhan datang, Ramadhan pergi. Begitulah sunnatullah yang berlaku pada kehidupan alam semesta ini. Keadaan yang melingkupi diri seorang mu’min dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya pun hampir pasti berbeda-beda.

Kesadaran Hakiki

Hampir merata setiap mu’min terpanggil dan tergugah kesadaran hakikinya sebagai hamba Allah s.w.t. begitu Ramadhan datang. Gegap gempita kaum mu’minin di seantero dunia dalam menyambut dan mengisi bulan suci Ramadhan adalah merupakan indikasi yang paling mudah dibaca. Masjid penuh sesak, tilawah al-Qur’an yang menggema membahana naik ke langit dari hampir setiap rumah tangga mu’min, bahkan dari kantor, stasiun dan pasar sekalipun. Busana muslimah yang rapi dan anggun mewarnai hampir setiap komunitas termasuk komunitas sinetron dan bisnis. Kesalehan sosial pun segera tampak, dari sejak memberi makan berbuka (ifthâr ash-shâimîn) sampai berbagai bentuk kepedulian sosial yang lebih berkualitas. Jangan lagi dipertanyakan kajian-kajian keislaman yang beragam dan semakin intens saja. Dan mata pun begitu murah dan gampang berurai berlinang air mata. Bi Dumuw’i Al-îmân Nastaqbil Ramadhan. Dengan air mata iman kita sambut (dan jalani) Ramadhan. Begitu judul buku yang ditulis oleh Syaikh Sulaiman Abdul Karim Al-Mufrij.

Tentu, itu semua tidak menafikan adanya sebagian mu’minin yang merasa terpasung dan terpenjara oleh Ramadhan, yang melewati hari-hari Ramadhan dengan rasa kesal, sesak nafas, menggerutu dan berbagai sumpah serapah. Na‘ûdzubillâh min dzâlik!.(Ashnâfun Nâs Fî Ramadhan, Syeikh Muhammad bin Abdul Azis Al Musnid)

Peningkatan Siklikal

Kini, sesudah Ramadhan berlalu, adakah telah terjadi peningkatan kualitas diri seorang mu’min secara signifikan?

Perhatikanlah peringatan Allah Swt dalam Al Qur’an (Q.S. 16 : 92) yang artinya : ”Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali,”

Ayat di atas (Q.S. 16:92) sesungguhnya memberikan peringatan dini terhadap setiap mu’min agar tidak bersikap dan berlaku naïf: Ibarat perempuan yang memintal, menenun benang helai demi helai. Berhari, berpekan, bahkan berbulan hingga menjadi kain yang kuat dan indah. Bisa bermanfaat untuk berbagai jenis pakaian dan asesoris. Tetapi tiba-tiba mengurainya kembali helai demi helai terburai tak menentu, bahkan menjadi benang kusut tak bernilai lagi sama sekali. Segalanya hilang percuma. Sungguh tamtsil Qur’ani balîgh, permisalan Qur’ani yang sangat tepat, bagi sebuah kekonyolan amal.

Dalam konteks shaum (puasa), peningkatan seperti ini adalah peningkatan yang siklikal, (al-Irtifâ‘ ad-Daury), amalan-amalan meningkat tinggi dan bahkan drastis. Tetapi usai Ramadhan turun drastis pula. Maka setiap Ramadhan memulai diri dari nol. Nol besar!

Inilah kondisi buruk seorang mu’min yang -apa boleh dikata- diaminkan Rasulullah s.a.w. sebagai orang yang rugi (ketika Jibril a.s. memberitakan kondisi itu kepada Rasul): “Rugi bagi seseorang yang (dalam hidupnya) dilewati bulan Ramadhan, hingga Ramadhan kemudian berlalu, ia tidak diampunkan dosanya oleh Allah s.w.t. (HR. Bukhari dan Baihaqi).

Dalam konteks da‘wah dan amal jama’i kondisi ini dilukiskan seorang penyair: Kapan sebuah bangunan mencapai hari selesainya? Jika anda membangunnya, sementara selain anda menghancurkannya.

