Gerakan Ulama Bersinergi untuk Selamatkan Jakarta dengan Gubernur Muslim

495
Gerakan ulama yang tergabung dalam Majelis Pelayan Jakarta (MPJ) dan Gerakan Masyarakat Jakarta (GMJ) secara bersama melakukan konferensi pers di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (19/7/2016).
Sinerginya kedua forum ulama tersebut menyatukan gerakan untuk memenangkan Gubernur Muslim di DKI Jakarta. “Soal kepemimpinan bukan sekedar meraih meraih kemenangan tetapi ini masalah agama, masalah prinsip akidah, masalah syariat, masalah sosial untuk mewujudkan pemimpin muslim yang baik, profesional, berkarakter, jujur dan amanah,” ujar Ketua Dewan Syura MPJ, Prof. Dr. KH Didin Hafidhuddin dalam sambutannya.
Kata dia, kenapa harus pemimpin muslim, karena di dalam aturan Islam hukumnya haram memilih pemimpin kafir.
Oleh karena itu, kita harus bersinergi saling bekerjasama. “Di dalam Alquran telah dijelaskan bahwa orang-orang kafir juga saling mendukung satu sama lain, oleh karena itu jika kita tidak bersatu melakukan kolaborasi maka akan datang fitnah kerusakan yang besar,” jelas Kyai Didin.
Ia meningatkan agar semua menyampingkan segala perbedaan untuk kepentingan pribadi atau kelompok guna tercapainya persatuan yang kokoh.
“Dan mohon sosialisasikan kepada seluruh masyarakat bahwa kita bersatu untuk kepentingan pemimpin muslim yang lebih baik. Dan saya juga menghimbau kepada seluruh organisasi dan lembaga Islam yang belum bergabung untuk bersatu dalam gerakan ini,” pesan Kyai Didin.
“Kenapa konferensi pers di Sunda Kelapa, karena sejarahnya dahulu ketika gubernurnya non muslim dari penjajah Portugis lalu datanglah Fatahillah yang mengumpulkan pemuda di Cirebon kemudian dengan semangat jihad ia berhasil merebut Sunda Kelapa,” ujar tokoh Majelis Tinggi GMJ KH Cholil Ridwan dalam sambutannya.
“Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta, itu diambil dari Alquran ‘Fathan Mubina’ yaitu kemenangan yang nyata dan diterjemahkan menjadi Jayakarta, kemudian disingkat jadi Jakarta,” tambahnya.
Sejarah itulah menjadi semangat untuk menyelamatkan dan mempertahankan Jakarta agar dipimpin seorang muslim, kata Kyai Cholil.
Namun kata dia, pemimpin yang dimaksud tidak hanya sekedar muslim, tetapi mukmin yang muttaqin. “Karena muslim belum tentu mukmin apalagi muttaqin, dahulu di zaman Nabi ada seseorang yang selalu ikut majelisnya Nabi, ia dekat Nabi, tapi ia adalah imamul munafiqin yaitu Abdullah bin Ubay. Secara lahiriyah dia bersatu tapi batiniyahnya ternyata membenci Islam,” jelasnya.
Kata Kyai Cholil, siapapun muslim bahkan seorang Ustaz yang menyatakan tidak ada masalah pemimpin kafir, itulah contoh orang munafiqin. “Seharusnya membantu muslim disaat bertarung dengan orang kafir, tetapi munafiqin ini malah memilih kafir,” tuturnya.
Oleh karena itu, ia berharap mudah-mudahan warga Jakarta masih banyak yang bukan hanya muslim tapi mukminin, karena dengan dasar keimanan insyaallah kita akan menang. “Namun jika sedikit, mukminin yang minoritas tapi dengan izin Allah juga bisa menang seperti sejarahnya ketika perang badar,” tandasnya seperti dikutip suara-islam.com ***
mpj_gmj