Badruzzaman Busyairi dan Dewan Dakwah

804

Satu lagi generasi kedua Dewan Dawah telah tiada. Badruzzaman Busyairi atau yang biasa dipanggil mas Badruz dikenal bukan saja sebagai jurnalis muslim dan penulis buku saja. Ia pun tidak dapat dipisahkan dari gerakan dawah Dewan Dawah Islamiyah Indonesia.

Oleh: Mursin MK.

Satu lagi generasi kedua Dewan Dawah telah tiada. Badruzzaman Busyairi atau yang biasa dipanggil mas Badruz dikenal bukan saja sebagai jurnalis muslim dan penulis buku saja. Ia pun tidak dapat dipisahkan dari gerakan dawah Dewan Dawah Islamiyah Indonesia.
Mantan wartawan Abadi koran terbitan aktifis Masyumi yang berkantor di jalan Kramat 45 Jakarta ini tak pernah diam berdawah dan berjuang membela Islam dan ummatnya.
Mas Badruz tidak hanya aktif berdawah bil qalam tapi juga bil lisan dan bil lisanul hal. Dalam dawah bil qalam telah banyak tulisan tulisannya tentang Islam khusus yang berkait dengan sejarah, baik dalam bentuk artikel atau pun buku. Dengan pengalamannya yang panjang di dunia jurnalistik sudah biasa lakukan tulis menulis. Beberapa majalah, Panjimas, Media Dawah, Salam dan lain lain menjadi medan dawah bil qalamnya, termasuk mengelola Bulletin Dawah.

Media dawah yang satu ini terbit dan berkembang pesat karena sentuhan tangan dingin HM. Yunan Nasution, mantan Sekretaris Jendral DPP Masyumi zaman M. Natsir dan Prawoto Mangkusasmito sebagai Ketua Umumnya. Beliau juga ulama yang berpengalaman dalam dunia jurnalistik seangkatan Prof Hamka dan pernah sama aktif dalam majalah Panji Islam dan Panji Masyarakat.
[07:47, 5/20/2017] Muksin mk: Setelah Masyumi membubarkan diri karena tekanan pemerintah Soekarno maka para pimpinannya banyak yang ditangkap dan dijebloskan dalam penjara, termasuk Hamka dan Yunan Nasution.

Selepas dari penjara di zaman Orde Baru, mereka berbagi tugas dalam dawah sebagai kelanjutan perjuangan politik Islam. Natsir bersama tokoh Masyumi yang lain mendirikan Dewan Dawah. Prawoto aktif dalam wadah Syarikat Tani Islam (STI). Hamka dan Kasman Singodimejo kembali ke Muhammadiyah. Isa Anshari ke Persis. Hasan Basri bersama Hamka mengelola Yayasan Islam Al Azhar. Hamka menjadi imam besarnya.
Yunan Nasution ikut Natsir dalam Dewan Dawah. Ia dipercaya menjadi Ketua Dewan Dawah Perwakilan Jakarta, Rusyad Nurdin perwakilan Jabar, KH. Misbah perwakilan Jatim, Datuk Panglimo Kayo perwakilan Sumbar. Dr. Anwar Haryono SH. menjadi Direktur Lembaga Keadilan Hukum (LKH) Muhammadiyah, kemudian diangkat sebagai Wakil Ketua Dewan Dawah, mendampingi Natsir.

Setelah Masyumi membubarkan diri karena tekanan pemerintah Soekarno maka para pimpinannya banyak yang ditangkap dan dijebloskan dalam penjara, termasuk Hamka dan Yunan Nasution.

Selepas dari penjara di zaman Orde Baru, mereka berbagi tugas dalam dawah sebagai kelanjutan perjuangan politik Islam. Natsir bersama tokoh Masyumi yang lain mendirikan Dewan Dawah. Prawoto aktif dalam wadah Syarikat Tani Islam (STI). Hamka dan Kasman Singodimejo kembali ke Muhammadiyah. Isa Anshari ke Persis. Hasan Basri bersama Hamka mengelola Yayasan Islam Al Azhar. Hamka menjadi imam besarnya.
Yunan Nasution ikut Natsir dalam Dewan Dawah. Ia dipercaya menjadi Ketua Dewan Dawah Perwakilan Jakarta, Rusyad Nurdin perwakilan Jabar, KH. Misbah perwakilan Jatim, Datuk Panglimo Kayo perwakilan Sumbar. Dr. Anwar Haryono SH. menjadi Direktur Lembaga Keadilan Hukum (LKH) Muhammadiyah, kemudian diangkat sebagai Wakil Ketua Dewan Dawah, mendampingi Natsir.

