“CEGAH ADU DOMBA”

1047

Oleh: Drs. Muhsin MK. MSc. (Anggota Majlis Syuro Dewan Da’wah Jabar)
Ummat Islam merupakan penduduk mayoritas [terbanyak] di Indonesia. Namun hingga saat ini belum mampu menjadikan negaranya benar-benar melaksanakan ajaran Islam. Negeri ini masih menganut ajaran campur aduk. Urusan Haji yang di dalamnya ada unsur uangnya mendapat perhatian serius negeri ini.  Tapi urusan ekonomi dan politik masih mengikuti ajaran Barat, yang jelas-jelas tidak sejalan dengan Islam. Ekonomi di Barat masih menggunakan riba. Islam mengharamkan riba. Politiknya sekuler, memisahkan agama dan Negara. Islam tidak, agama dan Negara merupakan dua sisi mata uang yang saling berkaitan.
Pada awal sebelum kemerdekaan, bahkan hingga tanggal 17 Agustus 1945, negeri ini masih mencantumkan dalam pembukaan Undang-Undang Dasarnya, tentang kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Tapi pada tanggal 18 Agustusnya dicoret, kata kewajiban menjalankan syari’at Islam itu dicoret. Akibatnya tuntutan tentang masuknya syari’at Islam itu dalam Undang-undang negara terus dilakukan. Sebab ummat Islam yakin, dengan melaksanakan syari’at Islam, keberkahan dan kemakmuran akan diberikan oleh Allah SWT.

Dukungan Yahudi-Nasrani
Namun demikian tidak sedikit pula di kalangan ummat Islam sendiri yang tidak mau melaksanakan syari’at agamanya itu. Apalagi dalam kehidupan bernegara. Mereka lebih suka menggunakan ajaran Barat. Ini karena mereka silau dengan kemajuan material di sana. Mereka inilah yang menjadi agen agennya yang setia. Apalagi ada upahnya yang tidak sedikit. Karena itu, jika ada ajaran Islam yang dimasukkan dalam undang undang, maka mereka protes. Mereka mendapat dukungan pula dari kalangan Yahudi dan Nasrani.
Kalau kalangan Yahudi dan Nasrani sudah jelas sikapnya dari dulu. Dengan Islam, mereka tidak akan suka selama-lamanya. Ini ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya:
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. [QS.Al-Baqarah:120].
Karena itulah usaha mereka agar ummat Islam Indonesia lemah, mereka pecah belah diantaranya dengan melakukan adu domba antara kelompok Islam yang satu dengan lainnya. Mereka tidak mungkin langsung berhadapan dengan ummat Islam. Mereka didik orang-orang Islam supaya otak dan fikirannya nyeleneh. Mereka kasih uang besar. Mereka inilah yang dijadikan alat memecah belah dan mengadu domba ummat Islam. Coba saja perhatikan mereka yang disebut “cendekiawan Islam”. Mereka sendiri melecehkan ajaran agamanya. Mereka katakan, “semua agama sama”.
Ucapan mereka ini dapat menimbulkan keraguan pada ummat Islam. Akibatnya ada yang percaya. Tapi umumnya, ummat Islam menolak. Sebab sudah jelas dikatakan Allah SWT dalam firman-Nya: “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi”. [QS. Ali-Imran:185].

Keterlibatan orang munafiq
Perpecahan inilah yang mereka usahakan di kalangan ummat Islam. Sebab mereka tahu, apabila ummat Islam pecah belah, akan menjadi lemah. Dengan kelemahan inilah mereka bisa mengendalikan ummat Islam. Belum lagi dengan usaha mereka mengelompok-ngelompoknya ummat Islam. Mereka bilang ada kelompok ekstrim, moderat dan liberal. Yang ekstrim, diarahkan agar dibubarkan organisasinya, dituduh teroris dan dibesar besarkan citra negative lainnya. Kalau perlu yang ekstrim diadu dengan yang moderat dan liberal. Padahal dalam Islam tidak ada istilah itu. Yang ada, yakni  mu’min, kafir dan munafiq.
Seperti sekarang ini. Sudah jelas Ahmadiyah yang membuat gara-gara, menyebarkan ajaran ekstrim dan liberal, yang menyinggung keyakinan ummat Islam. Mereka mengakui beragama Islam, tapi percaya ada Nabi sesudah Nabi Muhammad Saw. Wajarlah jika ummat Islam protes dan menggugat kepada pemerintah agar Ahmadiyah dibubarkan atau dinyatakan sebagai agama sendiri. Nyatanya, Ahmadiyah dibiarkan saja berkembang di negeri ini. Padahal Ahmadiyah dibuat oleh Pemerintah Inggris untuk memecah belah ummat Islam di India waktu itu.
Akhirnya bentrok antara massa dengan jamaah Ahmadiyah dimana-mana terjadi. Lalu direkayasa, seakan organisasi Islam tertentu yang menjadi perusuh dan dalangnya, lalu disebarkan melalui mass media sekuler. Organisasi Islam itu lalu dihakimi, tanpa melihat akar masalahnya. Dengan dalih Hak-hak Azasi Manusia [HAM] mereka bela Ahmadiyah. Padahal Ahmadiyah telah lebih dahulu melanggar HAM, melecehkan kesucian Islam, dengan menyebarkan ajaran Mirza Gulam Ahmad sang Nabi palsu itu.
Sudah jelas, ummat Islam sedang diadu domba oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mereka ini dibantu oleh orang-orang munafiq, yang mengaku beragama Islam. Mereka ini kerja sama dengan orang- orang kafir mengadu domba dan berusaha menghancurkan Islam. Ini mereka lakukan sudah sejak jaman Nabi Muhammad saw. Sifat orang munafik antara lain disebutkan dalam firman Allah SWT:
“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka Sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”. [QS. An-Nisaa:138-139]
“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka, mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar [pandai bicara tapi isinya kosong dari kebenaran]. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka Itulah musuh (yang sebenarnya). Maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” [QS.Al-Munafiquun:4]

Tolak adu domba
Karena itu hati-hati dari usaha adu domba yang dilakukan oleh orang-orang munafiq yang bekerja sama dengan orang-orang kafir dalam rangka memecah belah ummat Islam. Untuk menghadapinya ummat Islam perlu memperkuat persatuan dan kesatuan yang kokoh sesuai firman Allah SWT: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…”. [QS.Ali-‘Imran:103].
Organisasi-organisasi Islam hendaknya bersatu. Forum Ukhuwah Islamiyah [FUI] yang dibentuk MUI perlu dijadikan wadah mempersatukan ummat. Sebab MUI masih menjadi harapan ummat Islam sebagai pemersatu ummat Islam Indonesia. Fatwa MUI selama ini sudah jelas membentengi aqidah ummat Islam dari kerusakan dan kehancuran yang dilakukan oleh orang-orang kafir dan munafiq.
Namun orang-orang munafiq yang didukung oleh orang-orang kafir berusaha untuk membubarkan MUI. Ummat Islam harus membelanya. Tapi dengan cara-cara yang cerdas, bukan dengan kekerasan. MUI adalah kumpulan para ulama. Para ulama adalah penerus para Nabi. Fatwa ulama harus menjadi ikutan ummat Islam. Sudah jelas, Ahmadiyah adalah agama non Muslim. Ummat Islam jangan lagi mau di adu domba. Tolak adu domba. Tapi kita harus tetap bersatu menyuarakan agar Ahmadiyah dibubarkan, dan atau dinyatakan sebagai agama baru. Selesai. Wallaahu ‘alam. ***Dewandakwahjabar.com