Dewan Dakwah dan Masa Depan Ummat

152

Oleh: Mursin MK.

M. Natsir dan sahabat sahabatnya mendirikan Dewan Dakwah tahun 1967 bukan untuk menjawab tantangam masa itu melainkan juga masa yang akan datang. Masa itu tidak sedikit tantangan yang dihadapi ummat. Namun masa mendatang tantangan semakin berat dan besar. Oleh itu Dewan dakwah diharapkan mampu menjawab tantangan ummat kini dan mendatang dengan langkah langkah yang lebih baik dan strategis.

Bagaimana bentuk tantangan ummat Islam saat itu, kini dan mendatang telah dikemukakan Natsir dengan cerdas, luas dan mendalam. Ada tiga hal yang akan dihadapi ummat Islam dan Dewan dakwah. Ketiganya harus dihadapi dengan serius dan terprogram. Tiga hal yang merupakan tantangan hingga masa mendatang menurutnya: 1. Pemurtadan. 2. Natvisasi dan 3. Sekulerisasi.

Pada saat pemikiran ini dikemukakan tantangan pertama sedang merajalela. Pemurtadan tidak hanya terjadi di kota kota besar tapi di daerah dan desa desa terpencil, di daerah transmigrasi dan pedalaman. Di kota kota besar aktifitas pemurtadan secara terang terangan dengan penyebaran brosur, buku dan kitab suci; perkawinan, ekonomi dan pendidikan. Melalui perkawinan telah banyak korban, apalagi dengan bantuan ekonomi dan pendidikan. Proyek ini sudah terjadi sejak zaman Penjajahan Belanda. Ternyata pada masa kini juga masih berjalan dengan perkawinan beda agama. Termasuk bantuan ekonomi bagi mereka yang miskin. Ummat Islam yang miskin harta dan imannya tentu akan terjerumus dalam jurang pemurtadan.

Di daerah transmigrasi dan pedalaman pemurtadan pun gencar dilakukan. Mereka tidak tanggung tanggung mengerahkan segala kekuatannya. Mereka membeli lahan untuk dijadikan proyek transmigrasi swakarsa. Mereka sendiri yang membiayai pembangunan rumah rumah untuk transmigran. Para transmigran dari pulau Jawa yang sebagian ummat Islam ditampung di daerah tersebut. Segala kebutuhan hidup dan mata pencaharian disediakan. Bahkan fasilitas pendidikan dan kesehatan tersedia termasuk rumah ibadah. Namun masjid tentu tidak didirikan karena tanah mereka. Terjadilah proses pemurtadan terhadap ummat yang lemah ekonomi dan iman. Anak anak mereka pun kelak akan berganti agama bahkan menjadi kader kader yang militan.

Melihat kenyataan ini Dewan dakwah tak berdiam diri. Natsir menggerakkan program da’i transmigrasi. Generasi muda Islam ditempa dengan berbagai ketrampilan bukan hanya pemahaman dan pedalaman agama saja. Mereka yang berasal dari pondok dan daerah dikirim ke daerah transmigrasi dengan bekal secukupnya. Mereka ini akhirnya berhasil, minimal membentengi aqidah ummat dan mencegah pemurtadan agar tidak meluas dalam masyarakat.

Setelah Natsir dan Dewan Dakwah dilanjutkan generasi penerusnya, pemurtadan tetap berlangsung. Apalagi di zaman reformasi ini. Malah terus meningkat. Terbukti tempat tempat ibadah mereka bertambah. Aktifitas sosial dan ekonomi tetap saja mereka jadikan sarana yang ampuh. Apalagi disaat kemikiskinan semakin meningkat. Karena itu Dewan dakwah tak pernah berhenti tangan mendayung menghadapi tantangan ini. Melalui Lembaga Amil Zakat Infaq Sedekah (LAZIS) Dewan dakwah terus bekerja menghalau pemurtadan baik di desa desa terasing maupun di kota kota besar.

