Indahnya Ayat-Ayat Shiyam

1981

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًۭى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍۢ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ
وَٱلْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ
سَفَرٍۢ فَعِدَّةٌۭ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ
وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Bulan Ramadhan, didalamnya diturunkan (permulaan) al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan megenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian. Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur.” (Q.S .Al-Baqarah (2) :185)

IMAM Ibnu Katsir mengatakan, Allah s.w.t mengistimewakan bulan Ramadhan dari 11 bulan yang lain, karena Qur’an dan kitab suci sebelumnya, turun di bulan ini. Tak ada satu bulan penuh yang namanya disebut secara ekplisit dalam al-Qur`an, kecuali bulan Ramadhan. Bulan-bulan yang lain hanya diisyaratkan secara implisit ketika al-Qur`an menyebut bilangan bulan (Q.S 9 : 36)

Realitas ini sudah cukup menunjukkan keistimewaan dan keagungan bulan Ramadhan. Qur`an Surat Al-Baqarah (2) ayat 185 di atas memberikan penjelasan lebih lanjut. Disebut nama bulannya, syahru Ramadhan, bulan Ramadhan. Disebut peristiwa besar yang terjadi pada bulan itu yang punya arti besar bagi manusia dan kemunusiaan, Alladzi Unzila fîhil Qur`ân. Disebutkan fungsi al Qur`an yang turun di bulan Ramadhan tiu, Hudan linnâs wa bayyinâtin minal hudâ wal furqân. Disebutkan bagaimana sikap seorang mukmin kalau bulan Ramadhan itu datang apa yang mesti dilakukan?, faman syahida minkumus syahra fal yashumhu, barang siapa di antara kamu sekalian (mukminin) hadir atau menyaksikan wajiblah ia shaum. Kewajiban shaum ini berlangsung sebulan penuh. Tapi syari`at Islam itu tegas, luwas dan luwes. Ada ketegasan tapi juga ada fleksibilitas yang terkait dengan kondisi riil seorang mukmin tatkala melaksanakan kewajiban syar`i itu. Maka, berikutnya disebutkan pula alternatif syar`i ketika seorang mukmin tidak bisa shaum pada bulan itu sebagaimana mestinya atas alasan-alasan syar`i pula. Faman kana marîdhan au `alâ safarin fa`iddatun min ayyamin ukhara, barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka, tidak berpuasa) maka, (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya, itu pada hari yang lain.

Penyebutan sakit dan safar (dalam perjalanan) sebagai alasan syar`i karena dua hal inilah yang paling umum dan banyak terjadi pada kehidupan manusia. Bahkan keadaan-keadaan yang lain yang bisa dipandang udzur syar`i, umumnya terpulang pada kedua hal tersebut. Aturan itu ditetapkan Allah melalui kitab Nya justru karena syari`at Islam itu diperuntukkan bagi manusia dan tentu saja ia mudah dan berada dalam koridor kemampuan manusia itu sendiri. Yurîdu bikumul yusra wala yurîdu bikumul ‘usr, Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki (mem-bebankan) kesusahan padamu. Aturan itu ditetapkan oleh Allah agar kaum mukminin tetap bisa melaksanakan kewajiban shaum itu dengan sempurna (apapun keadaan yang menimpa dirinya), dan senantiasa bisa mengagungkan Allah s.w.t. atas hidayah Nya bagi mereka dan lebih dari itu agar terus pandai bersyukur kepada-Nya. Walitukmilul iddata, walitukab-birullâha `alâ mâ hadâkum, wala`allakum tasykurûn.

Karakteristik Ayat Shaum

Jika dicermati dengan seksama, ada tiga karaktreristik utama pada ayat kewajiban shaum (Q.S. 2:183).

Pertama: husnu an-nidâ` Lî Fardhi as-shiyâm, panggilan yang baik, indah dan khas untuk siapa kewajiban shaum ini dibebankan. Yâ ayyuha’lladzîna amanû, kutiba `alaikumus shiyâmu, wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kami sekalian shiyam. Bukan sembarang manusia yang dipanggil, diseru untuk bershaum, hanya orang-orang yang beriman. Maka menjawab panggilan yang khas itupun harus dengan cara yang khas pula. Cara yang khas itu disebutkan dalam hadits Nabi sebagai Îmânan wa ihtisaban dengan sepenuh iman dan sepenuh pengharapan hanya kepada Allah, tidak karena alasan dan motivasi yang lain. (lihat hadits Al-Bukhari).

Kedua: ‘Ardhu at-tajârubi al-umami as-sâbiqah, pengungkapan pengalaman ummat-ummat terdahulu (sebelum ummat Nabi Muhammad s.a.w.). Kamâ kutiba ‘alâ’lladzîna min qablikum, sebagaimana apa yang telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu. Ini menunjuk pada dua hal utama. Di satu sisi menunjuk pada adanya ajaran shiam yang telah ditetapkan kepada pengikut para Nabi terdahulu. Karena shaum bukan hanya kewajiban atas pengikut Muhammad Saw.saja, walaupun tentunya syari`at shaumnya berbeda-beda. Di sisi lain, ada realitas sosial pada ummat terdahulu, dimana ada yang menyambut kewajiban itu dengan positif dan baginya balasan kebaikan yang lebih baik, dan ada juga yang membangkang dan mereka terkena sanksi oleh Allah. Realitas ini harus menjadi ibrah, pelajaran, bagi kaum mukminin yang selalu rindu rahmat dan karunia Allah Swt.

