HATI YANG SAKIT, SENANG MENYAKITI

796

(Sebuah catatan untuk Irfan Ama Lee)
Oleh: Drs. Muhsin MK (Anggota Majelis Syuro Dewan Da’wah Jabar)

Dewandakwahjabar.com — Gema mujahidin 28 September 2012 memuat sebuah tulisan yang menarik, judulnya: “Hati Yang Sakit Cenderung Menyakiti”.

Awal tulisan bicara tentang Nicoula Basseley pembuat film “The Innocent of Islam” yang disebutnya sebagai orang sakit, baik fisik maupun hatinya. Dengan membuat film itu dia telah menyakiti ummat Islam, sehingga penulis mengemukakan, “jutaan ummat Islam disekitar dua puluh Negara turun ke jalan bukan saja mengutuk film itu, tapi juga mengutuk Amerika sebagai Negara yang membiarkan warganya menghina agama”.

Selanjutnya dipaparkan jumlah orang yang tewas dalam gelombang protes, termasuk apa yang dilakukan oleh pejuang Afghanistan sebagai respons terhadap film tersebut. Lalu kalimat komentar penulis pun tertulis jelas, “Sebuah film dibuat oleh orang sakit, telah membuat jutaan orang sakit dan balik menyakiti”.

Ketika menyebut si pembuat film orang sakit adalah tepat yang dikemukakan oleh penulis, karena orang seperti itu disebutkan dalam Al-Qur’an, “Di dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah tambah penyakitnya, dan bagi mereka adzab yang pedih disebabkan mereka berdusta”. (QS.2:10).
Namun ketika disebut, “telah membuat jutaan orang sakit dan balik menyakiti”, ada logika yang perlu diluruskan, apakah jutaan muslim yang melakukan protes terhadap penghinaan agama, iman, nabinya itu dapat dikatakan sebagai orang sakit?

Hal ini perlu penelitian ilmiah untuk menguji kebenaran pernyataan tersebut, sebab bisa saja dikatakan pemerintah Amerika yang didukung oleh rakyatnya melakukan pengeboman di Irak dan Afghanistan sehingga menewaskan ribuan orang Muslim tak berdosa dan membuat mereka mengungsi dalam keadaan menderita dari negaranya setelah peristiwa “11 September” karena “Amerika sakit dan balik menyakiti”, sebagai reaksi atas perlakuan “teroris yang sakit”?

Reaksi ummat Islam terhadap film itu juga apakah dapat dikatakan reaksioner dan melakukan kekerasan, atau apakah dapat juga dikatakan reaksi orang Yahudi Israel terhadap pidato Ahmadinejad di PBB yang mempersoalkan sejarah Hollacous itu juga reaksioner, dan Pemerintah Israel membombardir pemukiman ummat Islam Palestina sehingga menimbulkan jatuhnya ribuan korban yang tidak berdosa sebagai kekerasan?

Seorang Muslim tetap harus obyektif dan kritis dalam berfikir, menulis dan bertindak, namun tidak dibenarkan diam seribu bahasa manakala agama, nabinya, kitab sucinya dihina, sudah seharusnya melakukan “protes, aksi dan gugatan dengan cara cara yang dibenarkan Islam dan hukum yang berlaku secara damai dan beradab.”

Apalagi seorang Muslim terpelajar yang memahami tentang agama, hukum dan etika, termasuk yang sedang melakukan studi di Amerika sejatinya melakukan sesuatu dalam membela agama dan saudarannya sesama Muslim, dengan jalan menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya kepada rakyat Amerika dan dunia Barat, meluruskan berita berita di media yang menyudutkan dan tidak berpihak kepada Islam, agar mereka tidak terus menerus menyakiti agama dan Nabi ummat Islam dengan cara apapun, hanya dengan dalih kebebasan berexpresi.

Karena itu pembelaan terhadap agama, apapun agamanya, para pemeluk agama yang melakukan aksi protes terhadap penghinaan agamanya tidak dapat dikatakan sebagai orang sakit, sehingga tidak sepantasnya, dan tidaklah beradab pula, jika penulis berpandangan bahwa muslim yang melakukan aksi protes terhadap film itu dikatakan sebagai orang yang sakit. Sebab dalam etika Islam sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam: “Seorang Muslim adalah saudara bagi tiap orang Muslim, tidak boleh menganiayanya, menghinanya dan membiarkannya tanpa pertolongan. Cukuplah sebagai kejahatan dari seseorang bahwa ia menghina sesama saudara Muslimnya. Darah, harta dan kehormatan seorang Muslim diharamkan bagi sesama saudara Muslimnya”.(Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Sayyid Sabid, 1982:246).