Untuk mendampingi Yunan Nasution sebagai sekretaris Dewan Dawah perwakilan Jakarta diangkat mas Badruz yang dikenal teliti dan rapih dalam hal administrasi dan tulis menulis. Kader Sumarso Sumarsono pemred Abadi yang pernah mendekam dalam tahan Orde Baru dan korannya dibredel ini termasuk kader Masyumi yang militan. Wajarlah jika mas Badruz yang low profile ini tekun dan aktif bersama Yunan Nasution dalam menggerakkan Dewan Dawah Jakarta.

Keterlibatan mas Badruz dalam Dewan Dawah tidak hanya dalam organisasi dan dawah bil qalam saja. Ia pun terlibat dalam pembinaan khatib dan mubaligh yang berada di bawah naungan Dewan Dawah Jakarta. Bahkan ia juga terjun dalam dawah bil lisan sebagai khatib dan mubaligh. Ia termasuk salah satu khatib dan penceramah tidak hanya di Masjid Al Furqan tapi Masjid Agung Al Azhar di wilayah elit Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Tentu bukan hanya dua masjid itu saja juga di tempat lain. Uraiannya yang berkaitan sejarah Islam dan ummat Islam di Indonesia cukup menarik. Ia bukan hanya pandai mengolah kata dan kalimat dalam tulisannya saja tentang sejarah, tapi juga dalam uraian lisannya. Disini kemampuan mas Badruz berbeda dengan kader Dewan Dawah yang lain. Ustadz dan mubaligh Dewan Dawah ada yang hanya pandai berdawah dengan lisannya saja, bahkan memukau. Tapi menulis tidak. Mas Badruz maa syaa Allah tulisannya menarik dan ceramahnya memukau bila bicara tentang sejarah Islam dan perjuangan ummat.

Sebagai aktifis Dewan Dawah mas Badruz tidak hanya berada dalam markaz saja. Terkadang mewakili Ketua HM Yunan Nasution dalam pertemuan eksternal. Sebagai mantan wartawan tentu tidak asing lagi berhadapan dengan pihak luar dan masyarakat umum. Karena itu ia kerap mewakili Dewan Dawah Jakarta dalam pertemuan dengan organisasi Islam yang lain dan pemerintah.

Karena kemampuannya dalam menulis sejarah, terutama sebelum Lukman Hakim bergabung di Dewan Dawah, mas Badruz yang kerap diminta menulis biografi tokoh tokoh Dewan Dawah. Setidaknya biografi HM. Yunan Nasution, Burhanuddin Harahap dan RHO Junaedi yang ditulisnya. Semua biografi tulisannya itu kini bisa dibaca dan dicari di Perpustakaan Dewan Dawah Pusat, di Gedung Menara Dawah.

ustadbadruz
Ustadz Badruzzaman Busyairi (1952-2017)

Kepribadiannya yang halus dan lembut telah memberikan warna tersendiri sebagai da’i Dewan Dawah. Sikap menghormati orang lain baik senior atau yuniornya di Dewan Dawah benar benar menjadi uswatun hasanah. Tegur sapa dengan senyum ramah senantiasa tercermin dari wajahnya. Ia tidak menunjukkan kesombongan diri apalagi sebagai pendamping tokoh Masyumi dan penulis handal. Rendah hati dan sopan santun tetap dijaga baik di kantor maupun di rumahnya. Ia pun tak suka membicarakan orang lain yang tidak hubungannya dengan sejarah. Pemahamannya tentang sejarah Islam dan perjuangan ummatnya di Indonesia cukup dikuasainya. Mungkin ini buah dari pergaulannya dengan Yunan Nasution dan tokoh Masyumi yang dikenal kepribadian, ilmu dan intelektualitasnya.
Dengan kepergiannya kita telah kehilangan pakar sejarah otodigdag yang diperlukan ummat dalam membuka cakrawala berfikir dan menempa jiwa Islami. Selamat jalan mas Badruz. Semoga kader penerus akan bermunculan melanjutkan perjuangan yang kau tinggalkan.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.

(Depok, 20 Mei 2017).

Red : Amso