Ketiga : Bayânu Hikmati at-Tasyrî‘ adanya penjelasan langsung hikmah disyari`atkannya shaum. Hikmatut Tasyri` oleh sebagian ulama disebut al-Maqasid as Syar`iyah, sementara Imam al-Ghazali menamakannya Asraru al-ibadah, rahasia di balik ibadah. Penjelasan itu sekaligus sebagai penutup ayat, la`allakum tattaqun, agar kamu sekalian menjadi orang-orang yang bertaqwa, yang terpelihara dari murka Allah. Agar seseorang meraih derajat yang amat tinggi di sisi Allah, dimana taqwa itu menjadi indikator utamanya. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu sekalian di sisi-Nya adalah siapa yang paling bertaqwa (Q.S 49 : 13).

Pemahaman terhadap hikmah disyari`atkannya sesuatu menjadikan seseorang akan bisa melaksanakan syari`at itu (dalam hal ini shaum) dengan sepenuh hati, ikhlas dan penghayatan yang dalam untuk meraih hikmah tersebut secara maksimal. Sehingga shaum yang dilakukan tidak sekedar sebuah rutinitas ritual yang kosong dari makna.

Paket-Paket Ibadah Ramadhan

Di bulan yang amat istimewa dan penuh keberkahan ini setiap mukmin berkesempatan sama untuk melaksanakan paket-paket ibadah sesuai dengan tuntunan Al-Qur`an dan As Sunnah.

Sekurangnya ada sepuluh paket ibadah Ramadhan yang bisa dilacak akar perintah dan anjurannya dari kedua sumber utama itu, yaitu :
1. Shaum (puasa) Ramadhan
2. Qiyâm Ramadhân (shalat Tarawih)
3. Tilâwah (membaca dan meng-hayati) al-Qur`an
4. Ifthâr Shâimîn (memberi makan berbuka)
5. Taktsir as Shadaqât wal Infâq (memperbanyak shadaqah dan infaq)
6. Al-I`tikâf fil `Asyril Awâkhir (I`tikaf 10 hari terakhir)
7. Taharri Lailatil Qadar (mengintip lailaitul qadar dengan memperbanyak ketaatan dan ibadah)
8. Umrah fî Ramadhân (Umrah di bulan ramaadhan)
9. Al-Qitâl fi Sabîlillâh (Berperang di jalan Allah)
10. Zakatul Fithri (Mengeluarkan Zakat Fitrah)

Paket ke 1 dan ke 10 merupakan paket wajib, yang harus dikerjakan setiap mukmin, tanpa kecuali. Sementara paket-paket yang lain (2-9) adalah paket-paket pilihan yang semakin banyak dan maksimal paket-paket tersebut dipilih seorang mukmin, semakin potensial insya Allah meraih puncak hikmah shiyam, meraih derajat taqwa, la`allakum tattaquun

Optimalisasi Ramadhan untuk Tarbiyah

Melalui berbagai ibadah Ramadhan yang diperintahkan dan dianjurkan dalam al Qur`an dan as Sunnah, kaum mukminin sebenarnya bisa menjadikan bulan Ramadhan sebagai kawah candradimuka, untuk melakukan tarbiyah (pendidikan) secara intens bagi perbaikan dirinya baik dalam kehidupan individu maupun sosial, sehingga bisa menghadirkan Islam sebagai rahmatan lil `alamin.

Pertama, Tarbiyah Îmâniyah, karena shaum memang menjadi tuntutan manifestasi Iman dan di atas landasan iman shaum itu dilaksanakan. Iman bukan sekedar keyakinan yang verbalistik, tapi harus tampak nyata dalam realitas hidup mukmi, amal kebajikan nyata.

Kedua, Tarbiyah Rûhiyah, yang bertujuan melakukan pensucian jiwa (Tazkiyah Nafs), karena dengan shaum kotoran dan daki-daki yang melekat pada hati seorang mukmin berupa dosa-dosa dan maksiat di ampuni oleh Allah s.w.t.

Ketiga, Tarbiyah Ijtimâ‘iyah, pendidikan sosial kemasyarakatan, di mana kepedulian dan keberpihakan diri kepada mustadh`afin (orang-orang lemah dan dilemahkan) ditanamkan begitu rupa melalui ibadah ramadhan tersebut.

Keempat, Tarbiyah Akhlâqiyah, pendidikan akhlaq, utamanya akhlaq muslim dalam tata pergaulan umum, di mana kejujuran menjadi sendi tegaknya kehidupan sosial yang harmonis dan saling mempercayai. Itulah sebabnya shaum menjadi tidak bernilai manakala dusta dan bertindak atas dasar kedustaan masih menyertai (hadits riwayat al-Bukhari)

Kelima, Tarbiyah Jihâdiyah, pendidikan kesungguhan dan kesiapan untuk memberikan apa yang dimiliki seorang mukmin untuk tegaknya Dinul Islam, bahkan andaipun harus berperang di jalan Allah dan itu di hari-hari Ramadhan, seperti banyak perang dijumpai dalam Sierah Nabi dan Shahabat. Wallahu a’lam bi’sawwab.(Ust. Muzayyin Abdul Wahab)