Delapan Prinsip dalam Menjalani Kehidupan

1922

oleh Drs. KH. E. Bahrul Hayat, M.Ag.

 Aku tinggalkan dua pusaka untukmu sekalian, yang kalian tidak akan tersesat selagi kamu berpegangateguh pada keduanya, yaitu berupa kitab Allah (Al-Quran) dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik)

Manusia dalam menjalani kehidupannya harus memiliki prinsip-prinsip yang menjadi pegangan atau pedoman hidupnya. Setidaknya, ada delapan hal yang harus dijadikan prinsip dalam menjalani kehidupannya di dunia ini.

Pertama, tujuan hidup. Apa tujuan hidup kita? Tujuan hidup kita sebagai seorang mu’min senantiasa ingin mendapatkan ridha Allah Swt, dan itu terdapat dalam berbagai ayat Al-Quran yang cemerlang. Seorang mu’min harus mengarahkan tujuan hidupnya untuk mendapatkan ridha Allah Swt. Para sahabat Nabi Muhammad saw semuanya mendapat gelar radhiyallahu ‘anhu. Tapi untuk mendapat gelar radhiyallahu ‘anhu itu harus ada gelar yang mesti diraih, yaitu gelarwaradhu ‘anhu. Mengapa mereka mendapat ridha Allah Swt? Lantaran mereka telah ridha terhadap Allah Swt. Jadi, untuk mendapat ridha Allah kita harus ridha terhadap Allah Swt.

Oleh sebab itu, setiap pagi setiap muslim hendaknya mengucapkan doa: “Radhitu billahi rabba, wa bil Islami diina, wa bi Muhammadin nabiyya.” Artinya: “Aku ridha Allah sebagai Rabbku, dan Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai nabiku.” (HR Bukhari).

Andai kata dibaca ketika waktu Subuh, Allah akan ridha terhadap kita sampai Ashar. Dan apabila dibaca setelah Ashar, maka Allah akan ridha sampai pagi. Akan tetapi, tidak cukup hanya itu, kita juga harus menerima qadha dan qadar, serta atas segala aturan-Nya dan segala sesuatu yang Allah berikan kepada kita.

Kedua, cita-cita hidup. Setiap mu’min mempunyai cita-cita hidup. Cita-cita hidup seorang mu’min adalah fiddunya hasannah wa fil akhiraati hasannah. Apa yang dimaksud dengan fiddunya hasannah wa fil akhiraati hasannah itu? fiddunya hasannah adalah menjalani kehidupan yang diawali dengan akidah yang lurus, ibadah yang benar, mendapat pasangan hidup yang saleh, keturunan yang saleh, harta melimpah yang disertai berkah-Nya, sehat jasmani dan ruhani, dan lain sebagainya. Fil akhiraati hasannah adalah ketika dibangkitkan dari kubur penuh dengan selamat, kemudian dia lulus dari berbagai pertanyaan Allah dan diberikan Kitab Hidupnya dari sebelah kanan, dan bisa melewati jembatan shirathal mustaqiim.

Ketiga, pedoman Hidup. Apa pedoman hidup seorang mu’min? Pedoman hidup seorang mu’min adalah Al-Quran dan AS-Sunnah Rasulullah saw. Sebagaimana Rasulullah saw pernah menyatakan,  “Aku tinggalkan dua pusaka untukmu sekalian, yang kalian tidak akan tersesat selagi kamu berpegangateguh pada keduanya, yaitu berupa kitab Allah (Al-Quran) dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik)

Keempat, tugas hidup. Tugas hidup kita itu adalah beribadah. Sebagaiman dalam firman-Nya, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzaariyat[51]: 56).

Ibadah adalah kata yang mencakup segala perbuatan yang terlihat (dzahir) dan yang tersembunyi (bathin) seorang mu’min yang mengaharap cinta dan keridhaan Allah Swt. Hal itu dibarengi dengan keikhlasan dan niat yang sesuai dengan aturan Sunah Rasulullah saw.

Kelima, pelita hidup. Pelita hidup adalah ilmu yang diberikan kepada para alim ulama yang digali dari Al-Quran, hadits dan alam semesta. Ilmu dari al-Quran itu berupa ketauhidan dan ini sebagai ilmu yang wajib dituntut oleh semua mu’min, serta ilmu alam berupa Sains yang hukumnya fardhu kifayah. Tidak setiap orang mesti mengerti ilmu Fisiologi, Psikologi, Antropologi dan lain sebagainya. Akan tetapi, setiap m’min wajib mengerti ilmu fiqih, musthalah hadits, tauhid, tajwid, dan sebagainya. Ilmu itu pelita kehidupan dan bodoh itu adalah kegelapan.

Keenam, sikap hidup. Bagaimana sikap hidup kita? Maka jawabannya adalah sikap yang penuh dengan akhlaqul karimah yang diajarkan oleh Rasulullah saw dan tertera dalam hadits. Tata krama dan sopan santun diajarkan di dalamnya. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw pernah mengatakan bahwa sesungguhnya beliau diutus ke muka bumi untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Ketujuh, teman hidup. Setiap muslim sudah seharusnya memilih teman dalam kehidupannya dari kalangan kaum muslim, terutama orang-orang beriman dan rajin beramal saleh. Janganlah menjadikan seorang non muslim sebagai teman dekat atau sahabat sejati. Sebab, hal itu bisa membuat kita terpengaruh dan mendorong kepada kesesatan.

Kedelapan, bekal hidup. Mengapa kita perlu bekal hidup? Kita perlu bekal hidup agar kita memiliki bekal setelah mati menuju kehidupan yang abadi di akhirat kelak. Sebagaimana firman Allah Swt, “Berbekal-lah kamu, ketika kamu berpulang kepada Allah, dan tidak ada bekal yang tepat kecuali takwa.

Takwa adalah sikap mental seorang mu’min kepada Allah SWT. Menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya merupakan implementasi sikap mental takwa terhadap Allah Swt. Wallahu a’lam bish-shawwab.***