Bulan Ramadhan, Ibarat Rumah Idaman Meneduh Jiwa yang Gelisah

834

Bulan Ramadhan adalah Bulan yang agung (syahrun ‘adzim). Bulan yang penuh berkah dari Pencipta alam semesta, Pemberi nikmat dan kesenangan (syahrun Mubarak). Bulan kesabaran ; yaitu bulan yang membawa pelakunya pindah kedalam Surga Allah (syahrus shabar). Dan Ramadhan adalah bulan solidaritas sesama, saling memperhatikan dan membantu (syahrul muwassat). Bulan yang amal didalamnya berbalas dengan pahala tak terhingga. Bulan dimana rezki orang yang beriman bertambah karena kasih sayang Allah. (Hadist Riwayat Al-Uqailiy, Ibnu Huzaimah, Al-Baihaqi, Al-Khatib dan Al-Ashbahani ). Bulan yang mampu membakar semua dosa (Hadist Buchari dan Muslim ). Maha Suci Allah Yang telah menjadikan bulan Ramadhan, bulan orang yang beriman dan bertaqwa.

Bulan Ramadhan bila diibaratkan satu rumah adalah rumah idaman, rumah yang indah dan asri, rumah yang mempunyai pemandangan (view) yang indah disekitarnya. Rumah yang didalamnya sudah tersedia seluruh unsur-unsur kebahagian dan ketenangan. Disana ada kemuliaan, keagungan dan kebanggaan. Disana ada pergaulan yang dijalani dengan penuh kesabaran penuh pertimbangan serta kasih sayang. Rumah yang didalamnya dipenuhi oleh orang-orang yang suci, bersih tanpa dendam, orang yang punya kemampuan untuk menahan diri dan menghargai. Rumah dimana ketersediaan sandang, dan pangan cukup memadai. Rumah yang kesehariannya dihiasi oleh senyum dan sapa keramahan para penghuninya.

Rumah idaman adalah rumah yang mulia dan terhormat. Rumah yang mulia dan terhormat adalah rumah yang menjadi mercu suar bagi rumah-rumah sekelilingnya. Walaupun tidak begitu mewah akan tetapi semua orang terkagum melihat keanggunannya. Sinar megahnya terpancar bukan karena catnya yang berwarna warni, akan tetapi dari dalam rumah itu keluar dan memancar kemuliaan para penghuninya. Rumah idaman adalah rumah yang berkah dan memberi keberkahan. Rumah yang dibangun dengan material yang bersih, selamat dari benda-benda yang haram dan didapatkan dengan cara yang haram. Rumah idaman adalah rumah yang dari dalamnya tidak terdengar suara keras kerena marah dan membentak. Tidak terdengar suara cacian dan makian. Tidak terjadi cekcok mulut yang berkepanjangan tanpa henti. Yang terdengar hanyalah suara lembut penuh hikmah, suara yang merdu ditelinga karena kata-kata dan lafadhnya tersusun begitu rupa, indah dan menawan. Yang tua menyayangi yang kecil dan yang kecil menghormati yang tua, yang muda saling menghargai dan saling memberi apresiasi terhadap kebaikan. Rumah idaman adalah rumah yang disitu terjadi saling mendukung dan saling membantu. Tidak ada yang berpangku tangan ketika saudaranya yang lain sedang membawa beban yang berat dan sedang kelelahan. Tidak ada yang tertawa dengan penderitaan saudaranya yang lain. Dan tidak ada yang mengumpat apabila terjadi kekeliruan. Kalimat ma’af terdengar tiap sebentar. Senyum cinta dan persaudaraan berseliweran diantara jalanan pulang dan pergi.

Bulan Ramadhan adalah bulan dimana Allah Subhanahu wata’ala mewajibkan seluruh siangnya berpuasa bagi hambaNya (Q.S. Al Baqarah ayat 183). Itu artinya pelaksanaan shaum Ramadhan adalah sebagai persyaratan untuk meraih seluruh apa yang dijanjikan Allah kepada hambaNya tersebut. Tentu tidak ada artinya sama sekali kebesaran dan kemuliaan bulan Ramadhan bagi orang yang tidak melakukan shaum pada bulan Ramadhan. Shaum Ramadhan meberikan kekuatan dan kemampuan kepada seseorang untuk mengekang dirinya dari berbagai rongrongan kejiwaan. Menahan diri dari mengkonsumsi makanan ataupun minuman, sekalipun makanan dan minuman itu adalah sesuatu yang halal. Pelatihan itu merupakan pembiasaan sesuatu dalam hidup. Kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu menjadikan seseorang menjadi kuat dan perkasa. Namun hal itu menurut tinjauan Al-Qur’anul Karim tidak mungkin akan berhasil bila sepalakunya tidak melandasi dirinya dengan iman. Itulah sebabnya pemanggilan kewajiban ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman.

Bulan Ramadhan adalah pinrtu gerbang kebahagiaan bagi orang yang menginginkan kebahagiaan abadi. Kebahagiaan yang abadi itu hanya akan didapatkan dengan cara Allah dan cara Rasulnya. Dari itu jadikan Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan yang terakhir dalam perasaan. Siapkan diri dengan ilmu yang memadai tentang seluk beluknya, semangati jiwa dengan kegembiraan dan penuh antusias, senang dan bangga dengan Ramadhan. Dan manfa’atkan waktu dengan amal-amal yang berguna, yang memicu datangnya kasih sayang dan ridha Allah yang maha Penyayang. Sesudah itu dapatkan rumah idaman yang mentramkan jiwa dan raih rumah abadi di Surga Allah kelak sesudah dunia ini lenyap.

Allahumma ya Allah, berikan kepada kami keberkahan di dalam bulan ramadhan. Amiin.** H. Misbach Malim, Lc. M.Sc