Hasil Studi Terbaru, Mayoritas Muslim Dunia Inginkan Penerapan Syariat Islam

881

Dewandakwahjabar.com — Mayoritas umat Islam di seluruh dunia mengharapkan penerapan syariat Islam di negaranya.  Hal itu terungkap dalam hasil survei yang dipublikasikan Pew Research Center (www.pewforum.org) yang berbasis di Amerika.

Dalam laporan sejumlah 226 halaman dengan judul The World’s Muslims: Religion, Politics and Society tersebut Pew Research Center melakukan survei di 39 negara dan mewawawancarai 38.000 orang dan menemukan bahwa kebanyakan pemeluk agama terbesar kedua di dunia ini ingin Islam tidak hanya diterapkan pada kehidupan pribadi mereka, tapi juga pada hubungan sosial dan politik.

Di Asia  terdapat prosentase sangat tinggi penduduk  yang mendukung syariah Islam: Pakistan (84%), Bangladesh (82%), Afghanistan (99%), Indonesia (72%) , Malaysia (86%).

Demikian pula di Timur Tengah dan Afrika, prosentase yang mendukung syariah :   Irak (91%), Palestina (89%), Maroko (83%), Mesir (74%), Yordania (71%), Niger (86%), Djibouti (82%), DR Kongo (74%) dan Nigeria (71%). Sementara 10 negara lain yang di survey menunjukkan lebih dari 50 % penduduknya menginginkan syariah Islam.

Di Indonesia sendiri, pusat penelitian melakukan wawancara tatap muka dengan 1.880 Muslim di 19 provinsi antara tanggal 28 Oktober dan 19 November 2011.  Penelitian ini memiliki margin error sebesar 3,4 persen.

Studi ini mengatakan bahwa 72 persen Muslim Indonesia mendukung hukum Islam sebagai hukum resmi negara ini, dibandingkan dengan Malaysia dengan 86 persen dan 77 persen di Thailand.

Tentu saja temuan tersebut membuat orang-orang yang alergi dengan syariat Islam gerah dan tidak mempercayai hasil studi tersebut.

Azyumardi Azra misalnya, seorang direktur Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, mengatakan ia mempertanyakan sejauh mana hasil survei mencerminkan kebenaran, tulis Jakarta Post.

“72 persen angka yang tidak masuk akal,” ujarnya kepada The Jakarta Post pada Rabu (2/5).

Dia mengklaim bahwa sebagian besar ummat Islam Indonesia bergabung dengan organisasi utama seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang “mendukung” ideologi negara Pancasila dan mempromosikan moderasi dalam penerapan ajaran Islam.

Serupa dengan Azra, Adjie Alfaraby, peneliti dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) mengatakan desain kuesioner mungkin telah mempengaruhi hasil survei.

“Jika mereka menghadirkan syariah sebagai satu-satunya variabel dalam kuesioner mereka, Muslim pasti akan mendukung untuk itu.  Tetapi jika menempatkan Pancasila sebagai variabel pembanding, mungkin responden akan memilih Pancasila sebagai gantinya, karena itu adalah prinsip inti dari Indonesia,” klaimnya. ***DBS