Demikian pula hanya karena media di Amerika menyebutkan jatuhnya korban 28 orang tewas pada saat terjadinya gelombang aksi protes ummat Islam terhadap film yang melakukan penghinaan itu, termasuk yang terjadi di Afghanistan, lalu penulis menyatakan, “Jutaan orang sakit dan balik menyakiti”, seperti sebuah kesimpulan orang tertular “hati yang sakit dan senang menyakiti”, sehingga secara sadar atau tidak melakukan pembelaan terhadap orang kafir yang “merasa disakiti”. Apa karena seorang dubes dan diplomat Amerika tewas di Libia, kemudian sebagai Muslim tega nian berkesimpulan seperti itu.
Insiden akan ada saja terjadi disaat gelombang aksi protes, apalagi dilakukan oleh jutaan orang yang tidak terima agama dan nabinya dihina, hampir sama dengan insiden yang terjadi disaat ribuan supporter sepak bola Inggris yang kecewa karena timnya kalah main bola ada yang menjadi korban. Namun secara keseluruhan aksi protes ummat Islam di seluruh dunia terhadap film itu, jika dicermati secara obyektif dan ilmiah, umumnya berjalan damai, lalu apakah karena berita media di Amerika yang masih perlu diuji kebenarannya kemudian penulis sebagai muslim dengan cepat mengambil kesimpulan, “Jutaan orang yang sakit dan balik menyakiti?”

Apapun cap yang diberikan oleh orang lain terhadap Muslim tidaklah perlu cepat cepat menyalahkan apalagi memojokkan saudaranya sendiri, dengan menyatakan, “Jutaan orang yang sakit dan balik menyakiti”.

Seorang Muslim yakin dan percaya bahwa Islam adalah agama yang damai dan tidak mengajarkan kekerasaan, tetapi Islam juga mengajarkan bahwa ummat Islam itu satu tubuh, sebagaimana dinyatakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam dalam sabdanya, “Perumpamaan orang orang mu’min dalam berkasih sayang, saling cinta mencintai adalah seumpama satu tubuh yang bila salah satu anggotanya terserang penyakit maka seluruh tubuh turut merasakan dengan menderita deman dan tidak dapat tidur”. (HR. Bukhari, Muslim).

Seharusnya penulis tidak malah ikut terlibat dalam “menyakiti saudaranya sendiri”, dengan membuat sebuah kesimpulan yang terburu buru, “jutaan orang sakit dan balik menyakiti”. Apalagi mendasarinya dengan sejarah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam, yang sebagian orang jika perlu mengutip sabdanya sebagai dalil dan argumen, namun tidak mau membelanya disaat ada film yang menghina dan menghujatnya, antara lain dengan mengatakan, “Nabi Muhammad dulu datang menyembuhkan masyarakat Mekah yang sakit. Meski disakiti ia tak pernah balik menyakiti”.

Padahal saat Nabi disakiti di Mekkah dan Thaib, Ummat Islam dalam keadaan lemah, kecil dan tak berdaya, namun setelah Ummat Islam menjadi suatu kekuataan besar tak ada lagi orang kafir yang berani menyakiti Nabi.
Nah pada masa sekarang ini ada saja orang, diantaranya Nikoula yang berlindung di balik kebebasan ekspresi di negera Adijaya Amerika, yang mencoba menyakiti Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wassalam dengan menghina beliau dan keluarganya dengan penuh kebencian dan dendam, melalui film murahan, lalu apakah seorang Muslim diam saja tanpa melakukan pembelaan terhadap kesucian dan kehormatan Nabi dan keluarganya yang dihujat dan dihina tersebut?

Jika diri pribadi seorang Muslim atau orang tuanya dihina saja dia tidak akan rela dan akan melakukan pembelaan, apalagi jika agama, Nabi dan keluarganya yang dihina, adalah wajar melakukan pembelaan dan bukan pembalasan dengan menghina lagi, sebab Islam melarang ummatnya menghina agama dan Nabi orang beragama lain.

Karena itu jika penulis hendak mengkiritisi tindakan kekerasan yang tidak sepatutnya dilakukan dalam aksi protes ummat Islam dalam hal apapun terhadap orang kafir karena akan memperburuk citra Islam di Barat, apalagi dimata orang Amerika, ada baiknya penulis tidak menggunakan kata kata yang mengandung kekerasan pula dengan mengatakan, “jutaan orang sakit dan balik menyakiti”, sebab itu berarti penulis pun ikut ikutan sakit dan menyakiti saudaranya sendiri.

Padahal Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam mengingatkan, “Tiada seorang melihat seorang Muslim yang sedang diganggu kehormatannya, lalu membiarkan tanpa pertolongan melainkan Allah akan membiarkan orang itu tanpa pertolongan disaat ia membutuhkan. Dan tiada seseorang menolong sesama saudara Muslimnya yang sedang terganggu kehormatannya, melainkan Allah akan menolongnya disaat ia membutuhkannya”. (HR. Abu Dawud). ***