Peningkatan Struktural

Maka, pengingkatan kualitas yang mesti diupayakan oleh diri seorang mu’min dengan ibadah shaum dan ibadah-ibadah lain yang menyertainya adalah peningkatan struktural (al-irtifâ at-tashâ‘udy), peningkatan secara berjenjang, ibarat struktur anak tangga. Jangan lagi mulai dari nol! Artinya setelah gegap gempita amaliah satu Ramadhan, menurun normal pada bulan Syawwal, tetapi naik dari nol ke anak tangga satu.Posisi anak tangga satu (dari bawah) dijaga sepanjang bulan-bulan berikutnya. Jika Ramadhan datang lagi mulai dari satu, dan bukan dari nol lagi. Begitu seterusnya, meningkat secara berstruktur. Rindu lagi Ramadhan, meminjam ungkapan puitis Taufiq Ismail, menjadi lebih bermakna.

Memelihara Moment Ramadhan

Ramadhan adalah moment ketaatan dan kepatuhan hamba, moment taqarrub ilallah, moment kepedulian sosial dan moment pembelaan terhadap kesucian al Islam dan masa depannya. Moment-moment imani (mawâqif îmâniyah) ini haruslah dijaga seterusnya.

Allah Yang Maha Mengetahui dan Menghitung amal manusia di bulan Ramadhan, Dia jugalah yang berkuasa menghitung segala amal hamba-Nya di bulan-bulan lainnya. Tak terjadi pergeseran penguasa. Penguasa tunggal: Allah s.w.t. Secara deskriptif, pemeliharaan moment-moment itu, bisa dilakukan melalui, antara lain:
1. Al-Iltizâm bi shalâtil jamâ‘ah fil masjid (komited dengan shalat jama’ah 5 waktu di masjid).
2. Mudâwamatu tilâwatil Qur’ân (melestarikan baca dan tadâbbur al-Qur’ân).
3. Mudâwamatu qiyâmi’l-lail (melestrikan shalat malam atau tahajjud).
4. Hifdzul lisân wal bashar wal faraj (menjaga lisan, mata dan kehormatan).
5. Al-‘Inâyah bil mustadh-‘afîn (peduli terhadap yang lemah dan dilemahkan).
6. Al Hirsh ‘alal ‘ulûmin-nâfi’ah (getol berusaha menuntut ilmu-ilmu yang bermanfaat)
7. Ad-Da‘wah Ilallâh wa ad-difa’ ‘anil Islâm (dakwah ilallah dan membela al-Islam)
8. Ijtinâbul Ma‘ashi wal-munkarât (menjauhi berbagai kemaksiatan dan kemungkaran)
9. At-Tawarru’ ‘anisy-syubuhât (memelihara diri dari segala yang samar/bias)
10. Muzâwalatu ruhit Tadhhiyah wal itsâr (terus melatih memupuk semangat berkorban dan mendahulukan kepentingan orang lain).

Konsistensi wajah dan wijhah menuju dien yang benar dan lurus, yang telah terbina baik sepanjang Ramadhan, sudah barang pasti haruslah dijaga. (Wasâ’ilus Tsabât ‘Alâ Dînillâh, Syeikh Muhammad Shalih Al Munajjid)

Perhatikanlah perintah Allah Swt dalam ayat berikut ini (Q.S. 30 : 30) : “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (ar-Rum 30)

Ya Allah, berikanlah hamba kesempatan mereguk kenikmatan surgawi Ramadhan tahun depan, tanpa harus memulai lagi dari nol. Amin ya Rabbal ‘âlamîn.

Khatimah

Akhirnya, marilah kita semua menundukkan hati kita untuk bermunajat, berdo`a kepada Allah Swt agar memberikan kekuatan dan kesabaran kepada kita untuk senantiasa istiqamah melaksanakan perintah-Nya dan mengikuti jejak Rasulullah Saw, dalam segala aspek kehidupan kita. Semoga Allah menta`lifkan (menyatukan) hati kita dalam kalimah Tauhid La Ilaha Illallah, Muhammadur Rasulullah.

Semoga Allah Swt menjauhkan kita semua dari segala perilaku yang bisa merusak nilai-nilai Ramadhan yang telah kita raih selama ini. Dan semoga kita semua menghadap kepada Allah dalam keadaan khusnul khatimah.*** (Ust. Muzayyin A. Wahab)