GENERASI MUBADZIR

639

Oleh: Drs. Muhsin MK. MSc.
(Anggota Majlis Syuro Dewan Da’wah Jabar)

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.(qs. Al Israa’, 17:27).
Hampir setiap malam anak anak itu berkumpul, ngobrol ngalor ngidul diselang selingi tawa, atau nongkrong dan duduk mainkan HP menghabiskan pulsa dan listrik, entah apa yang dimainkan, ada pula yang merokok dan mabok mabokan, ada lagi yang bernyanyi-nyanyi sambil bermain musik, adakalanya ikut anak perempuan yang rela digerayangi, dipeluk dan dibelai atau ada yang minta dilayani, ada pula yang membawa motor hasil pembelian atau kredit dari orang tuanya, ngetrek dan kebut kebutan, begitulah keadaan sebagian remaja dan generasi muda di lingkungan masyarajat kita berada.
Waktu, usia, energi, tenaga, hidup, mungkin juga uangnya habis dibuang untuk berleha leha, bersenda gurau, bersantai, bergadang, nermaksiat ria dan melakukan aktifitas yang tidak menghasilkan apa apa, kecuali ngantuk, meninggalkan shalat, kepala pusing, muka pucat, sakit fisik dan mental, tidak bisa membantu orang tua, masa bodoh terhadap penderitaan keluarga bagi mereka yang berasal dari keluarga miskin, dan menghamburkan uang bagi mereka yang berasal dari keluarga kaya, dan sebagainya. Begitulah wajah dari generasi mubadzir, pemboros dan pembuang buang waktu, enerzi, umur dan harta benda yang hidupya akan lebih banyak mudarat dan merugikan dari pada memberi masalahat dan atau yang menguntungkan dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa dan agamanya.

Tanggung jawab Orang Tua
Orang tuanya seakan tak berdaya mendidik anak anaknya sehingga menjadi liar, mubadzir dan membuang buang waktu seperti itu, atau bisa juga antara lain karena mereka merasa takut, masa bodoh, tak perduli, “emangnye gue fikirin”, tidak mampu mengurusnya, tidak bertanggung jawab, bahkan ada yang bangga dan lain sebagainya.
Padahal ada pepatah umum dalam masyarakat sejak lama yang masih diingat hingga saat ini, yakni: “Ayam belum pulang ke kandang dicari, anak belum pulang ke rumah dibiarkan”.
Mungkin itulah gamabaran nyata yang terjadi, seperti ada pembiaran yang dilakukan secara sengaja oleh orang tuanya, padahal anak anak remaja dan generasi muda itu masih berada di dalam lingkungan dan wilayah tanggung jawab bapak dan ibunya, baik pada saat berurusan dengan polisi, atau dengan Allah di akhirat nanti.
Bukankah Allah Subhanahu Wa Ta’ala sudah mengingatkan kita dalam firman Nya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At-Tahrim, 66:6)
Anak anak, remaja dan generasi muda itu tidak bisa dibiarkan menjadi liar dan mubadzir, menghabiskan waktu dan umurnya hanya untuk bergadang dan berleha leha sepanjang malam setiap hari, yang pasti lebih banyak merugikan diri berkaitan dengan kesehatan dan umur, juga kerugian orang lain yang merasa terganggu dengan ulah dan perbuatannya.
Kehidupan mereka seperti itu akan lebih mudah menjadi teman dan mangsa syetan, karena mereka telah mengabaikan agama dan meninggalkan ibadah kepada Allah, bahkan suara adzan Maghrib, Isya dan Subuh tidak lagi menyentuh hatinya, karena memang tidak ditanamkan iman dan ilmu agama oleh orang tuanya.
Wajarlah jika perllaku mereka menjadi cenderung menimbulkan kemudharatan, kemaksiatan dan kemunkaran, sehingga tidak jarang diantara mereka menjadi korban narkoba, perbuatan kriminal, tawuran, seks bebas, minuman keras, dan kekerasan, atau minimal mereka telah mengganggu ketenangan orang lain yang tengah beristirahat di malam hari, dan lain sebagainya.
Kalau sudah terjadi seperti itu maka siapakan yang akan dipersalahkan dan bertanggung jawab? Maka sudahlah tentu, jika mereka berurusan dengan polisi, pasti orang tuanya yang akan dipanggil guna menyelesaikannya. Bahkan kelak di akhirat, Allah akan meminta pertanggung jawaban ibu bapaknya yang tidak mendidik dan mengasuh anak dengan baik, yang menyebabkan mereka akan dilemparkan ke dalam api neraka yang panas berlipat lipat dari panas api di dunia ini.