Tantangan nativisasi juga terjadi tidak hanya di zaman Natsir tapi juga saat ini. Nativisasi adalah suatu aktifitas yang hendak menghidupkan kembali budaya pra Islam. Bahkan ada seorang Bupati di zaman reformasi secara terang terangan melakukannya. Padahal dia seorang muslim. Maka wajar saja kebijakannya menghidupkan budaya syirk mendapat protes dari ulama dan ummat Islam di daerahnya. Tenu Dewan dakwah juga ikut ambil bagian di dalam upaya menolak mencegah nativisasi ini dengan melakukan kajian kajian dan pembinaan diantaranya melalui daurah dakwah.

Tentu tantangan dakwah yang semakin menancapkan kukunya di negeri ini adalah sekulerisasi fam sekulerisme. Sekulerisme adalah faham dan gerakan menjauhkan agama apalagi Islam dari kehidupan publik manusia. Hal inilah yang menjadikan negara harus dipisahkan dari agama. Agama tidak dapat mencampuri urusan negara. Ternya proses sekulerisasi ini tidak terjadi di zaman Orde Lama dan Orde Baru saat Dewan dakwah didirikan dan Natsir menyampaikan pemikirannya. Di zaman reformasi saat ini pun pemegang kekuasaan berusaha memisahkan agama dari negara dan pemerintahan. Walau anehnya jika berkaitan dengan ajaran agama yang menghasilkan uang mereka bernafsu memakainya.

Dampak dari sekulerisasi inilah ummat Islam diperlakukan seperti tamu dibegerinya sendiri. Mereka selalu dikaitkan dengan terorisme, intoleran, anti kebinekaan dan Pancasila. Padahal para pendiri negara ini dan pejuang kemerdekaan adalah para ulama dan tokoh tokoh Islam. Namun kaum nasionalis sekuler, kafirin dan munafikin menghendaki NKRI menjadi negara sekuler. Padahal dalam konstitusi negara, Pancasila dan UUD 1945 secara tegas menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang ber Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini artinya, sekalipun NKRI bukan negara agama, tapi bukan juga negara sekuler. NKRI adalah negara yang tidak melarang nilai nilai agama menjadi peraturan di negara ini.

Berbagai undang undang yang mengadopsi ajaran agama Islam telah disyahkan. Misalnya uu perkawinan, peradilan agama, pendidikan nasional yang tidak melarang jilbab dan pendidikan agama di sekolah, haji, zakat, wakaf dan lainnya. Semua uu itu sudah diterapkan dan dilaksanakan. Dewan Dawan zaman Natsir ikut serta dalam memperjuangkan uu tersebut. Jadi tidak bisa di zaman ini pemerintah melakukan usaha memisahkan agama dan negara.

Namun demikian tiga hal yang merupakan tantangan sebagaimana disampaikan Natsir tetap harus diwaspadai dan terus menerus diantisipasi melaui dakwah dan perjuangan politik. Dewan dakwah tak akan diam apalagi menyangkut masa depan Islam dan ummatnya di negeri ini. Oleh itu Dewan dakwah terus memperkuat barisan dan jaringan dakwahnya. Kegiatan dakwah bil lisan, tulisan dan bil lisanul halnya terus dikembangkan. Karena itu dalam membentengi aqidah ummat dan meningkatkan ekonominya Dewan dakwah telah menawarkan solusi yang tepat. Motto Selamatkan Indonesia dengan dakwah semakin nyata dalam realitasnya. Berbagai program Dewan dakwah yang pro rakyat khususnya ummat Islam terus digulirkan. Pengkaderan terus ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya. Pendidikan dakwah menjadi model kaderisasi yang propestif. Namun demikian semua ini tidak luput dari kelemahan dan kekurangan. Kepemimpinan, disiplin dan soluditas organisasi Dewan dakwah perlu terus menerus ditingkatka dan diperkuat. Dengan ini diharapkan dakwah dan masa depan ummat Islam di negeri ini dan di dunia menjadi lebih baik. In syaa Allaah***

(MK, 1 Agust 2017)

dewandakwah