Berlindung dari Ilmu yang Tidak Bermanfa’at

968

DEWANDAKWAHJABAR.COM– Tidak terbilang berapa banyak lembaga-lembaga pendidikan mengeluarkan lulusannya, sebagai pertanda telah mencapai salah satu tingkat keilmuan. Semakin banyak perguruan tinggi mewisuda para sarjana sebagai pertanda telah memiliki kualifikasi ilmu tertentu, semakin banyak orang yang pintar dan berilmu, bahkan ada juga orang yang berilmu dengan se- rentetan gelar, hanya sekedar untuk kebanggaan semata, seperti digambarkan oleh Rasulullah saw : “Barang siapa yang menuntut ilmu untuk berbangga-bangga di depan ulama, merendahkan orang-orang bodoh atau agar manusia memperhatikan nya, maka bersiaplah mengambil tempat duduknya di neraka”. (Shahih Jami’ : 6382).

Akan tetapi sejauh mana ilmu yang dikuasainya tersebut memberi manfa’at ? Sejauh manakah ilmu tersebut lebih mendekatkan diri kepada sang khalik dan sejauh manakah ilmu tersebut bisa menyelamatkan dirinya kelak di akhirat ?. Ketika pertanyaan-pertanyaan di atas bisa terjawab, maka itulah ilmu yang bermanfa’at. Memberi manfa’at kepada dirinya baik di dunia maupun di akhirat.

Ilmu yang Bermanfa’at
Ilmu yang bermanfa’at adalah ilmu yang terhunjam di dada, membimbing jalan hidup dan kehidupan, menerangi hati dan pikiran, memberikan ruh yang menggerakkan langkah amal dan memandu jalan menuju kepada kebenaran. Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, “Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bersumber dari nash-nash Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw dan dalam memahaminya berpatokan dengan cara yang dipahami oleh para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in atau salafusshalih…”.

Ilmu yang bermanfa’at bukanlah tujuan utama, tetapi sebagai wasilah untuk bisa beribadah kepada Allah Ta’alaa secara benar. Ilmu tidak akan bermanfaat dan hampa manakala tidak diaplikasikan dalam amal, karena amal adalah ruhnya ilmu. Ilmu yang bermanfa’at akan mem- berikan kontribusi yang besar terhadap pertumbuhan dan pertambahan iman, bahkan bisa dikatakan sebagai faktor terbesar bertambahnya keimanan, bagaimana tidak?, dengan ilmu seseorang bisa mengenal Sang Khaliq, mengetahui Nabinya, memahami din-nya, mengetahui perintah dan larangan syari’atnya, dan bisa mem- bedakan mana yang dicintai dengan yang dibenci Allah dan Rasul-Nya.

Imam Asy Syafi’i dalam Diwan-nya berkata, “Seluruh ilmu selain Al-Qur’an adalah melalaikan, kecuali Al-Hadits dan ilmu fiqih dalam agama. Yang disebut ilmu itu adalah apa yang di dalamnya ada ucapan “haddatsana” (kami riwayatkan) dan selain itu adalah bisikan-bisikan syetan. Tidak hanya memuliakan ilmu yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah saja, bahkan beliau (Asy Syafi’i) sangat respek dan memberikan penghargaan tinggi kepada orang yang bergelut dengan dunia hadits Rasulullah saw, dikatakan bahwa apabila beliau melihat seseorang yang sibuk dengan hadits, beliau mengatakan “seolah-olah saya melihat salah seorang dari sahabat Rasulullah saw”.

llmu yang paling penting dipahami adalah ilmu tentang Allah Swt, Rasulullah Saw dan dinul Islam, itulah yang sering disebut para ulama “Tiga pokok atau landasan utama” (Al-Ushul Ats-Tsalasah), kenapa utama dan penting dipahami dan tahu ilmunya? Karena ketiga ilmu tersebut sangat erat kaitannya dengan nasib manusia kelak di akhirat. Allah U berfirman, “Allah U meneguhkan (iman) orang – orang yang beriman dengan ucapan yang teguh…”. (Q.S. Ibrahim [14]: 27).

Ayat ini turun menjelaskan tentang azab kubur, maka ditanyakan kepadanya, “Siapa Rabbmu? Dia menjawab, “Rabb saya adalah Allah dan nabi saya adalah Muhammad r. Maka itulah (makna) firman Allah, Allah me- neguhkan (iman) orang- orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”.(H.R. Muslim 4/2201).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan adzab kubur, bahwa ketika manusia dikuburkan, ia akan mendapat pertanyaan tentang Rabb, Nabi dan Din-Nya. Allah U akan memberikan keteguhan kepada orang-orang beriman ketika dihadapkan kepada tiga pertanyaan tersebut. Bagaimana bisa seseorang menjawab pertanyaan-pertanyaan kubur tersebut jika selama hidupnya ia tidak pernah mengenal Allah, Rasulullah dan din-Nya, bagaimana ia bisa diberi keteguhan kalau selama hidupnya ia jauh dari Allah, tidak berusaha mengenal dengan beribadah dan melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya. Ia tidak berusaha mencontoh Rasulullah r, jauh dari sunnahnya bahkan sebaliknya menentang dan anti terhadap sunnahnya yang mulia. Ia tidak berusaha memahami agama yang selama ini diyakini, agama hanyalah sebagai hiasan KTP, kelengkapan pernikahan atau kematian saja, sementara tuntutan dan keharusan dari agama tersebut tidak pernah dimengerti, dipahami dan dilaksanakan sama sekali, bahkan secara tidak sadar dijauhi serta dimusuhi.

Berlindung dari Ilmu yang Tidak Bermanfa’at
Do’a yang diajarkan Rasulullah saw diatas meng kandung hikmah dan kebaikan sangat luar biasa, yang setiap untaian katanya terkait antara yang satu dengan yang lainnya. Kenapa kita berlindung dari empat perkara diatas? yakni berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak ber manfa’at, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak pernah kenyang, dan do’a yang tidak dikabulkan.

Ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang tidak mendatangkan kebaik an kepada pemiliknya atau pun kepada orang lain, ilmu yang menjadikan hatinya tidak memiliki rasa takut dan tunduk kepada Allah. Hati yang tidak tunduk adalah hati yang keras, hati yang tidak bisa dipengaruhi ,hati yang menolak kebenaran. Akibatnya jiwa-jiwa tamak terlahir, jiwa yang tidak pernah merasa kenyang, jiwa yang kosong dari sifat qona’ah atas rizki yang dikaruniakan, dan tidak lagi menghiraukan rambu-rambu halal dan haram, akhirnya darah dan dagingnya tumbuh dari barang yang haram. Ketika berdo’a, do’anya sia-sia serta tidak didengar atau dikabulkan Allah Ta’alaa. Allah memberikan perumpaan orang yang berilmu, tetapi ilmu tersebut tidak memberikan manfaat kepada pemiliknya, “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-titab tebal” (Q.S. Al Jumu’ah [62] : 5). Sebaliknya, ilmu yang bermanfaat ialah ilmu yang menerangi dan menundukan hatinya, menumbuhkan rasa takut di hatinya. Wallahu A’lam bishawab.***Ihsan Kamil, S.Pd /Dewan Dakwah Jakarta