Beri Pendidikan Agama
Sebagai orang tua tentu kita tidak ingin memiliki anak anak menjadi generasi mubadzir, membuang-buang waktu dan umur, enerzi dan uang dengan bergadang dan keluyuran di malam hari, dan di siang harinya tidur, makan, lalu kembali bermain main tak tentu arah, main game, sms, menghabiskan uang, apalagi sampai menjadi sahabatnya syetan, sehingga dapat membuat kita dan mereka kelak terjerumus ke dalam api neraka. Oleh sebab itu sudah selayaknya marilah kita mulai dari diri dan keluarga kita lebih dahulu untuk memberikan pendidikan dan bimbingan kepada anak anak, sehingga mereka kelak tidak akan menjadi generasi mubadzir yang merusak tersebut.
Kewajiban orang tua dalam mendidik anak anaknya telah diingatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman Nya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. (QS. An-Nisaa’, 4:9).
Pendidikan di mulai sejak dalam  ayunan, bahkan sejak dalam kandungan, sudah ditanamkan nilai nilai agama Islam, dengan senantiasa orang tuanya melaksanakan ibadah dan membaca Al Qur’an, sehingga didengar dan dirasakan oleh anak anaknya.
Anak dalam kandungan jika sudah ditiupkan roh dan diberikan pendengaran, maka akan mendengar apa yang dibaca orang tuanya, baik si ibu yang sedang mengandung atau si Bapak yang membacakan Al-Qur’an di dekat ibunya. Bahkan gerak ibadah ibunya akan dirasakan dan memberi pengaruh kepada anak yang dalam kandungan, sehingga setelah lahir akan berbekas pada dirinya. Ditambah lagi dengan makanan halal yang diberikan kepada mereka yang dihasilkan dari rezki yang halal juga akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan jiwa dan perilaku anak anak mereka dalam hidupnya di dunia.
Sesudah anak anak itu lahir, maka pendidikan agama Islam, keimanan dan ketaqwaam sudah harus diberikan terutama oleh ibu bapaknya sendiri, termasuk dengan suri teladan orang tua, antara lain selalu berbuat baik, melakukan ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, membaca Al Qur’an dan melakukan amal sholeh atau kebajikan lainnya. Apabila sudah masuk usia sekolah, maka mereka disekolahkan ke lembaga pendidikan yang sesuai dengan tingkatannya, mulai dari Taman Kanak Kanak hingga Sekolah Lanjutan Atas yang di dalamnya diberikan pendidikan agama Islam yang cukup.
Jika sekolahnya umum, maka pada waktu sore harinya diberikan pendidikan agama dan membaca Al Qur’an melalui pengajian yang diadakan di masjid dan musholla, Taman Pendidikan Al-Qur’an, Madrasah Diniyah, atau pengajian pengajian tentang ke Islaman dan ketaqwaan, sehingga nilai nilai agama tetap tertanam dalam jiwanya.
Dengan memberikan pendidikan dan menanamkan nilai nilai agama sejak dini hingga usia Sekolah Lanjutan Atas diharapkan anak anak kita kelak akan memiliki pemahaman agama yang cukup sehingga dapat menjadi pegangan dan benteng bagi dirinya agar tidak menjadi generasi mubadzir dan sahabatnya syetan, yang membuang buang waktu dan umurnya untuk melakukan hal yang sia sia. Apalagi jika ibadah shalat, puasa,  membaca Al-Qur’an dan ibadah lainnya yang dilakukan oleh mereka itu selalu dikontrol orang tua, tentu mereka akan bisa diharapkan kelak menjadi anak yang shaleh, patuh pada orang tua, betah di rumah dan tidak menjadi liar, apalagi suka keluyuran di malam hari.

