Bekal Meraih Pernikahan yang Bahagia dan Berkah

697

AGAMA adalah landasan utama kebahagiaan suami istri seperti dijelaskan dalam petunjuk Nabi SAW. Ia menjadi tolak ukur pertama dan utama dalam memilih pasangan. Tentang memilih suami Rasulullah bersabda:

Apabila datang kepadamu orang yang kamu ridhai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah ia. Jika kalian tidak melakukannya akan terjadi fitnah di dunia ini dan kerusakan yang meluas”. (HR. Tirmidzi).

Tentang memilih istri rasulullah saw bersabda:

“Perempuan itu dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah yang taat beragama niscaya kamu beruntung”. (HR. Bukhori dan Musim)

Ahir-ahir ini berbagai masalah tentang perkawinan (keluarga) menjadi sorotan penting di masyarakat, berbagai  macam fenomena terjadi akhir-akhir ini yang begitu menghawatirkan perkawinan/keluarga seperti menjadi sesuatu hal yang bisa dijadikan permainan, sehingga berdampak tidak sehat dalam kehidupan berkeluarga. Bagaimana kita menyikapi fenomena ini? Kita akan urai pada kesempatan ini.  “Hadirkan Hikmah, insya Allah perkawinan akan berkah”.

Hikmah itu bahasa kebijaksanaan. Kehadirannya akan menyejukkan, membahagiakan, dan membuat tenang siapa pun yang memaknainya. Dalam bahasa Arab, al-Hikmah artinya sebagai kebijaksanaan, pendapat atau pikiran yang bagus, pengetahuan, filsafat, kenabian, keadilan, peribahasa (kata-kata bijak), dan Al-Quranul karim.

Perilaku menghadirkan hikmah dalam perkawinan tentu merupakan langkah tepat dan bijaksana dalam usaha membangun ikatan tatali asih dalam bangunan keluarga. Sebab, al-hikmah itu juga memiliki makna sebagai kumpulan keutamaan dan kemuliaan yang mampu membuat pemiliknya menempatkan sesuatu pada tempatnya (proposional). Dalam tafsir wa-Bayan, lebih jauh disebutkan al-hikmah merupakan ungkapan dari perbuatan seseorang yang dilakukan pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat pula.

Betapa indahnya bila tiap pasangan perkawinan dapat membangun ikatan keluarganya dengan selalu menghadirkan ilmu hikmah dalam hidup kesehariannya. Wujudnya, seorang suami secara proposional akan selalu berusaha sebaik mungkin memenuhi kewajibannya sebagai suami dan seorang istri pun akan menjalankan perannya sebagai istri yang baik. Demikian pula bila telah hadir seorang anak, sang anak akan berusaha mewujudkan perilaku baktinya secara paripurna terhadap kedua orangtuanya.

Agar ketenangan dan keharmonisan dalam rumah tangga dan pendidikan yang benar bagi anak-anak dapat terjamin, hendaknya seorang pria memilih istri shalihah, berdasarkan iman dan akhlak yang mulia. Sebagaimana firman Allah, QS, An-Nisa, 34:

“Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri  ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)”.

Islam telah mengajukan tokok ukur dalam melilih suami  sebagaimana firman Allah, QS, An-Nuur, 32):

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan”.

Kesalehan seorang perempuan tidak akan terwujud kecuali melalui ketaatan menjalankan agama. Karena agama merupakan dasar/pondasi utama dalam mewujudkan kebahagiaan suami  istri dalam mengarungi rumah tangganya.

Mungkinkah kondisi harmonis yang proposional itu dapat diwujudkan dalam perkawinan kita?  Jawabnya adalah sangat mungkin. Ingat, bukankah pernikahan itu hadir dimaksudkan untuk mewujudkan hubungan dua insan yang berbeda dalam satu bangunan kebahagiaan jiwa dengan cara saling mengisi sesuai fungsinya masing-masing dalam tatanan keluarga?

Di sini, kuncinya ada pada bagaimana derajat komitmen di antara pasangan itu direkatkan untuk memerankan fungsinya masing-masing secara proposional dalam balutan kasih sayang. Dengan kata lain, meminjam bahasa Linda J Waite (2003), secara keseluruhan, pria dan wanita tidak diciptakan untuk hidup sendiri dan perkawinanlah yang membuat semua orang lebih bahagia.

Pernikahan akan memberikan ketentraman. Allah SWT berfirman yang artinya:

Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpiki”. (QS. Ar-Rum:21).

Fasilitas ketentraman itu akan Allah berikan terhadap setiap umat manusia yang telah melakukan pernikahan sesuai dengan ketentuan-Nya. Oleh karena itu, keadaan ini harus selalu dijaga dan dipelihara, sebab orang yang telah menikah tidak semuanya (segera)  mendapatkan fasilitas tersebut, karena mereka tidak mampu memaksimalkan potensi akal pikiran dalam membangun tatanan keluarganya.

Kehadiran rasa bahagia dalam perkawinan itu didasarkan atas adanya rasa sama-sama memiliki ikatan jiwa di antara pasangan dan hal ini menjadi landasan penting bagi terwujudnya kondisi kesehatan mental dalam sebuah ikatan perkawinan. Dalam arti lain, perkawinan yang memiliki kesehatan mental yang bagus merupakan cerminan dari perkawinan yang baik. Dari kondisi seperti ini, selanjutnya akan terjalin ikatan jiwa yang kokoh dan akan memberi pasangan itu perasaan bahwa apa pun yang mereka lakukan akan memiliki arti. Tepatnya seseorang akan peduli, menghormati, membutuhkan, mencintai, dan menghargai mereka sebagai satu pribadi.

Berdasarkan paparan di atas tidak berlebihan bila tiap pasangan perkawinan wajib mengamalkan ilmu hikmah dalam perilaku keseharian perahu perkawinannya sehingga rumah tangganya mampu berlabuh hingga ke tepian. Dalam Islam sendiri disebutkan perkawinan itu mengandung banyak hikmah dan manfaat. Akhirnya, dalam usaha menghadirkan hikmah agar perkawinan berkah ini, kita bisa merenungi dan memaknai terhadap empat hikmah dan manfaat pernikahan yang diungkapkan oleh Majid Sulaiman Daudin (1996), yaitu:

Pertama, memperoleh keturunan. Dengan adanya keturunan tersebut, manusia berada pada dimensi kebersamaan dan karenanya manusia merasa senang, gembira dan terhindar dari rasa sepi dan menyendiri.

Kedua, membentengi diri dari setan, melepaskan kerinduan, menolak kejahatan-kejahatan nafsu, memelihara pandangan mata, dan kehormatan. Dengan begitu, manusia tidak mudah tertular penyakit dan dapat menikmati kehidupan tanpa merasa terancam dan terbelenggu nafsu syahwat.

Ketiga, menyenangkan jiwa. Jiwa yang memperoleh kesenangan akan melahirkan hati yang terhibur. Hal itu akan memberi kekuatan untuk tekun beribadah dan bekerja dengan beramal shaleh.

Keempat, melatih diri untuk mengatur, memperhatikan, mengurus dan melaksanakan hak-hak anggota keluarga, kemudian berlaku sabar terhadap akhlak mereka, berusaha memperbaiki mereka, menunjukkannya ke jalan yang benar selalu menjadii tauladan bagi keluarga, dan mencari rezeki yang halal buat mereka. Wallahu’alam bishawab. *** Dra.Hj.Nia Kurniati Syam, M.Si.