Perlu pembinaan masyarakat
Apa yang dilakukan anak anak, remaja dan generasi mubadzir di malam hari itu, memang akan mengganggu orang lain dan masyarakat yang ada disekitarnya, sebab mereka pada saat bersenda gurau dan bermain music, apalagi ngetrek dan kebut kebuatan dengan motor yang knalpotnya los akan menimbulkan suara gaduh sehingga mengganggu ketenangan orang lain yang sedang beristirahat dan tidur di malam hari. Melihat keadaan seperti itu tentulah kita tidak akan bisa berdiam diri, apalagi hanya menggerutu dan kesal, tapi hendaknya juga melakukan ikhtiar dan usaha untuk mencegahnya, minimal kita mengingatkan mereka agar tidak membuat gaduh di lingkungan masyarakat.
Namun dalam realitasnya tidak setiap orang yang memiliki keberanian seperti itu, sehingga banyak yang tidak dapat berbuat apa apa.
Jika keadaannya seperti itu, maka setiap warga masyarakat dapat melaporkannya kepada pihak berwenang, mulai dari tingkat yang paling rendah, misalnya RT. Ketua RT sebagai pemimpin masyarakat yang langsung menguasai lingkungan dan wilayahnya, dapat melakukan tindakan nyata guna mencegah agar anak anak dan generasi mubadzir itu tidak melakukan aktifitasnya yang dapat mengganggu ketenangan dan ketertiban masyarakat. Namun kenyataannya tidak setiap RT dapat melakukannya, karena antara lain ada yang takut atau tidak berani, segan, malas, memandang tidak menguntungkan dan lain sebagainya, sehinga terjadilah pembiaran. Jika memang tidak bisa, dia bisa melaporkannya kepada polisi yang akan mengambil tindakan.
Padahal bagi seorang Muslim kita diingatkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam dalam sabdanya: “Barangsiapa diantara kamu melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan, jika ia tidak mampu maka dengan lisanya, dan jika tidak mam, maka dengan hatinya, dan yang demikian merupakan selemah lemahnya iman”.  (HR. Muslim).
Apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam ini tentu bukan tanggung jawab polisi, ketua RT atau pihak pihak yang berwajib lainnya saja, tetapi juga tanggung jawab kita sebagai muslim apabila melihat kemunkaran, termasuk kegaduhan yang terjadi di dekat rumah atau di lingkungan kita sendiri. Ketua RT, Polisi atau pihak yang berwenang lainnya memang memiliki tugas dan tanggung jawab juga, yakni dalam mengubah kemungkaran dengan tangan dan kekuasannya, karena mereka yang memiliki kewenangan.
Adapun bagi kita sendiri sebagai Muslim, bisa melakukannya dengan lisan, dengan cara memberi nasehat, menegur, memberi tahu dan mengingatkan mereka, tentu harus dengan cara yang baik-baik, simpatik, lemah lembut dan penuh kasih sayang. sehingga kelak anak anak, remaja dan generasi muda itu menjadi sadar dan insaf sehingga tidak melakukan perbuatan mubadzir itu lagi, dan tidak melakukan kegaduhan, kemungkaran dan kemaksiatan di lingkungan tempat tinggal kita. Kalau ternyata tidak bisa juga maka kita gunakan kekuatan dzikrullah dan do’a kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar membuka hati dan kesadaran mereka agar kembali ke jalan yang baik dan benar sesuai dengan tuntunan agamanya. Insya Allah.*** dewandakwahjabar.com